Di urang ayeuna loba gedong luhur nu mungkin wae bisa rugrug contona ku ayana lini. Geus siap acan di urang kana kajadian kieu, nulungan jalma nu kakurung ku rugrugan beton? sigana acan da buktina masih ngandelkeun sukwan-sukwan asing, saperti dina warta dihandap ieu:
Mencari Suara dari Dunia Sunyi http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2005/04/11/ILT/mbm.20050411.ILT109961.id.html Korban gempa yang terkurung reruntuhan beton bisa dilacak lokasinya dengan alat pendeteksi suara. Alat ini terbukti berhasil di Nias. Suara itu datang dari gelap, dari balik timbunan beton. Terdengar lamat-lamat. ?Saya masih hidup. Saya kedinginan,? kata seorang lelaki dengan lirih. Nada suaranya terdengar bergetar, menyusup di antara puing-puing bangunan dan menembus empat lapis beton. Para relawan yang sudah lima hari bekerja mencari pria nahas di balik beton itu benar-benar girang mendengar suara itu. Ini pertama kali mereka mendengar suara Hendra Gan Kok Heng, 40 tahun, pemilik toko sepeda yang terkubur di rumahnya saat gempa merontokkan Nias, Sumatera Utara, 28 Maret lalu. ?Kita tak boleh menyerah. Tak boleh,? kata Junianto Julius Gho, sepupu Hendra, yang terbang dari Jakarta untuk menyelamatkannya. Saat itu, sudah lima hari dia bersama para relawan berusaha membobol beton-beton ruko yang roboh di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 8, Gunung Sitoli, Nias. Suara Hendra itu tak akan pernah terdengar andai saja Junianto tak dibantu oleh Garda Hansip Singapura, yang membawa alat pendeteksi kehidupan berupa detektor suara dan kamera pengintai khusus untuk reruntuhan bangunan. Memang, para hansip Singapura itu tak seperti hansip Indonesia yang cuma bermodalkan pentungan dan sepatu tentara. Hansip Singapura ini datang ke Nias dengan peralatan evakuasi yang canggih. Mereka, para hansip itu, dibekali alat pendeteksi suara yang sangat sensitif, yang bisa menembus kedalaman puing-puing bangunan hingga 15 meter. Selain itu, mereka juga membawa kamera mini khusus untuk evakuasi korban di bawah reruntuhan gedung. Kamera ini bisa menjulur 9 meter jauhnya dan bisa melihat dalam kegelapan dengan sensor inframerahnya. Berbagai pemotong besi, serta dongkrak hidraulik pengangkat lantai beton, pun selalu siap sedia. Alat-alat itulah yang membantu menemukan Hendra. Sejak hari pertama gempa menggoyang Nias, Hendra sebenarnya sudah diketahui terkubur di rukonya. Yang menjadi soal, Hendra terkubur empat lapis beton setebal 15 sampai 20 sentimeter. Ditambah lagi dengan tumpukan beton rumah tetangga. ?Begitulah fenomena gempa, bangunan rontok dan menjadi seperti kue lapis,? kata Cynthia Fajardo, manajer pencarian korban saat peristiwa pengeboman World Trade Centre di Amerika Serikat, September 2001. ?Tumpukan lapisan beton inilah yang bikin susah pencarian.? Dengan kondisi serba berserak seperti itu, mencari korban di bawah ?kue lapis? beton itu tak bisa cuma dengan mengandalkan ketajaman penciuman anjing pelacak. Soalnya, anjing pelacak tak bisa menentukan secara tepat beton bagian mana yang harus dibobol. Para sukarelawan di Amerika Serikat itu menggunakan alat pendeteksi suara, yang bekerja jauh lebih akurat. Dengan memasang beberapa sensor di puing-puing beton, mereka akan bisa menentukan lokasi korban yang hidup (lihat infografik). Fenomena kue lapis beton itu rupanya juga ada pada ruko Hendra. Saat gedung berlantai dua itu rontok terkena gempa berkekuatan 8,7 magnitudo, bangunan itu juga ditimpa bangunan tetangganya. Dalam kasus pencarian Hendra di Nias, anggota marinir Angkatan Laut, dibantu tim penyelamat dari Meksiko, dan Garda Hansip Singapura, sudah enam kali melubangi lantai beton yang miring 45 derajat. Tapi, hasilnya cuma bau mayat korban lain yang menusuk. Baru pada hari kelima mereka memasang Delsar, alat pendeteksi suara yang bisa menangkap suara lemah di frekuensi 1 hertz hingga 3.000 hertz?suara normal yang bisa didengar manusia 20 hertz sampai 20.000 hertz. Saat itulah terdengar suara di tangga lantai satu, suara Hendra yang minta minum. Dengan patokan itulah mereka membobol sebuah titik lokasi. Rupanya, lubang itu mentok pada balkon lantai dua ruko. Lubang ini kemudian diteruskan ke lapisan di bawahnya. Dan sinyal-sinyal suara Hendra makin kuat terdengar. Mereka lalu mendapatkan lubang kecil yang mengarah ke Hendra, yang cuma punya ruang setinggi 30 sentimeter. Kapten Ong, Kepala Garda Hansip Singapura di Nias, pun menyisipkan mikrofon. Itulah untuk pertama kali tim relawan bercakap-cakap dengan Hendra, setelah ia lima hari terbaring dalam penjara beton yang gelap dan sunyi. Tim kemudian mengulurkan selang yang berisi cairan makanan dan vitamin melalui selembar kayu yang dimasukkan di antara celah yang sudah terbuka itu dengan susah payah. Uluran selang ini langsung direspons Hendra, dan menyusul kemudian bantuan air mineral dan biskuit. ?Saya merasa air ini kiriman dari surga,? kata Hendra. Burhan Sholihin, Istiqomatul Hayati (Nias)

