Kabiasaan "eufimisme" teh gening geus aya di jaman Walanda keneh. Mun di urang "iuran" sakola sok disebut "sumbangan", cenah waktu aya "agresi" militer di Linggarjati, ku Walanda mah disebutna teh "penertiban". mh
=== Linggarjati di Belanda Diterbitkan : 28 September 2009 - 3:46pm | Oleh Junito Drias Ade Purnama boleh dibilang beruntung. Ia diajak pergi ke gedung perpustakaan nasional Belanda "Koninklijke Bibliotheek". Di sana digelar seminar dan pameran kecil perundingan Linggarjati. "Saya sangat suka sekali sejarah," kata Ade Purnama. Tak heran, karena lelaki berusia 33 tahun ini, pengurus komunitas pecinta museum. Di Belanda, agenda liburan Ade mengunjungi kota-kota VOC, antara lain Amsterdam dan Rotterdam. Menghadiri acara peringatan perundingan Linggarjati sama sekali tak mampir di benaknya. Toh, pria berperawakan besar tersebut, menyambut senang kegiatan kagetan-nya di Den Haag. "Warga Indonesia sedikit yang tahu soal Linggarjati," ujarnya. Padahal rentetan peristiwa sesudah pembicaraan di kota sejuk Jawa Barat itu sangat penting. "Kita tahu bahwa ada agresi militer, di Belanda disebut aksi penertiban, semuanya terkait dengan Linggarjati," ujar sang pengurus Sahabat Museum. "Saya ingin sekali seminar dan pameran Linggarjati di bawa ke Indonesia, supaya kami bisa belajar." Seminar dan pameran peringatan perundingan Linggarjati diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda. Sekitar 80an tamu hadir dalam acara ini, antara lain Dubes RI untuk Kerajaan Belgia Nadjib Riphat Kesoema, Dubes RI untuk Kerajaan Belanda JE Habibie dan juga anggota parlemen Belanda dari partai VVD Hans van Baalen. Putri dari pejuang nasional Sutan Sjahrir juga hadir. cite: http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/video/linggarjati-di-belanda

