MJ nu keur di Walanda, jigana moal bisa ngurek belut yeuh.
Da cenah belutna ge geus langka.
mh

===

Daging Belut sama dengan Daging Panda
Diterbitkan : 1 Oktober 2009 - 11:09am | Oleh Thijs Westerbeek van Eerten


Penangkapan ikan paling [sejenis belut Belanda, Red.] kini resmi
dilarang. Tahun ini, perangkap ikan tidak boleh digunakan selama dua
bulan, yaitu di bulan November dan Desember.

Tahun depan berlaku larangan selama tiga bulan. Dan empat tahun lagi,
akan terbit evaluasi ilmiah, untuk mengetahui apakah populasi ikan
belut sudah kembali membaik.

Evaluasi itu sebenarnya suatu kompromi politik. Karena, dalam satu
hal, semua biolog perikanan dan nelayan sepakat, belut terancam punah.
Pengurangan penangkapan belut selama beberapa tahun, tidak akan ada
artinya.

Larangan total
"Daging paling sama dengan daging panda," kata Karel Drijver, pakar
biologi kelautan. Pria ini bekerja pada Dana Cagar Alam sedunia WWF
(World Wildlife Fund). Ia menyatakan larangan total penangkapan tak
bisa dihindarkan lagi.

'Daging panda' mungkin terdengar sebagai suatu slogan. Tapi ini benar.
Angka-angka dan persentase yang dikemukakan oleh Karel Drijver memang
mengejutkan. Dan itu semua tanpa warna politik.

"Kenyataannya adalah bibit belut kecil, yang datang ke pantai Eropa
untuk kemudian tumbuh membesar, kini tinggal satu persen dari populasi
semula. Sementara populasi belut di sungai dan danau Belanda hanya
tinggal lima persen."

Punah secara alami
Anehnya, populasi belut di Belanda memang jauh berkurang. Tapi, tidak
sedemikian parah, sehingga nelayan belut akan 'punah dengan
sendirinya'. Berikut pernyataan nelayan belut, Theo Rekelhof, pemilik
kapal 'Duc in Altum'.

"Sejauh ini saya tidak punya keluhan mengenai populasi belut. Memang,
semuanya tidak akan terjadi dengan sendirinya. Populasi belut memang
berkurang. Tapi dengan perbaikan pengelolaan air, sungai dan danau,
saya akan terus bisa menangkap belut."

Dalam hal ini Theo Rekelhof benar. Tapi, keberadaan belut di sungai
dan danau Belanda sebenarnya, sepenuhnya berkat intervensi manusia.
Sejak lama nelayan Belanda sengaja menyebarkan bibit belut, pada
besaran sepanjang 10 hingga 20 centimeter.

Dan bibit tersebut akan tumbuh hingga mencapai sebesar kepalan tangan.
Ukuran ideal untuk dikonsumsi. Belut sebesar itulah yang akan nyangkut
di jaring nelayan.

Pembiakan buatan
Sayangnya, belut kecil tersebut diambil dari alam. Pembiakan belut
mulai dari telur masih tidak mungkin, karena, siklus pengembang-biakan
ikan jenis ini, melalui proses keliling dunia. Karena itu, pembiakan
buatan sebagaimana yang terjadi di Belanda selama ini, justru
merupakan ancaman ekstra.

Karena itu berarti, di bagian dunia lain, jumlah binatang ini berkurang.

Dan, dalam hal peluang kelangsungan hidup ikan belut, binatang ini
ternyata juga punya sifat rumit, kata Karel Drijver:

"Kita harus sadar, binatang ini hanya satu kali berkembang-biak,
setelah berusia 20 tahun. Jadi, binatang ini sangat rapuh. Hanya jika
kita berhasil menerapkan kebijakan tepat, mungkin kita memulihkan
populasi belut."

Dan kebijakan tepat tersebut, adalah kabar buruk bagi nelayan belut,
larangan total penangkapan selama beberapa dasawarsa. Hanya dengan
kebijakan seperti itu, ada peluang populasi belut akan pulih kembali.

Karel Drijver juga sadar, hal ini akan sangat memukul nelayan belut.
Tapi, tanpa kebijakan luar biasa ketat seperti itu, semuanya akan
berakhir cepat. Ikan belut, dalam tempo beberapa tahun saja, sudah
benar-benar akan punah.

Cite: 
http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/daging-belut-sama-dengan-daging-panda

Kirim email ke