Manusia Belum Pernah Mendarat di Bulan?
Senin, 13 Juli 2009 | 06:22 WIB

Oleh Rakaryan Sukarjaputra

KOMPAS.com — Empat puluh tahun telah berlalu sejak dunia dikejutkan
oleh kabar keberhasilan pendaratan Apollo 11 di Bulan. Benarkah
astronot Neil Armstrong telah menjejakkan kakinya di satelit Bumi
tersebut?

Pertanyaan menggelitik itu memang terus menyertai kisah misi Apollo 11
dan pendaratannya di permukaan Bulan pada 21 Juli 1969.

Kemudian, astronot Neil Armstrong dan Edwin ”Buzz” Aldrin berjalan di
permukaan Bulan. Cuplikan video menggambarkan Armstrong mengibarkan
bendera Amerika Serikat dan melompat-lompat. Aksi ini menegaskan
keberhasilan pendaratan manusia di Bulan.

Sejumlah pihak menyangsikan pendaratan itu. Cuplikan video tersebut
penuh dengan keganjilan. Ada yang menganggap video itu tidak dibuat di
Bulan, tetapi di sebuah tempat khusus di sekitar Negara Bagian
Arizona, AS.

Astronom Phil Plait termasuk yang sangsi. Dia memberikan penjelasan
pada sebuah program radio ”Are We Alone” yang dikelola SETI Institute.
Ini adalah lembaga nirlaba di California, AS, yang fokus pada
penjelasan keberadaan makhluk pintar lain di jagat raya.

Plait mengatakan, ada pihak yang skeptis dengan mempertanyakan
foto-foto Armstrong dan Aldrin yang memperlihatkan langit tanpa
bintang. ”Tidak ada atmosfer di Bulan sehingga bintang-bintang
seharusnya terlihat lebih terang.”

Pihak yang skeptis juga mempersoalkan bendera AS dalam cuplikan video
yang tampak berkibar, padahal di Bulan tidak ada udara.

Mereka juga mengajukan teori bahwa para astronot mungkin sudah
terpanggang radiasi ketika menembus sabuk Van Allen dalam perjalanan
ke Bulan.

Kepercayaan melemah

Sebenarnya kepercayaan soal pendaratan di Bulan itu sudah semakin
lemah dalam beberapa tahun terakhir. Isu ini mencuat kembali ketika TV
Fox pada 2001 menyiarkan sebuah program yang diberi judul ”Conspiracy
Theory: Did We Land on the Moon?”

Acara TV Fox itu, kata Dr Tony Philips, pada situs scie...@nasa,
menggambarkan betapa Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) tidak
lebih dari sekadar ”produser film yang tolol”.

Semua kesangsian itu telah sering dijawab langsung Armstrong, komandan
misi Apollo 11. Tokoh kelahiran Wapakoneta, Ohio, 5 Agustus 1930, itu
bersama astronot Buzz Aldrin mengaku telah menikmati permukaan Bulan
selama 2,5 jam.

Di Bulan, mereka berdua menancapkan bendera AS dan sebuah spanduk
bertuliskan ”Di sini manusia dari planet Bumi menginjakkan kakinya
pertama kali. Kami datang dengan damai untuk seluruh umat manusia”.

Mengapa awalnya banyak yang percaya? Bagi AS, pendaratan di Bulan
adalah sebuah pencapaian besar yang membuat AS seolah-olah unggul dari
pesaing utama ketika itu, Uni Soviet, dalam program luar angkasa.

Bagi salah satu pesaing AS saat ini, Rusia, teori konspirasi mengenai
kebohongan pendaratan di Bulan tahun 1969 itu menjadi semakin populer.
Rusia membuat sejumlah situs bahkan film-film dokumenter di televisi
untuk menyampaikan kebohongan besar pendaratan di Bulan itu.

Konstelasi

Boleh jadi, hal itu pula yang membuat mantan Presiden AS George W Bush
memutuskan untuk menghapuskan penerbangan pesawat ulang alik pada 2010
setelah musibah pesawat ulang alik Columbia pada 2003.

Sebagai gantinya, Bush pada 2004 meluncurkan program lebih ambisius,
Constellation (Konstelasi), yang bertujuan membawa warga AS kembali ke
Bulan pada 2020, dan menggunakan Bulan sebagai tempat peluncuran
pesawat luar angkasa berawak manusia menuju Mars.

Michael Griffin, mantan pemimpin NASA yang mendorong program
Constellation, menjelaskan, pesawat ulang alik membuat AS bertahan
terlalu lama pada penerbangan luar angkasa di orbit rendah, padahal
kini muncul pesaing baru dalam program luar angkasa, antara lain
China. ”Kita (AS) harus kembali ke Bulan karena itu adalah langkah
berikutnya. Bulan hanya beberapa hari dari rumah. Mars hanya beberapa
bulan dari Bumi,” papar Griffin.

Sayangnya, anggaran NASA tidak cukup untuk membiayai pembuatan kapsul
Orion Constellations, kapsul yang lebih maju dan lebih besar ketimbang
versi kapsul Apollo. NASA juga kekurangan biaya untuk menyiapkan roket
peluncur Ares I dan Ares V yang diperlukan untuk mengirim kapsul itu
ke orbit.

Biaya keseluruhan Constellation itu diperkirakan 150 miliar dollar AS.
Anggaran eksplorasi luar angkasa AS pada 2009 hanya 6 miliar dollar
AS.

Wajar apabila Senator Bill Nelson (Florida) menegaskan, NASA tidak
akan bisa melakukan tugas yang diberikan kepadanya, yaitu berada di
Bulan pada 2020. Senator yang mantan astronot itu bahkan
mengkhawatirkan, saat program pesawat ulang alik berakhir, AS tak akan
bisa mengirimkan astronotnya ke stasiun luar angkasa ISS, kecuali
menumpang Soyuz milik Rusia.

Hal itu tentu menjadi kabar buruk bagi NASA dan khususnya Armstrong
yang tentu tidak ingin pendaratannya di Bulan menjadi bahan
olok-olokan. Meski demikian, ada cara pembuktian lebih sederhana,
yaitu menemukan kembali bendera dan spanduk yang ditancapkan Armstrong
itu dengan teleskop dari Bumi. Tentu dengan harapan bendera itu masih
tertancap di tempatnya. (AFP)

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/07/13/0622025/manusia.belum.pernah.mendarat.di.bulan

Kirim email ke