Enya kuring asa kaingetan kamera siga kieu teh "mereun" anu osok dipake ku
tukang insinyur, utamana keur di pabrik-pabrik gede sarupaning petrokimia
jeung migas, hususna keur noongan liang2 laleutik anu biasa kaliwatan ku
bahan kimia, naha ceunah alus keneh atawa geus karahaan, nu kieu mah urusan
insinyur ti metallurgy mereunan nya? Eta oge teu pati eces kamera siga gieu
teh naha piparantieunna keur nu kitu wungkul (ceuk si manufacturer na?)
atawa keur sagala rupa manfaat? Tapi pan ngarana oge bisnis, market demand,
saha nu deuk meuli jeung boga duit, sigana sumangga bae J.
Anu rada keom teh, tukang insinyur nu nyepeng pakasaban siga kieu remen
disebut corrosion engineer, nu matak keomna mun dihartikeun versi si
kuring..corrosion engineer teh mereun hartinya insinyur karatan/karahaan
heuheu.
Remen sok rada ngabirigidig mun ningali eta kamera di tarik panjang bari
tungtungna utek-utekan neang obyek nu di sorot, sok inget kana oray leutik
hideung nu keur culang cileung.
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Waluya
Sent: 06 Oktober 2009 11:10
To: [email protected]
Subject: [Urang Sunda] Fw: Neangan Sora ti Dunya anu Simpe
Di urang ayeuna loba gedong luhur nu mungkin wae bisa rugrug contona ku
ayana lini. Geus siap acan di urang kana kajadian kieu, nulungan jalma nu
kakurung ku rugrugan beton? sigana acan da buktina masih ngandelkeun
sukwan-sukwan asing, saperti dina warta dihandap ieu:
Mencari Suara dari Dunia Sunyi
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2005/04/11/ILT/mbm.20050411.ILT1
09961.id.html
Korban gempa yang terkurung reruntuhan beton bisa dilacak lokasinya dengan
alat pendeteksi suara. Alat ini terbukti berhasil di Nias.
Suara itu datang dari gelap, dari balik timbunan beton. Terdengar
lamat-lamat. ?Saya masih hidup. Saya kedinginan,? kata seorang lelaki dengan
lirih. Nada suaranya terdengar bergetar, menyusup di antara puing-puing
bangunan dan menembus empat lapis beton.
Para relawan yang sudah lima hari bekerja mencari pria nahas di balik beton
itu benar-benar girang mendengar suara itu. Ini pertama kali mereka
mendengar suara Hendra Gan Kok Heng, 40 tahun, pemilik toko sepeda yang
terkubur di rumahnya saat gempa merontokkan Nias, Sumatera Utara, 28 Maret
lalu.
?Kita tak boleh menyerah. Tak boleh,? kata Junianto Julius Gho, sepupu
Hendra, yang terbang dari Jakarta untuk menyelamatkannya. Saat itu, sudah
lima hari dia bersama para relawan berusaha membobol beton-beton ruko yang
roboh di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 8, Gunung Sitoli, Nias.
Suara Hendra itu tak akan pernah terdengar andai saja Junianto tak dibantu
oleh Garda Hansip Singapura, yang membawa alat pendeteksi kehidupan berupa
detektor suara dan kamera pengintai khusus untuk reruntuhan bangunan.
Memang, para hansip Singapura itu tak seperti hansip Indonesia yang cuma
bermodalkan pentungan dan sepatu tentara. Hansip Singapura ini datang ke
Nias dengan peralatan evakuasi yang canggih.
Mereka, para hansip itu, dibekali alat pendeteksi suara yang sangat
sensitif, yang bisa menembus kedalaman puing-puing bangunan hingga 15 meter.
Selain itu, mereka juga membawa kamera mini khusus untuk evakuasi korban di
bawah reruntuhan gedung.
Kamera ini bisa menjulur 9 meter jauhnya dan bisa melihat dalam kegelapan
dengan sensor inframerahnya. Berbagai pemotong besi, serta dongkrak
hidraulik pengangkat lantai beton, pun selalu siap sedia. Alat-alat itulah
yang membantu menemukan Hendra.
Sejak hari pertama gempa menggoyang Nias, Hendra sebenarnya sudah diketahui
terkubur di rukonya. Yang menjadi soal, Hendra terkubur empat lapis beton
setebal 15 sampai 20 sentimeter. Ditambah lagi dengan tumpukan beton rumah
tetangga. ?Begitulah fenomena gempa, bangunan rontok dan menjadi seperti kue
lapis,? kata Cynthia Fajardo, manajer pencarian korban saat peristiwa
pengeboman World Trade Centre di Amerika Serikat, September 2001. ?Tumpukan
lapisan beton inilah yang bikin susah pencarian.?
Dengan kondisi serba berserak seperti itu, mencari korban di bawah ?kue
lapis? beton itu tak bisa cuma dengan mengandalkan ketajaman penciuman
anjing pelacak. Soalnya, anjing pelacak tak bisa menentukan secara tepat
beton bagian mana yang harus dibobol. Para sukarelawan di Amerika Serikat
itu menggunakan alat pendeteksi suara, yang bekerja jauh lebih akurat.
Dengan memasang beberapa sensor di puing-puing beton, mereka akan bisa
menentukan lokasi korban yang hidup (lihat infografik).
Fenomena kue lapis beton itu rupanya juga ada pada ruko Hendra. Saat gedung
berlantai dua itu rontok terkena gempa berkekuatan 8,7 magnitudo, bangunan
itu juga ditimpa bangunan tetangganya. Dalam kasus pencarian Hendra di Nias,
anggota marinir Angkatan Laut, dibantu tim penyelamat dari Meksiko, dan
Garda Hansip Singapura, sudah enam kali melubangi lantai beton yang miring
45 derajat. Tapi, hasilnya cuma bau mayat korban lain yang menusuk.
Baru pada hari kelima mereka memasang Delsar, alat pendeteksi suara yang
bisa menangkap suara lemah di frekuensi 1 hertz hingga 3.000 hertz?suara
normal yang bisa didengar manusia 20 hertz sampai 20.000 hertz. Saat itulah
terdengar suara di tangga lantai satu, suara Hendra yang minta minum.
Dengan patokan itulah mereka membobol sebuah titik lokasi. Rupanya, lubang
itu mentok pada balkon lantai dua ruko. Lubang ini kemudian diteruskan ke
lapisan di bawahnya. Dan sinyal-sinyal suara Hendra makin kuat terdengar.
Mereka lalu mendapatkan lubang kecil yang mengarah ke Hendra, yang cuma
punya ruang setinggi 30 sentimeter. Kapten Ong, Kepala Garda Hansip
Singapura di Nias, pun menyisipkan mikrofon. Itulah untuk pertama kali tim
relawan bercakap-cakap dengan Hendra, setelah ia lima hari terbaring dalam
penjara beton yang gelap dan sunyi.
Tim kemudian mengulurkan selang yang berisi cairan makanan dan vitamin
melalui selembar kayu yang dimasukkan di antara celah yang sudah terbuka itu
dengan susah payah. Uluran selang ini langsung direspons Hendra, dan
menyusul kemudian bantuan air mineral dan biskuit. ?Saya merasa air ini
kiriman dari surga,? kata Hendra.
Burhan Sholihin, Istiqomatul Hayati (Nias)
__________ Information from ESET Smart Security, version of virus signature
database 4462 (20090927) __________
The message was checked by ESET Smart Security.
http://www.eset.com
__________ Information from ESET Smart Security, version of virus signature
database 4462 (20090927) __________
The message was checked by ESET Smart Security.
http://www.eset.com
__________ Information from ESET Smart Security, version of virus signature
database 4462 (20090927) __________
The message was checked by ESET Smart Security.
http://www.eset.com