Kumaha ieu teh,  lain digawekeun wae atuh ku nagara/ Pertamina, kalahka 
ditawar-tawarkeun ka investor? Sigana mah ari nagara/ Pertamina mah sieuneun 
rugi gede, lamun minyakna teu kaluar .....

Bos Pertamina Puyeng, Blok Minyak dan Gas Tak Laku

Jum'at, 11 September 2009 | 17:00 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Blok minyak dan gas bumi yang ditawarkan 
pemerintah tidak laku. Dari 16 blok yang ditawarkan, hanya lima yang 
diminati investor. "Saya pada posisi yang tidak terlalu happy karena agak 
jauh di bawah harapan kami," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi 
Evita Herawati Legowo sebelum mengumumkan pemenang tender di Jakarta, Jumat 
(11/9).

Dia mengungkapkan, ada 67 dokumen yang terjual dan 15 blok yang ingin 
dipelajari oleh para investor. Namun dokumen penawaran yang dikembalikan 
hanya untuk lima blok. Evita sudah mencoba mengoreksi mengapa blok-blok 
tersebut tidak laku. Sedikitnya ada tiga alasan, yakni krisis ekonomi 
global, isu peraturan pemerintah soal cost recovery, dan faktor teknis.

Evita menjelaskan, 16 blok minyak dan gas bumi tersebut ditawarkan pada 
Desember 2008 hingga April 2009. Pada rentang waktu itu, katanya, kondisi 
ekonomi global sangat buruk. "Saat itu harga bahan bakar minyak juga sempat 
turun," katanya. Selain itu para investor juga khawatir dengan rancangan 
peraturan pemerintah soal cost recovery. Investor khawatir kapan peraturan 
itu diberlakukan dan apakah ada penambahan pajak.

Pemerintah berupaya seadil mungkin dalam peraturan cost recovery. "Kami 
mencoba berada di pihak investor dan sedang berjuang untuk itu karena kami 
mengerti kekhawatiran mereka," katanya. Hingga saat ini peraturan cost 
recovery masih digodok oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dengan 
Departemen Keuangan. Peraturan itu diharapkan bisa diterapkan pada tahun 
depan sehingga paling lambat diselesaikan akhir tahun ini.

Soal faktor teknis, Evita menjabarkan para investor khawatir lapangan yang 
ditawarkan tidak mengandung minyak atau gas. Sebab ada lima blok yang 
bertetangga dengan sumur kering (dry hole). "Jadi mereka khawatir akan 
terjadi begitu juga," katanya.

Evita mengaku target produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari hingga 
2025 akan sulit tercapai jika blok-blok minyak terus tak laku. Sebab, untuk 
meningkatkan produksi minyak harus ada eksplorasi baru selain mengoptimalkan 
sumur tua. "Kalau tidak ada eksplorasi baru, ya, sulit tercapai target itu," 
katanya.

Blok yang terjual adalah Andaman III dan dimenangkan oleh Talisman Asia 
Limited. West Gelagah Kambuna dimenangkan oleh konsorsium PT Pertamina dan 
Petronas Carigali Overseas. Tiga wilayah kerja lainnya, yakni Halmahera 
Kofiau, East Bula, dan West Papua IV, dimenangkan oleh perusahaan yang sama, 
yakni konsorsium Black Gold Energy LLC dan Niko Resources Limited.

Dari hasil lelang reguler itu pemerintah mendapatkan bonus tanda tangan 
sebesar US$ 20 juta atau sekitar Rp 200 miliar. Sedangkan sisa blok yang tak 
laku akan dimasukkan ke daerah bebas lagi. Namun saat ini sudah ada beberapa 
investor yang ingin mengajukan joint study blok-blok itu.

DESY PAKPAHAN 

Kirim email ke