Pendaratan di Bulan: Akal Sehat Vs Teori Konspirasi
Rabu, 15 Juli 2009 | 04:43 WIB

Oleh NINOK LEKSONO

KOMPAS.com — Pendaratan di Bulan—yang pertama dilakukan oleh astronot
Amerika Serikat, Neil Armstrong, 20 Juli 1969—telah dicatat dalam
sejarah sebagai salah satu pencapaian paling besar dari umat manusia.
Namun, kini, setiap kali orang ingin merayakannya, berseliweran
artikel yang melecehkannya. Kini memang dikenal istilah ”kontroversi
pendaratan di Bulan”, atau malah ”The Great Moon Hoax” atau
”Kebohongan Bulan yang Hebat”.

Menurut Dr Tony Phillips, seorang pendidik sains, di situs
scie...@nasa, semua bermula ketika stasiun televisi Fox menayangkan
program TV berjudul "Conspiracy Theory: Did We Land on the Moon?", 15
Juli 2001. Sosok yang tampil dalam tayangan itu menyatakan bahwa
teknologi Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) pada tahun 1960-an
belum mampu untuk mewujudkan misi pendaratan di Bulan yang
sesungguhnya. Namun, karena tidak ingin kalah dalam lomba ruang
angkasa dalam konteks Perang Dingin, NASA lalu menghidupkan Program
Apollo di studio film.

Dalam skenario ini, langkah pertama Neil Armstrong yang bersejarah di
dunia lain, juga pengembaraan dengan kendaraan Bulan, bahkan ayunan
golf astronot Al Shepard di Fra Mauro (salah satu tempat di Bulan)
semua palsu!

Ya, menurut acara TV Fox di atas, NASA menjadi produser film yang
bloon 30 tahun sebelumnya (dari saat acara tersebut ditayangkan tahun
2001). Sebagai contoh, pakar dalam acara Conspiracy Theory menunjuk
bahwa dalam foto astronot yang dikirim dari Bulan tidak menampakkan
bintang-bintang di langit Bulan yang gelap. Apa yang terjadi? Apakah
pembuat film NASA lupa menyalakan konstelasi bintang?

NASA menyebutkan, perkara itu sudah dijawab oleh fotografer bahwa
memang sulit untuk memotret satu obyek yang sangat terang dan satu
obyek lain yang sangat redup di lembar film yang sama karena memang
emulsi film pada umumnya tidak punya cukup ”rentang dinamik” untuk
mengakomodasi obyek yang sangat berbeda tingkat terangnya. Astronot
dengan pakaian angkasanya jadi obyek yang terang, dan kamera yang
diset untuk memotret mereka akan membuat bintang-bintang latar
belakang terlalu lemah untuk dilihat.

Lainnya yang dipersoalkan adalah foto astronot yang menancapkan
bendera di permukaan Bulan, mengapa benderanya seperti berkibar
bergelombang? Mengapa bisa terjadi demikian, padahal tidak ada angin
di Bulan? Dijelaskan, tidak semua bendera yang berkibar membutuhkan
angin. Itu karena astronot—ketika menanam tiang
bendera—memutar-mutarnya agar menancap lebih baik. Itu membuat bendera
berkibar.

NASA dalam kaitan tuduhan rekayasa pendaratan Bulan ini mempersilakan
siapa pun yang tetap meragukan pendaratan di Bulan untuk mengakses
situs-situs BadAstronomy.com dan Moon Hoax, yang merupakan situs
independen, tidak disponsori NASA. Astronom Martin Hendry dari
Universitas Glasgow dalam edisi khusus ”40 Tahun Pendaratan di Bulan”
Knowledge yang diterbitkan BBC juga menguraikan lagi tangkisan
terhadap Teori Konspirasi.

Akal sehat

Namun, menurut Tony Phillips, bantahan paling baik atas tuduhan
Kepalsuan Bulan ini adalah akal sehat. Ada selusin astronot yang
berjalan di Bulan antara 1969 dan 1972. Di antara mereka masih ada
yang hidup dan bisa memberikan kesaksian. Mereka juga kembali ke Bumi
tidak dengan tangan kosong. Astronot Apollo membawa kembali 382 kg
batu Bulan ke Bumi.

Kalau orang meragukan batu ini dari Bulan, Ilmuwan Kepala di Sains dan
Eksplorasi Planet di Pusat Ruang Angkasa Johnson David McKay
menegaskan bahwa batuan Bulan sangat unik, jauh berbeda dengan batuan
Bumi. Pada sampel Bulan tadi, menurut Dr Marc Norman, ahli geologi
Bulan di Universitas Tasmania, hampir tidak ada tangkapan air di
struktur kristalnya. Selain itu, mineral lempung yang banyak dijumpai
di Bumi sama sekali tidak ada di batuan Bulan. Sempat ditemukan
partikel kaca segar di batuan Bulan yang dihasilkan dari aktivitas
letusan gunung berapi dan tumbukan meteorit lebih dari 3 miliar tahun
silam. Adanya air di Bumi dengan cepat memecahkan kaca vulkanik
seperti itu hanya dalam tempo beberapa juta tahun.

Mereka yang pernah memegang batu Bulan—kalau di AS, seperti yang ada
di Museum Smithsonian—dipastikan akan melihat bahwa batu tersebut
berasal dari dunia lain karena batu yang dibawa angkasawan Apollo
dipenuhi kawah-kawah kecil dari tumbukan meteoroid, dan itu menurut
McKay hanya bisa terjadi pada batuan dari planet (atau benda langit
lain) dengan atmosfer tipis atau tanpa atmosfer sama sekali, seperti
Bulan.

Dalam jurnal Knowledge, Martin Hendry masih mengemukakan sederet
tangkisan terhadap argumen yang diajukan oleh penganut Teori
Konspirasi, seperti tentang sudut bayangan dalam foto yang aneh.
Lainnya lagi yang dijawab adalah mengapa tidak ada kawah ledakan di
bawah modul Bulan (yang disebabkan oleh semburan roket modul
pendarat); lalu juga mengapa sabuk radiasi Bumi tidak menyebabkan
kematian pada astronot? Yang terakhir, mengapa tidak ada semburan
bahan bakar yang tampak ketika modul pendarat lepas landas
meninggalkan Bulan? Jawabannya karena modul Bulan menggunakan bahan
bakar aerozine 50, campuran antara hidrazin dan dimethylhydrazine
tidak simetri yang menghasilkan asap tidak berwarna, meski kalau ada
warna sekalipun kemungkinan besar juga tak terlihat dengan latar
belakang permukaan Bulan yang disinari Matahari.

Masa depan

Kini, umat manusia kembali berada dalam satu lomba angkasa baru. Dalam
lomba sekarang ini, Bulan tak hanya menjadi destinasi akhir, tetapi
akan dijadikan sebagai batu lompatan untuk menuju destinasi lebih
jauh, misalnya Planet Mars.

Tahun 2004, Presiden (waktu itu) George W Bush mencanangkan Kebijakan
Eksplorasi Angkasa yang sasarannya adalah kembali ke Bulan tahun 2020
dan selanjutnya ke Mars. Jepang tahun 2005 juga mencanangkan tekad
serupa, pada tahun 2025. Kekuatan antariksa lain yang harus disebut
dan juga telah menyatakan tekad mendaratkan warganya di Bulan adalah
Rusia, China, dan India, juga tahun 2020.

Dalam perspektif inilah terlihat bagaimana bangsa-bangsa besar dunia
bekerja keras mewujudkan impian besar. Ruang angkasa sebagai
Perbatasan Terakhir (The Final Frontier) tidak saja menjanjikan
prestise, tetapi juga masa depan, dan keyakinan bahwa, dengan bisa
hadir di sana, ada banyak perkara di Bumi yang akan bisa ikut dibantu
penyelesaiannya.

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/07/15/04431940/Pendaratan.di.Bulan.Akal.Sehat.Vs.Teori.Konspirasi

Kirim email ke