Sunda 20% Persen
Hawe Setiawan Tribun Jabar, Kamis, 3 Juli 2009 KATA si empunya berita, ada sebuah tim yang dibentuk urang Sunda. Tim ini, kabarnya, minta "jatah hingga 20 persen dari total susunan menteri dan pejabat tinggi" kepada presiden terpilih nanti (Tribun Jabar, 27 Juni 2009, hal. 16). Kebetulan, berita itu saya dapatkan ketika terlonjak-lonjak di dalam mobil Mang Cecep yang mengarah ke pinggiran kota. Jalan yang kami lalui jelek sekali, sarat lobang di sana-sini. Tanpa AC, mobil itu seperti tungku, dipanggang teriknya siang. Di samping sopir, duduk penyair Karno Kartadibrata. Saya sering menyapanya, Bung Karno. Pemimpin besar majalah Mangle itu tenang-tenang saja seperti sedang merenungi revolusi. Saya sendiri kesal sekali: sudah tak nyaman ditambah sesat jalan. Lambat laun, di balik punggung Bung Karno, saya mengatasi rasa kesal dengan membayangkan diri saya jadi presiden RI. Seketika terlintas ide sederhana: bagaimana sekiranya ada sejumlah orang minta jatah kepada saya? Sebagai presiden berbudi, cepat tanggap plus prorakyat, tentu, saya merasa kasihan. Saya tak sampai hati membiarkan tangan yang menadah minta jatah. Lagi pula, di tengah zaman BLT ini, tangan yang menadah selalu menyadarkan saya akan gawatnya gejala kemiskinan. Adapun kemiskinan, jelas, punya cakupan luas, mulai dari miskin sandang, pangan dan papan hingga miskin kreativitas dan gagasan. Bahkan, Si Jenggot Karl Marx dulu melihat pula adanya "kemiskinan filsafat" (the poverty of philosophy). Saya pun mafhum bahwa berdasarkan amanat konstitusi, fakir miskin sepatutnya diurus negara. Karena itu, sebagai kepala negara, saya bertekad memupus kemiskinan dalam segala matranya. Salah satu caranya adalah memperluas pendidikan agar nalar terkembang dan sikap kreatif terbentang. Tiba-tiba, lamunan saya buyar ketika lalu lintas tersendat di jalan yang sempit tapi padat. Beberapa pemuda bergerombol di sekitar persimpangan jalan itu. Mereka tampaknya menguasai lingkungan setempat. Salah seorang di antaranya sibuk mengarahkan lalu lintas. Ketika mobil kami melewatinya, Mang Cecep tak lupa memberinya uang recehan. Akhirnya, kami sampai di tujuan: sebuah balai terbuka di antara hamparan sawah dan sebuah kolam ikan air tawar. Beberapa lelaki tampak memancing di tepi kolam. Tuan rumah, Setia Permana, menyambut kami ramah sekali. Ia mengenakan T-Shirt putih dan celana panjang yang military look. Siang itu, Kang Tia memang mengundang kami dan sejumlah teman lain buat bertukar pikiran sambil makan siang di tepi kolam. Ini sejenis selamatan, sebetulnya. Maklumlah, Kang Tia sedang gembira sebab baru saja terpilih sebagai anggota parlemen RI. Karena itu, ia berpikir, perlu mendapat "bekal" dari kalangan yang mengenalnya di Jawa Barat. "Inilah susahnya jadi rakyat," seloroh saya ketika mendapat giliran bicara. "Sudah harus berpanas-panasan pergi ke TPS, harus memberikan bekal pula." Baiklah, seperti halnya Kang Acil, Kang Dindin Maolani dan Pak Arif Sidarta, saya pun ikut menyampaikan beberapa usul kepada Kang Tia. "Usul saya yang pertama dan terpenting buat Kang Tia: segeralah mengundurkan diri, Kang. Paling tidak, mengundurkan diri dari kecenderungan umum anggota parlemen sejauh ini," seloroh saya. Tak lama setelah bertukar canda, saya dan teman-teman, antara lain seniman Herry Dim dan penyair Dedi Koral, pamit pulang. Di tempat parkir Kang Tia sempat menawari kami ikan mas segar untuk dibawa pulang. Tapi, secara rendah hati, kami menolak pemberian itu. Saya sendiri berpikir, kurang patut rasanya jika orang lain yang berpanas-panasan memancing, sedang saya enak-enak saja mendapat jatah ikan tangkapan. Entahlah, seberapa besar prosentase Sunda dalam sikap saya. Sepuluh, dua puluh? ***

