gunawan muhamad.... hmm.... its familiar name ... JIL isnt it?

......Bagi generasi sekarang, perayaan 17 Agustusan sudah kehilangan daya
magisnya; bak ritual tanpa makna. Tapi bagaimana orang-orang terdahulu
memaknai kata merdeka dan membayangkan konsep Indonesia setelah terlepas
dari belenggu penjajah? Berikut perbincangan Jaringan Islam Liberal (JIL)
dengan Goenawan Mohamad, esais yang saban minggu menulis Catatan Pinggir di
Majalah Tempo, Kamis (17/8) lalu. Taken From
here<http://islamlib.com/id/artikel/teks-proklamasi-dibuat-tergesa-gesa/>


2009/8/18 waluya56 <[email protected]>

>
>
> Moal dikometaran ah, tapi hatur lumayan we ieu mah:
>
> Indonesia
> Caping Tempo, Senin, 17 Agustus 2009
>
> KADANG-KADANG saya berpikir, apa gerangan yang ada dalam pikiran bapak saya
> beberapa saat sebelum ia ditembak mati. Kadang-kadang saya ingin
> membayangkan, ia menyebut nama "Indonesia" di bibirnya, atau "Indonesia
> merdeka", tapi tentu saja ini satu imajinasi klise, dan sebab itu tiap kali
> muncul cepat-cepat saya stop. Bukan mustahil bapak ketakutan di depan regu
> tembak pasukan pendudukan Belanda itu. Atau ia pasrah? Yang agaknya pasti,
> beberapa puluh menit, atau beberapa puluh detik kemudian, seluruh ketakutan
> (atau sikap pasrah, atau jangan-jangan kecongkakan yang tampil seperti
> keberanian) pun punah: peluru-peluru menembus batok kepalanya. Darah
> muncrat, ia roboh, tak akan pernah pulang lagi.
>
> Di tengah perkabungan, seluruh keluarga kami ketakutan dan menangis. Hanya
> ibu yang teguh: seperti tiang rumah yang ajaib. Ia menangis tapi ia
> menenangkan kami semua dan mengambil alih persiapan pemakaman dan
> perkabungan yang tergesa-gesa itu.
>
> Kini saya mencoba mengerti kenapa ibu dapat demikian kuat. Ia mungkin sudah
> tahu, hidup suaminya akan berakhir seperti itu, atau sedikit lebih baik
> ketimbang ditembak mati. Ibu telah menyaksikan bapak keluar-masuk penjara;
> ia bahkan menyertai bapak ke pembuangan nun di Digul, di Papua, yang tak
> terkirakan jauhnya. Adakah ia ikhlas? Ibu tak pernah berbicara tentang
> suaminya dengan kekaguman kepada seorang pejuang; ia hanya sesekali
> berbicara tentang sikap keras hati laki-laki itu: ada saat-saat ia seperti
> bertapa buat menetralisir musuh-musuhnya (yang tak pernah dijelaskan kepada
> saya siapa), ada saat-saat ia meninggalkan rumah untuk sebuah rapat gelap di
> atas perahu, ada saat-saat ia tak putus-putusnya mendengarkan radio. Selama
> itu, ibu tak pernah berbicara tentang "Indonesia".
>
> Barangkali karena bagi generasi aktivis politik masa itu—yang terlibat
> langsung dalam pergerakan nasional sejak awal abad ke-20—"Indonesia" sudah
> dengan sendirinya hadir dalam pikiran, sehingga mulut tak perlu
> mengucapkannya lagi. Atau kata "Indonesia" dengan sendirinya sebuah
> perlawanan bagi kata "Hindia Belanda". Karena setiap saat dalam aktivitas
> politik masa itu adalah perlawanan, kata "Indonesia" sudah tersirat ketika
> orang siap masuk penjara. Atau dibuang. Atau ditembak mati.
>
> Ibu membesarkan sisa anak-anaknya yang belum dewasa dengan praktis: mereka
> harus makan dan bersekolah. Hampir hanya itu. Dalam percakapan keluarga kami
> sama sekali tak ada pesan untuk cinta tanah air. Tapi saya tumbuh, dan saya
> kira juga saudara-saudara sekandung saya, dengan ingatan tentang bapak—dan
> bersama itu, diam-diam, "Indonesia" pun menongkrongi diri kami, melibatkan
> kami. Artinya jadi sangat berarti. Setidaknya saya tak bisa membayangkan
> diri saya hidup tanpa pertautan dengan "Indonesia".
>
> Saya yakin, saya tak sendirian. Bersama yang lain-lain, saya tak akan bisa
> merumuskan dengan fasih apa arti "Indonesia" bagi saya. Tapi saya melihat
> teman-teman saya yang tanpa merumuskan apa pun berdiri menyanyikan Padamu
> Negeri seraya siap untuk melakukan tindakan besar bagi orang banyak di
> negerinya—misalnya melawan mereka yang menindas. Saya melihat Upik dan Udin
> yang berangkat ke Aceh untuk membantu mereka yang terhantam tsunami dan
> memasang bendera merah-putih kecil di ransel mereka. Saya mengenal Tati dan
> Toto yang—meskipun tak menyukai apa saja yang "politik"—berkaca-kaca matanya
> ketika mendengar Indonesia Raya dengan musik yang agung.
>
> Apa yang mendorong mereka demikian? Mungkin karena tanah air adalah ingatan
> dan harapan yang menyangkut tubuh: harum padi yang terkenang, rasa rempah
> yang membekas, deras arus yang tak bisa dilupakan, suara ayah yang memuji,
> lagu ibu yang sejuk, batuk kakek, dan cerita-cerita kanak yang mengendap
> dalam kesadaran. Juga harapan: rumah kelak akan dibangun, anak-anak akan
> beres bersekolah, karier akan dicapai. Juga harapan akan melakukan sesuatu
> yang berarti.
>
> Tapi tentu saja ada mereka yang menolak itu semua—atau tak merasa terpaut
> dengan tanah air yang mana pun. Saya kira, mereka yang bersetia kepada
> gagasan "Darul Islam" yang tak berpeta bumi itu adalah contoh yang baik;
> mereka berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, tanpa bertaut ke
> masing-masing tempat. Mereka tak bertanah air, sebab tanah air adalah bagian
> dari bumi dan badan, sedang mereka yakin bahwa hukum—yang bagi mereka adalah
> segala-galanya—tak terpaut pada bumi dan badan, ruang dan waktu tertentu.
> Tak akan mengherankan bila "Indonesia" bagi mereka tak berarti apa-apa.
> Geografi mereka sederhana: sebuah tempat adalah bagian dari wilayah musuh
> atau wilayah diri. Tak ada yang lain.
>
> Kita tahu mereka siap untuk mati, untuk ditembak mati. Tapi betapa
> berbedanya dengan mereka yang merasa terpaut dengan sebuah tempat hidup dan
> tempat mati. Mungkin sekali di depan regu tembak itu bapak saya tak menyebut
> nama "Indonesia" dengan tekad utuh. Mungkin sekali ibu saya bekerja dengan
> tekad untuk anak-anaknya bukan untuk masa depan negeri ini. Tapi bagi saya
> mereka seperti kebanyakan kita: bagian dari sesama, yang hidup fana, di
> sebuah masa, di sebuah tempat, dan tak pernah bisa ditiadakan dengan hukum
> dan senjata.
>
> Goenawan Mohamad
>
>  
>



-- 
Aldo Desatura ® & ©
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata

Kirim email ke