Di bandung mah macet meureun bu. Numawi mendingan naek rakit waei, pan sering 
banjir.

--- Pada Kam, 13/8/09, mh <[email protected]> menulis:

Dari: mh <[email protected]>
Judul: [Urang Sunda] Transportasi Bandung?
Kepada: "Ki Sunda" <[email protected]>, "Baraya Sunda" 
<[email protected]>, "Urang Sunda" <[email protected]>
Tanggal: Kamis, 13 Agustus, 2009, 9:06 AM












 
 




    
                  Pelayanan Transportasi

Di Bogor Bisa di Bandung Kapan?



Sudah sejak lama masyarakat disuguhi wacana soal moda transportasi

massal yang nyaman, aman, dan terjangkau. Mulai dari rencana Trans

Metro Bandung (TMB) sampai dengan wacana soal monorail. Akan tetapi,

hingga saat ini belum ada yang terealisasi.



Bahkan rencana operasionalisasi TMB sempat terjungkal. Padahal, bus

rapid transit TMB (bus yang tepat waktu dan hanya berhenti di shelter

dan terminal yang ditentukan -red.) juga digadang-gadang sebagai

alternatif jalan keluar kemacetan di Kota Bandung. Walhasil, hingga

kini bus-bus TMB bantuan dari Departemen Perhubungan masih menganggur.

Padahal, bantuan yang sama juga diberikan kepada Kota Bogor dan DI

Yogyakarta yang kini telah beroperasi.



Tidak hanya di Kota Bandung, di Bogor kehadiran bus rapid transit

Trans Pakuan juga sempat mengalami kebuntuan. Sepuluh bus dari 30 bus

yang dimiliki Kota Bogor merupakan satu generasi dengan bus yang juga

diberikan oleh Dephub untuk Kota Bandung pada 2006. Kebuntuan itu

menyebabkan Trans Pakuan baru bisa beroperasi 1,5 tahun kemudian,

yaitu Juni 2007.



"Wajar jika awalnya ada yang menolak, mereka khawatir akan menurunkan

pendapatan mereka. Sebenarnya penolakan itu terjadi karena mereka

belum paham konsepnya. Setelah kita berkomunikasi pada akhirnya mereka

mengerti," Kepala Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi (Dishub

Infokom) Kota Bogor Achmad Syarief.



Dilihat dari luasnya, Kota Bogor sebenarnya bukan kota besar. Luasnya

hanya 11.850 hektare, terdiri atas 48 kelurahan yang tersebar di enam

kecamatan. Kota Bogor dalam perjalanannya menjelma menjadi kota yang

padat penghuni. Dengan penduduk mencapai lebih dari 944.000 orang,

kepadatannya mencapai 7.968 jiwa/km2.



Pada awalnya, penduduknya banyak bergantung pada transportasi umum.

Dengan demikian, angkutan kota di Bogor tumbuh bak cendawan di musim

hujan. Jumlahnya sempat mencapai lebih dari 3.500 unit. Kini jumlah

kendaraan pribadi pun meroket. Sepeda motor saja jumlahnya lebih dari

4.000. Belum lagi kendaraan roda empatnya.



Jika pertumbuhan ini dibiarkan, jangan harap bisa berlalu lintas

nyaman di jalanan Kota Bogor. Apalagi jika tidak memiliki kendaraan

pribadi. Kondisi itu akan merugikan sopir dan pengusaha angkot. Mereka

akan kesulitan mencari penumpang. Barangkali hanya terisi 30%.

Akhirnya mereka harus mengetem berlama-lama di jalanan. Pada

gilirannya penumpang akan dirugikan.



"Oleh karenanya, kami berkomitmen untuk perlahan mengganti angkot

dengan transportasi massal, targetnya 2013. Memang ini bukan hal

mudah, tantangannya di sini angkotnya banyak, kendaraan pribadi juga

banyak. Tetapi memang harus disosialisasikan, secara persuasif maupun

edukatif. Minimal Organda Kota Bogor harus tahu kebijakan kita. Selain

itu, juga mengondisikan agar sopir-sopr tahu jenis angkutan baru ini,"

kata Syarief.



Masa sosialisasi dilakukan selama tiga bulan, sejak April hingga Juni

2007. Pada minggu pertama uji coba Trans Pakuan dikawal penuh oleh

aparat. Dengan demikian, Trans Pakuan dipastikan aman saat berhenti di

shelter dan melewati jalur-jalur angkot. "Setelah seminggu sudah tidak

perlu dijaga lagi," ujarnya.



Gejolak yang sebelumnya sempat timbul, tidak sempat meluas. Apalagi

sopir Trans Pakuan semuanya berasal dari sopir angkot. Cara ini

nyatanya terbukti efektif mengatasi riak-riak di akar rumput.



Pengoperasian Trans Pakuan juga tidak muluk-muluk. Tidak ada jalur

khusus, menggunakan jalan yang sama dengan angkot ataupun kendaraan

pribadi. Izin penggunaan jalan pun tidak sulit didapat.



Setelah dinilai siap, Trans Pakuan pun dioperasikan pada Juni 2007,

bertepatan dengan ulang tahun Kota Bogor. Selanjutnya, operasional

Trans Pakuan diserahkan pada Perusahaan Daerah Jasa Transportasi

(PDJT), BUMD yang khusus dibentuk oleh Pemkot Bogor untuk mengelola

Trans Pakuan.



"Hanya Trans Pakuan yang pengelolaannya oleh BUMD. Di Yogyakarta dan

Jakarta dikelola oleh Badan Layanan Umum (BLU) yang mendapatkan dana

dari pemerintah. Karena BUMD maka harus menghidupi diri sendiri," kata

Hari Harsono, Direktur PDJT.



Pendirian PDJT dialokasikan dana Rp 30 miliar oleh Pemkot Bogor.

Jumlah itu sudah termasuk aset berupa 30 bus senilai Rp 9 miliar,

kantor dan kelengkapannya. Namun demikian, saat ini dana yang sudah

diterima baru Rp 14 miliar. "Untuk apa banyak-banyak kalau segitu

sudah cukup," katanya.



Dengan harga karcis Rp 3.000,00, saat ini pendapatan PDJT sudah

mencapai Rp 10 juta per hari. Biaya tersebut sudah mampu menutupi

biaya operasional. Termasuk menggaji 82 karyawannya. Namun, belum

mencapai break even point (BEP) sebab belum menutup biaya

penyusutannya. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, diperkirakan

BEP baru tercapai setelah 4 tahun 3 bulan.



Mengingat PDJT juga harus menghasilkan laba, perlu dilakukan

efisiensi. Salah satunya dengan diterapkannya sistem kondektur, bukan

sistem loket di tiap shelter. "Di Yogyakarta, di tiap shelter itu

setidaknya ada lima petugas dalam dua shif kerja, untuk loket,

pemeriksaan, dan satpam. Dikalikan berapa shelter itu? Karena mereka

BLU, ya bisa saja karena ada bantuan dari pemerintah. Sementara kita

kan BUMD, jadi tidak bisa begitu. Tetapi, tidak apa-apa, yang penting

shelter itu sudah cukup nyaman bagi penumpang," katanya.



Saat ini setidaknya terdapat 32 shelter di dua rute Trans Pakuan. Ada

yang berupa shelter sederhana, ada juga yang sudah bagus. Akan tetapi,

semuanya sudah merupakan bangunan tetap yang terdapat atap serta

pijakan yang tingginya disesuaikan dengan bus yang digunakan.

Pembangunannya menggunakan anggaran daerah, namun Hari tidak berkenan

membuka angka pastinya.



"Sekarang saya sudah dikasih bus senilai Rp 9 miliar, kalau saya harus

mengeluarkan uang supaya bus itu bisa jalan ya wajar kan? Yang

penting, bagaimana kemacetan di kota itu bisa terurai," katanya.



Ia mengatakan, tidak menutup kemungkinan pendapatan bertambah dari

pemasang iklan di shelter maupun bus Trans Pakuan. "Tetapi kami tidak

menerima iklan rokok. Sementara selama ini baru rokok yang tertarik

pasang iklan," katanya.



Namun demikian, Syarief menegaskan, Trans Pakuan bukan satu-satunya

jalan yang bisa memecahkan masalah transportasi di Kota Bogor. Harus

dilakukan pembenahan secara terus-menerus. Saat ini, Kota Bogor tengah

mengupayakan adanya pembagian jam operasional angkot agar mampu

mengurangi kepadatan. Sistem itu juga diharapkan mampu mendongkrak

pendapatan sopir angkot. "Memang harus terus dipikirkan bagaimana

supaya tranportasi ini terus membaik tidak boleh berhenti," katanya.



Ya, pemerintah memang tidak boleh berhenti mencari jalan keluar

terbaik dari masalah transportasi. Kalau Kota Bogor saja bisa, kenapa

Kota Bandung tidak? (Catur Ratna Wulandari/"PR" ) ***



Cite: http://newspaper. pikiran-rakyat. com/prprint. php?mib=beritade 
tail&id=92157


 

      

    
    
        
         
        
        




        




        
        


        
        
        




      Wajib militer di Indonesia? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! 
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke