----- Original Message ----- 

From: Iwan H. <mailto:[email protected]>  Suriadikusumah 

To: Altuji

Sent: Monday, August 10, 2009 7:16 PM

Subject: [Altuji] Re: Kasenian Urang.

 

 

Berikut ini adalah perkembangan respons dari saudara-saudara kita
("saudara-saudaranya Dora!") atas posting Mas Ossy di milis Al-Izhar tadi
pagi. Sudah sampai sejauh ini.

Bandingkan dengan respons dari saudara-saudaraKU seharian ini.
Mencerminkan kadar antusiasme etnikKU terhadap nasib kesenian daerahKU
Parahyangan tercinta, bukan?

Yang respons di milis kita aja 'kan malahan "Mbakyu" Dora sing ayu kuwi!

Kita nggak bisa bilang bahwa komunitas Al Izhar itu orang-orangnya
kebanyakan waktu semua, 'kan?
Karena Mas Ossy (Dandossi Matram) itu juga kesibukannya bukan main segabrek
sebagai seorang tokoh nasional yang ahli keuangan yang keahliannya dipakai
dimana-mana.

Sok atuh Lur, geura hararudang!
Maenya engke kahareup urang diajar Seni Sunda kudu ka Utrecht atawa Delft?


Salam,

Iwan

----------------------------------------------------------

Aliz Pentas Di WO Bharata? 
Posted by: "Dandossi Matram" 
Sun Aug 9, 2009 11:45 pm (PDT) 

Rekan2 Orang Tua Murid dan Alumni Murid yang baik,

Misi pihak Perguruan untuk mengajarkan dan mendidik seni budaya tradisional
sudah menjadi komitmen. IOM sendiri mendukung dalam bentuk membantu dengan
kegiatan2 misi2 budaya ygselalu terkait dengan budaya tradisional.

Misi Budaya ke Solo ternyata bisa dianggap berhasil menggugah minat anak2
terhadap kesenian tradisional jawa. Dimana selanjutnya IOM berfikir
bagaimana caranya terus berkreasi membuat kegiatan tersebut terus menarik
minat anak2.

Salah satu cara adalah menyaksikan pertunjukan2 kesenian, diantaranya Wayang
Orang .... Nah sebagai follow up, saya mencoba survey dgn cara menonton
wayang orang Bharata secara langsung untuk menyaksikannya. Dimana dibawah
ini saya laporkan hasil pengamatan saya.

Nah, kalau dari laporan tersebut dianggap menarik, maka kita bisa
mengusahakan acara nonton bareng dengan anak2 dan orang tua (bahkan dgn
kakek dan neneknya) untuk bersama-sama melihat secara langsung pertunjukan
tersebut.

Saya sudah ngomong2 dengan Mbak Menik yang membawahi kesenian ini bersama
teman2 lainnya .... Nah kalau ternyata ada peminat, maka kita bisa coba
kegiatan nonton bareng wayang orang bharata ini di waktu yg ditentukan.
Pastinya, kegiatan ini akan ditangani dan harus dikoordinir dulu oleh rekan2
yg membawahi Komite Seni & Budaya IOM.

Kalau ini berhasil, bisa saja kegiatan ini dijadikan kegiatan rutin minimal
setahun sekali ....

Kami bersama Komite Seni &Budaya IOM tengah merencanakan untuk membuat
kolaborasi dgn WO Bharata, dimana anak2 kita (ortu, alumni, guru juga bisa
ikutan) bisa tampil bersama mereka sebagai figuran atau waktu untuk tampil
seperti saat di Solo,pasti akan sangatmenyenangkan sekali ya .... Dan acara
malam itu, khusus untuk acara nonton bareng Keluarga Besar Aliz .... Tapi,
ini tergantung minat dan antusias anak2 dan ortunya ya ... Kalau antuasis
masih rendah, mungkin kita mulai saja dgn nonton bareng dulu ....

Kalau dari respon sementara hasil postingan di milis IOM, kelihatannya
antusiasme itu ada dan sementara ini akan dibentuk komunitas seni & musik
tradisional dgn meng-copy model orkestra yg sukses itu. Agar koordinasi ini
bisa lebih baik dan terorganisir.

Kita sdh bicara dgn Mas Senthun dari WO Bharata agar bisa diselenggarakan
hari jumat malam, mulainya lebih awal jam 19.00, ada selipan pemain2 kita di
rangkaian pertunjukkan itu, dilatih oleh mereka dulu sebelumnya di sekolah.
WO Bharata juga membuka kemungkinan pemain2 figuran dari Aliz untuk
bergabung main biar seru ....

Oh ya, kalau kegiatan ini sudah jadi komunitas, maka semua elemen Aliz,
mulai dari murid, guru, ortu, dan alumni termasuk ortunya akan bisa
bergabung bersama ....

Target kita mudah2an sebelum akhir tahun acara pentas kolaborasi dgn WO
Bharata sudah bisa terealisir .... doa'kan ya ....

===================
--- In Altuji, indri...@... wrote:
>
> Kitu kutan Kang Iwan, so zielig ya jullie sundanese mensen,eh tapi teu
sadayana kitu, mung saageung, he he, kade ah bisi sara, nya mangga atuh
urang ngawitan nyarios ku basa sunda, urang sebrang oge ari lahir sareng
ageung di bandung mah kedah tiasa basa sunda atuh, komo nu yuswana tos sa
urang2, leres atanapi leres kang iwan, soal nu didamel di coffee shop mah
panginten geumpeur ningali anu karasep. 
> Abdi ge kantos di Amsterdam nyarios sunda tidituna mah ngarah teu aya nu
terang naon nu ku abdi dicarioskeun, reuwas oge aya bule anu nembalan,
sihoreng teh kapungkur kantos janten knil di Bandung. Heuheuy deudeuh
ngajajah sakantenan diajar basa sunda, pinterrrr nya batur mah, tos ah cekap
sakieu heula, hapunten bilih aya anu kasinggung ku seratan abdi.
> Sent from my BlackBerryR smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
Teruuusss...!
> 
> -----Original Message-----
> From: "Iwan H. Suriadikusumah" <bra...@...>
> 
> Date: Mon, 10 Aug 2009 10:28:04 
> To: Altuji
> Subject: [Altuji] Re: Kasenian Urang.
> 
> 
> Ibu Dora yang cantik jelita (dulunya),
> 
> puguh saya teh nyontoan, bagaimana saudara-saudara kita yang etnisnya
JAWA, dimana-mana ke seluruh penjuru dunia juga tidak pernah malu-malu untuk
merasa dirinya tetap ORANG JAWA. 
> Jadi manusia-manusia yang seperti Mbakyu Dora, Jeng Titih, Mbak Wiwiet
itulah yang saya jadikan contoh.
> 
> Saumur-umur hirup dan gede di Bandung ge, keukeuh we JAWA. Nggak merasa
minder untuk tetap berbicara dan berbudaya JAWA.
> 
> Sebaliknya dengan etnisKU, yaitu "orang-orang" SUNDA.
> 
> Saumur-umur hirup di lembur, baru nginjek Cicadas saja, yang di Bandungnya
DULU itu termasuk pinggiran, BELUM kota, sudah gengsi buat berbicara Bahasa
Sunda.
> 
> Apalagi kalau sudah nginjek Jakarta, atau melanglang-buana ke Amsterdam
atau London!
> 
> Boro-boro nonton kesenian Sunda. 
> Komo jeung diajar sorangan nembang, gamelan jeung ngibingna, mah!
> 
> Sebagai mantan penerbang yang bur-ber kaditu kadieu ngalanglang buana,
sering saya merasa malu sendiri. Karena setiap ketemu dengan sesama etnis
Sunda saya suka berusaha ngajak berbicara dalam Bahasa Sunda. Ari nu diajak
ngomongna, komo lamun geus tingkat-tingkat eselon alias pejabat, kalah ka
siga anu tersinggung diajak berbahasa Sunda, teh. 
> Seakan-akan terhina kalau diajak bicara dalam bahasa ibunya itu.
> 
> Padahal sumpah, Bahasa Sunda saya teh da teu goreng-goreng teuing. Masing
geus jarang pisan dipake oge! (Ku sabab tara aya nu daekeun diajak ngomongna
tea!)
> 
> Waktu kita re-uni di Lembang beberapa tahun y.l., saya dan Kukuk yang
datang kepagian, jalan-jalan ke pasar Lembang cari tempat sarapan. Nemu
hotel yang coffee shopnya belum buka, tapi bersedia melayani kami makan
pagi.
> 
> Si Eneng yang melayani hantem ku dua'an diajak ngomong pake Bahasa Sunda
teh, keukeuh peuteukeuh ngajawab pake mamalayuan. (Bukan Bahasa Indonesia da
lentongna seperti yang saya contohkan di posting terdahulu!)
> 
> Sampai akhirnya Kukuk (yang geus puguh turunan Sebrang!) dan saya
menegurnya supaya ngajawab ku Bahasa Sunda. 
> Ari pek jawabna teh: "Soalnya kira'in bule!" cenah. 
> Geus puguh ti tadi ge ngomong make Basa Sunda, urang teh!
> 
> Sekali dalam pakaian penerbang, dengan jas biru-tua lengkap pake
strip-strip emas di lengan, dalam perjalanan bis dari hotel di Seoul ke
Incheon di Korea, ada rombongan Bank Indonesia yang mau pulang ke Jakarta. 
> 
> Salah satu dari mereka lama-lama nggak tahan nanya apakah saya orang
Indonesia juga. Lalu dia mengungkapkan kekagumannya, karena melihat saya
sedang baca majalah MANGLE! "Kok nggak malu?" pokna teh!
> 
> Geura ituh?!!!
> 
> He he he....
> 
> Begitu Schaat!
> 
> Jadi yang sedang saya gugah untuk mencontoh jullie allen teh yaitu
saudara-saudara saya yang pituin urang Pasundan. 
> Yang selalu malu menjadi dirinya sendiri. 
> Takut dibilangin kampungan!
> 
> Bisa ikut bantuin saya untuk menumbuhkan rasa percaya diri etnisku ini?
> 
> Salam,
> 
> 
> Iwan
> =====================================
> 
> 
> --- In Altuji, indri165@ wrote:
> >
> > saya nggak termasuk orang yang gengsi lho nonton kesenian wayang orang,
saya n temen kita wiwit yg dokter mata juga pernah gabung nari sama mereka d
bandung d gang becek d kosambi, salah satu guru nari saya adalah Timbul alm,
temen2 dari WO Bharata (Aris Mukadi, Kies Slamet dll) sering jadi bintang
tamunya, berangkat dari situ saya dipercaya untuk menari didepan tamu negara
bila berkunjung ke Bdg, saat ini kalo ada pertunjukan WO d bandung saya
selalu ngajak anak, keponakan dan cucu untuk nonton, cucuku walau nggak
ngerti bhs jawa selalu ter kekeh2 liat adegan semar, gareng, petruk dan
bagong, nonton sambil merangkap jadi translater asik juga lho. Saya sedih
juga saat mereka kehilangan tempat atau gedung pertunjukan di Kosambi. Masih
banyak cerita tentang kehidupan anak wayang yang saya tahu, jatuh bangun
untuk tetap bertahan hidup dan untuk melestarikan kesenian tersebut kadang
mereka rela menari tanpa dibayar, kalau tidak kita, siapa lagi yang bisa
menghargai mereka.
> > Sent from my BlackBerryR smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
Teruuusss...!
> > 
> > -----Original Message-----
> > From: "Iwan H. Suriadikusumah" <brands@>
> > 
> > Date: Mon, 10 Aug 2009 06:59:04 
> > To: Altuji
> > Subject: [Altuji] Kasenian Urang.
> > 
> > 
> > Dulur-dulur saALTUJI,
> > 
> > Baru saja kemarin saya menulis tentang senangnya bisa menonton kembali
seni ngibing pencak-silat yang khas kesenian Sunda/Jawa-Barat di acara
Baksos Sabtu y.l., pagi ini ada laporan dari sobat di milis lain mengenai
wayang-orang Bharata.
> > 
> > Kita boleh mencontoh nih, bagaimana usaha-usaha saudara kita yang lain
bisa meningkatkan status dan gengsi kesenian daerahnya sehingga masyarakat
dari status yang lebih tinggi juga tidak merasa gengsi buat menikmati
kesenian asli leluhurnya itu.
> > 
> > Bukan seperti dulur-dulur lembur urang, yang baru nginjek Cicadas saja
sudah merasa gengsi berbahasa ibunya.
> > Boro-boro sampe "berani-mati" buka kartu pake nonton keseniannya segala!
> > 
> > FYI, posting Mas Ossy itu sudah langsung mendapat tanggapan hangat dari
sobat-sobat lainnya, sehingga sudah berencana buat bikin acara nonton bareng
segala! (Kebetulan di komuniti ini, kita biasa bikin acara bareng-bareng.
Bahkan buat sekedar makan nasi-kucing atau rujak-cingur di kaki lima Jl.
Fatmawati sekalipun!)
> > 
> > Kumaha, Aom Sam?!!
> > 
> > Salam,
> > 
> > Iwan
> > ----------------------------------------------------------
> > 
> > 
> > 
> > --- In al-izhar-pl, Dandossi Matram <dandossi@> wrote:
> > 
> > Laporan: Senangnya Nonton Wayang Orang Bharata 8 Agustus 2009, "Gareng
Kembar", Kalilio, Senen, Jakarta
> > 
> > Sabtu, 8 September 2009, Setelah puluhan tahun tdk pernah lg nonton WO
> > Bharata, hari itu, saya, istri, anak, ibu saya, dan saudara sepupu (8
orang)
> > hadir menyaksikan "Gareng Kembar" di WO Bharata, Kalilio, Senen,
Jakarta.
> > Ini kesan2 saya:
> > 
> > Kami semua kaget dengan kondisi Gedung yg jauh beda dgn jaman dulu.
Tidak
> > ada lagi suasana lusuh dan kumuh. Tdk ada lg kursi rotan, tikus, dan
nyamuk
> > serta hawa panas yg pengap.
> > 
> > Gedung yg bagus terasa cukup sejuk dgn AC yg lumayan banyak. Bersih,
nyaman,
> > kursi empuk (walau jarak antar kursi agak mepet). Toilet terlihat
bersih,
> > terawat, kering, sabun ada, wangi dan tidak bau pesing sama sekali.
> > 
> > WO Bharata, hanya menyajikan pertunjukan 1X dalam seminggu yaitu hanya
hari
> > Sabtu Malam, jam 20.00 - 23.00. Prakteknya, pertunjukan baru dimulai jam
> > 20.30 dan berakhir sekitar jam 23.00 sampai 23.30.
> > 
> > Penonton malam itu penuh, khususnya di lantai 1. Di lantai 2 (balcon)
> > terlihat bbrp penonton. Dibanding jaman dulu, jenis penonton juga beda.
> > Kalau dulu audience adalah rakyat kebanyakan, malam itu mayoritas
> > penontonnya lbh tinggi kelas hidupnya. Kelihatan berpendidikan, rapih2,
> > terlihat bbrp penonton dr kalangan socialita yg biasa terlihat
dimajalah2
> > eklusive spt Ted Sulisto yg hadir membawa bbrp tamu2nya yg orang
asing.Saya
> > jg lihat bbrp orang asing yg ikut nonton. Bnyk juga anak2 kecil dan anak
> > muda yg ikut nonton.
> > 
> > Dengan kapasitas kursi sekitar 200-an kursi (termasuk balcon), kursi
dibagi
> > dlm kelas VIP Rp 40 rb (ada sekitar 5 atau 6 baris @16 kursi), kls 1 Rp
30
> > rb, dan kls 2 dan balcon yg saya tdk tahu harganya.Tp walau duduk paling
> > belakang jg tdk mslh, msh tertonton dgn baik dan sound system jg lumayan
> > baik shgg tetap terdengar. Walau saya pesan sejak 3 minggu sebelumnya,
saya
> > gagal dapat VIP, hanya dpt kelas 1.
> > 
> > Mengingat yg hadir mayoritas kalangan menengah ke atas dan jumlah
penonton
> > yang diatas 90% dari kapasitas kursi, ada baiknya harga tiket dinaik-kan
> > untuk dpt lbh mensejahterakan para pemain. Saya pikir harga tiket VIP
bisa
> > dinaikkan jadi Rp 75-100 ribu dan kelas 1 jadi Rp 50 rb.
> > 
> > Suhu udara awalnya dingin, tp saat penonton penuh hawa agak hangat
sedikit.
> > Mungkin krn pintu masuk terbuka lebar (tdk ditutup) shgg udara dingin AC
jd
> > tdk optimal (saran: kalau bisa pintu luar ditutup dan gorden ditutup spy
jd
> > dingin dan cegah nyamuk masuk). Ada baiknya ditambahkan bbrp kipas angin
> > besar agar udara bisa lbh sejuk.
> > 
> > Pertunjukan sgt menarik. Sayang dialog diawal antara Gareng dgn Istri
> > terlalu panjang dan ber-tele2 shgg jd membosankan. Tp diluar itu keren
> > sekali, jumlah pemain buanyaaak sekali ya ... Saya lihat ada pemain2
tamu yg
> > bermain saat Petruk bertapa. bagus tariannya dan sempat dpt aplause
kecil dr
> > penonton.
> > 
> > Rasanya pertunjukkan malam itu bagaikan menyaksikan masterpiece kesenian
> > khas jawa yg susah kita bandingkan dengan menonton di TV, beda sekali
> > rasanya. Bagus untuk mengenalkan kepada anak2 kita. Ada satu keponakan
saya
> > (4 tahun), yg sangat antusias menonton, walau sdh kelelahan seharian
banyak
> > acara, malam itu dia gagal tidur krn lbh tergoda menyaksikan pertunjukan
> > dari pendawa lima, punakawan dan adegan peperangan yg keren .... Bahkan
dia
> > ternyata menahan-nahan pipis krn tidak mau kehilangan sedetikpun
pertunjukan
> > itu ....
> > 
> > Pencahayaan juga bagus dan hidup. Suasana Gedung yg bersih terbantu krn
> > suasana gedung yg terang (dipertahankan terus).
> > 
> > Jarak antar kursi yg mepet akan lbh nyaman kalau bisa dimundurkan
sedikit
> > shgg bisa memudahkan penonton keluar masuk. Saat ini susah krn agak
sempit.
> > 
> > Melihat animo penonton yg kelihatannya bagus, gak ada salahnya WO
Bharata
> > menambah jumat malam sbg malam pertunjukan, yg bisa dibikin sama diisi
acara
> > WO, atau atau acara khusus ludruk, atau lawak, atau acara khusus dgn
bintang
> > tamu, tentunya dgn harga tiket yg berbeda .... Atau bahkan sebagai hari
> > pertunjukkan khusus bagi kelompok atau instansi atau komunitas tertentu
yg
> > ingin booking khusus menonton untuk kelompoknya ....
> > 
> > Bagus2 juga kalau setiap pertunjukan ada brosur yg berisi sinopsis
cerita
> > baik dlm bhs indonesia dan inggris, ada isi nama pemain2nya (sebagai
> > apresiasi), ada isi daftar judul pertunjukan2 berikutnya, yg bisa saja
biaya
> > pembuatannya di sponsori perusahaan tertentu ...
> > 
> > Tempat parkir saat itu terlihat penuh dgn berbagai macam kendaraan dari
> > toyota alphard sampai motor, tp tersedia dgn biaya parkir Rp 5 ribu/mbl.
> > Pelayanan parkir ramah jd gak usah khawatir dgn keamanan disana.
> > 
> > Paling istimewa, kita bisa nonton sambil makan ketoprak (Rp 6 rb/piring)
yg
> > bs dipesan dan diantar ke kursi kita. Ketopraknya sendiri enak, saya
nambah
> > lho.
> > 
> > Bagi yg tdk bs bhs jawa,tdk usah khawatir, mulai malam itu, sdh tersedia
> > sinopsis (ringkasan cerita) dlm bhs Indonesia. Juga setiap adegan
> > diceritakan di running text yg ada dibagian atas panggung dgn huruf yg
> > besar. Bagus2 kalau ada bhs inggris supaya turis bisa ngerti jg.
> > 
> > Wuiiih ... banyak sekali jadinya laporan berikut saran2 dari saya ini ya
...
> > 
> > 
> > Yang pasti kami puas hadir menonton malam ini, kelihatannya kami akan
> > sering2 hadir menyaksikan pertunjukan di WO Bharata ...
> > 
> > Bagi yg belum pernah nonton, sangat direkomendasikan u/ mencoba
menonton.
> > Beda sekali koq kondisi WO Bharata saat ini .... Paling tidak, dicoba
saja,
> > jangan ditunda-tunda. Kalau ingin tahu lebih banyak silahkan klik di
search
> > FB "WO Bharata", disana anda bisa jadi member dan mengetahui lebih
banyak
> > judul2 pertunjukan ke depan ... Kalau mau beli tiket silahkan hubungi
Mas
> > Yunus - 08561211842. Tinggal pesan, lalu diambil dan dibayar saat
> > pertunjukan atau setiap sabtu malam.
> > *Untuk judul pertunjukan kedepan adalah:*
> > 15 Agustus 2009 - Ramayana: Subali Leno
> > 22 Agustus 2009 - Widoretno Larung
> > 29 Agustus 2009 - Dewa Ruci
> > 5 September 2009 - Begawan Dawala
> > 12 September 2009 - Ramayana: Anoman Dhuta
> > 19 September 2009 - Abhilawa
> > 26 September 2009 - Gathutkaca Wisuda
> > 
> > Apresiasi saya bagi semua pihak yg berusaha mati2an mempertahankan WO
> > Bharata hidup terus menjadi tontonan yang menarik, dan itu pasti bukan
usaha
> > yg tdk mudah, krn harus menggunakan hati .....
> > 
> > Wassalam
> > Dandossi Matram'81 (101/85)
> > 8 Agustus 2009

Kirim email ke