Objek Wisata Sejarah yang Dipenuhi Legenda
Ziarah ke Masjid Si Pitung

MASJID Al Alam (Al Auliya) Marunda yang terletak di Kelurahan Marunda, Kec.
Cilincing, Jakarta Utara, lebih dikenal sebagai Masjid Si Pitung. Masjid
yang berusia empat ratus tahun lebih dan banyak dikunjungi para peziarah ini
dinilai memiliki banyak keistimewaan, salah satunya konon dibangun hanya
dalam tempo semalam.* MUHTAR I.T./"PR"

 NAMA sebenarnya adalah Masjid Al Alam (Al Auliya) Marunda. Namun, karena
masjid itu punya persentuhan sejarah dengan Si Pitung, jagoan Betawi yang
dikenal pemberontakannya terhadap penjajah Belanda, masjid itu pun lebih
populer sebagai Masjid Si Pitung.

Ada banyak kisah heroik, legenda, bahkan mitos yang mengiringi perjalanan
masjid tersebut. Konon, di masjid inilah dulu Si Pitung bermain, belajar
silat, dan kanuragan, serta bersembunyi. Menurut cerita legenda yang
beredar, tiap kali dikejar Belanda, Si Pitung lari dan bersembunyi di masjid
itu dan ia seperti lenyap ditelan bumi. Tiap hari, masjid itu tak pernah
sepi dari kunjungan para peziarah yang berharap berkah.

"Dunia lain" Jakarta

Mencari lokasi Masjid Si Pitung tidaklah sulit. Masjid yang terletak di
Kampung Marunda Pulo, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara
itu memang sudah tersohor. Namun demikian, berkunjung ke Masjid Si Pitung,
kita seperti melakukan petualangan spiritual ke "dunia lain" Jakarta.

Kawasan Marunda yang berada di timur laut Jakarta, persis berbatasan dengan
Laut Jawa. Diukur dari jarak, Marunda lebih dekat dijangkau dari Bekasi
daripada pusat ibu kota. Inilah daerah yang dalam kisah-kisah rakyat begitu
melegenda, namun tetap tertinggal dari sisi kemajuan pembangunan
infrastruktur. Jangan heran, meskipun masuk kawasan daerah ibu kota, kondisi
fisik Marunda jauh berbeda dengan citra Jakarta yang serbamewah, harum, dan
glamor.

Untuk mencapai lokasi masjid, kita harus melewati hiruk pikuk bongkar muat
peti kemas dan hilir mudik truk-truk tronton di Kawasan Berikat Marunda.
Selepas itu, kita akan disuguhi pemandangan yang serbakumuh lewat penampilan
rumah-rumah penduduk di sisi kali dengan air berwarna hitam pekat dan
menebar aroma tak sedap. Sementara itu, di sepanjang sisi jalan raya yang
tak rapi, ratusan orang terlibat transaksi di pasar bebek. Dan, sepanjang
jalan itu pula bau amis khas pantai menusuk hidung hingga membuat perut
terasa mual.

Memang, di tepi pantai Merunda kini sudah bermunculan bangunan modern dan
megah berupa beberapa apartemen, di samping juga kompleks pendidikan Sekolah
Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) yang representatif. Namun, tetap saja,
berdampingan dengan bangunan-bangunan modern itu, terhampar rawa-rawa yang
disulap menjai tambak-tambak ikan dengan air berwarna cokelat pekat dan
menebar bau tak sedap. Persis di belakang STIP, berjarak sekitar setengah
kilometer, setelah melewati jalan beton berkelok-kelok di atas bekas
rawa-rawa itulah berdiri Masjid Si Pitung.

Dikunjungi peziarah

Kompleks bangunan Masjid Si Pitung itu sendiri bisa disebut terjepit oleh
bangunan lain. Melihat arsitekturnya, masjid tersebut mengingatkan kita pada
model Masjid Agung Demak, namun berskala lebih mini, yakni berukuran 10x10
meter persegi. Bisa disebut, Masjid Si Pitung adalah miniatur Masjid Demak.

Atapnya yang berbentuk joglo ditopang oleh empat pilar bulat "kuntet" yang
berbentuk seperti kaki bidak catur. Dinding dan keempat pilarnya berwarna
putih, dikombinasi dengan plafon dan jendela yang berwarna cokelat. Terdapat
enam jendela dengan masing-masing memiliki lima teralis. Mihrab yang pas
dengan ukuran badan menjorok ke dalam tembok, berada di sebelah kiri mimbar.
Uniknya masjid ini tergolong katai, tinggi plafon dari lantai hanya dua
meter.

Di belakang ruang utama yang diperuntukkan jemaah pria, di belakang terdapat
ruang khusus jemaah wanita. Berbeda dengan ruang utama, ruang salat wanita
hanya ditopang oleh dua pilar yang berbentuk segi empat. Kedua ruangan salat
tersebut dibatasi oleh tembok dan dihubungkan oleh sebuah pintu di tengah.

Beberapa bagian masjid masih tampak asli. Di antaranya tembok ruang utama
yang konon memiliki ketebalan 27 sentimeter dan hiasan jendela imam salat.
Konon pula, hiasan di ruang imam itu terbuat dari batu giok. Selain itu,
terdapat juga tongkat terukir yang berbentuk menyerupai ular. Tongkat itu
hanya dikeluarkan seminggu sekali, yakni pada saat khotbah Jumat.

Di sebelah kiri masjid yang termasuk benda cagar budaya tersebut, terdapat
serambi yang sebenarnya perluasan dari bangunan utama. "Bangunan (serambi)
ini baru beberapa tahun saja dibuat, dulunya di sini ada kolam untuk
berwudu. Mungkin, karena jemaahnya bertambah, kolam ditutup dan dibuatkan
serambi ini," kata Yahya (70), pria yang sudah dua puluh tahun menjadi
penunggu masjid.

Perluasan itu pun tampaknya belum cukup. Untuk menampung para peziarah yang
datang dari berbagai daerah di tanah air, di belakang masjid sudah berdiri
megah pendopo berlantai keramik. "Peziarah emang banyak yang ke sini. Malah
sampai ada yang menginap berhari-hari segala. Ramadan ini justru sepi. Kalo
hari-hari biasa justru lebih ramai, terutama tiap malam Jumat Kliwon," ujar
Yahya.

Berusia 400 tahun

Ada beragam alasan orang berziarah ke Masjid Si Pitung. Akan tetapi,
lazimnya para peziarah, mereka datang terutama untuk ngalap berkah. Namun,
urusan berkah ini, Yahya dengan tegas menolak jika orang datang ke masjid
itu karena keterkaitan dengan "kewalian" Si Pitung.

"Wah, enggak benar itu. Nama masjid ini sebenarnya bukan Masjid Si Pitung,
tetapi Masjid Al Alam. Orang-orang saja yang ngasih nama, padahal bukan Si
Pitung yang membangunnya, melainkan para wali. Jadi, orang berziarah ke sini
karena mereka ingin mendapatkan berkah dari para wali," tutur Yahya.

Pernyataan Yahya, seolah meluruskan status masjid tersebut. Meski dijuluki
Masjid Si Pitung, soal keistimewaan yang dimiliki masjid tersebut, justru
berkaitan dengan kiprah Wali Songo. Ya, menurut pendapat beberapa orang,
masjid tersebut dibangun oleh Wali Songo pada abad ke-16. Yang menjadikan
masjid itu istimewa, karena kono dibangun hanya dalam tempo semalam. Makanya
diberi nama masjid Al Alam (Al Auliya).

Menurut salah seorang tokoh Betawi, Alwi Shahab, pendiri masjid Al Alam
adalah Fatahilah dan pasukannya pada tahun 1527 M, setelah mengalahkan
Portugis di Sunda Kelapa. Seratus tahun kemudian (1628-1629), ketika ribuan
prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC (kini Gedung Museum
Sejarah Jakarta) para prajurit Islam ini lebih dulu singgah di Marunda untuk
mengatur siasat perjuangan.

Kini, dengan usianya yang sudah lebih dari empat ratus tahun, masjid
tersebut masih berdiri kokoh di tengah arus perubahan zaman dan lingkungan
yang tak bisa dicegah. Meski kian mendekat ke bibir pantai dan terancam
abrasi--hanya berjarak lima puluh meter--masjid mungil itu tetap tak pernah
sepi oleh jemaah dan pengunjung, mulai dari mereka yang tiap hari
membersihkan dan merawat masjid seperti Yahya, hingga mereka yang datang
karena ingin ngalap berkah. (Muhtar Ibnu Thalab/"PR")***

Cite:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=97683

Kirim email ke