Taun-taun ieu  ngadadak lini ngalobaan di Indonesia, ngan hanjakal akhli dina 
widang ieu ngan saeutik keneh. Katingali we nu nonghol dina TV eta-eta keneh. 
Tapi ketang ayeuna mah geus lumayan, dibanding 20-30 taun katukang. Elmu ieu 
kurang narik dina segi duit sabab kaasup elmu murni (pisan), jadi nu geus 
diajar oge lalumpatan kana aplikasina nu dipake neangan sumber alam di jero 
taneuh. Nu angger konsisten dina elmuna mah saeutik pisan. 

Kudu kumaha nya?

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/07/04172396/ayo.belajar.geologi.dan.jadi.ahli.gempa

LAPORAN IPTEK
Ayo Belajar Geologi dan Jadi Ahli Gempa

Rabu, 7 Oktober 2009 | 04:17 WIB

Oleh NINOK LEKSONO

Gempa bumi, (letusan) gunung berapi, dan tsunami sejak lama menimbulkan 
ketakutan dan (sekaligus) kekaguman dalam pikiran manusia, melahirkan mitos, 
legenda, dan banyak film bencana Hollywood. Kini, teknologi maju memungkinkan 
kita berlatih, mengukur, memantau, mengambil sampel, dan mencitra Bumi dan 
gerakannya seperti belum pernah terjadi sebelumnya…. (Dr Ellen J Prager, 
"Furious Earth", 2000)

Gempa demi gempa terkesan semakin rajin menyambangi Tanah Air. Di tengah era 
informasi dan maraknya industri media, serba hal mengenai gempa pun hadir ke 
jantung rumah tangga. Orang tua, orang muda, dan anak-anak yang selama ini 
kurang (atau bahkan tidak) memerhatikan soal-soal gempa kini banyak yang 
terpaku lama menyaksikan reportase dari wilayah bencana melalui TV atau 
membacanya di media cetak dan online.

Mula-mula yang muncul adalah ketakutan, membayangkan bagaimana kalau gempa 
terjadi di kotanya sendiri. Tentu selain itu juga rasa prihatin dan peduli atas 
bencana yang terjadi. Berikutnya, dari rasa peduli dan takut tadi muncul pula 
rasa ingin tahu tentang berbagai segi, menyangkut penyebab-penyebab terjadinya 
gempa, mana saja daerah yang rawan gempa, apakah gempa dapat diramalkan, atau 
bagaimana cara mengurangi akibat mematikan gempa.

Barangkali itu awal yang menarik bagi tumbuhnya minat terhadap ilmu-ilmu yang 
terkait dengan kegempaan, yang sebagian ada di ilmu geologi, juga di 
cabang-cabangnya, seperti seismologi, dan juga di geofisika. Harus diakui, 
hingga belum lama ini, ilmu tersebut masih sering dilihat dengan sebelah mata, 
sebagai ilmu yang kering, dan kurang banyak manfaatnya untuk dipelajari.

Kini, dengan sering terjadinya gempa dan semakin tumbuhnya kesadaran bahwa 
Tanah Air berada di jalur gempa dan gunung api yang dikenal sebagai Cincin Api, 
masyarakat semakin menyadari pentingnya ilmu-ilmu di atas.

Memang gempa tak akan memusnahkan bangsa Indonesia, kecuali mungkin yang 
disebabkan oleh gempa dan tsunami kosmik akibat wilayah Nusantara ditumbuk oleh 
asteroid atau komet besar. Namun, terus-menerus diguncang gempa—apalagi bila 
tanpa pembelajaran memadai untuk meminimalkan dampak—bisa menguras tenaga dan 
pikiran bangsa. Belum lagi harus diakui, ada kerugian materiil yang amat besar 
tiap kali terjadi gempa (atau letusan gunung berapi), plus biaya rehabilitasi 
dan rekonstruksi.

Melalui cinta ilmu geologi, pemahaman dan kearifan akan sifat dan perilaku Bumi 
meningkat. Berikutnya, risiko bencana dapat dikurangi, korban dapat 
diminimalkan, dan kerugian harta benda dapat ditekan.

Ilmu kebumian

Fokus bahasan kita kali ini pada ilmu geologi, yang mempelajari komposisi, 
struktur, proses, dan sejarah Bumi. Ilmuwan yang mendefinisikan geologi adalah 
Sir Charles Lyell pada tahun 1830. Semenjak saat itu, studi geologi diperluas 
sampai ke planet-planet lain dan satelitnya, yang lalu dikenal sebagai geologi 
keplanetan. Ada banyak cabang dalam geologi, antara lain geofisika, yang 
mempelajari fisika Bumi.

Melalui ilmu inilah orang mengenal lapisan-lapisan yang ada di Bumi, yakni 
kerak atau kulit, lalu mantel dan inti. Kerak bumi yang berwujud 
lempeng-lempeng ini rupanya telah bergerak ke sana-sini di permukaan Bumi 
setidaknya sejak 600 juta tahun terakhir—dan bisa jadi sejak beberapa miliar 
tahun sebelumnya (New York Public Library Science Desk Ref, 1995). Sekarang 
ini, setiap lempeng bergerak dengan kecepatan berbeda-beda, di antaranya ada 
yang dengan kecepatan 2,5 sentimeter per tahun.

Para ilmuwan yakin, pada masa lalu, sekitar 250 juta tahun silam, ada benua 
besar atau superkontinen yang dinamai Pangaea (Nama Pangaea diusulkan oleh 
geolog besar Alfred Wegener tahun 1915). Sekitar 180 juta tahun lalu, 
superkontinen ini pecah, menjadi Gondwanaland, atau Gondwana, dan Laurasia. 
Gondwana adalah kontinen hipotetis yang dibentuk dari bersatunya Amerika 
Selatan, Afrika, Australia, India, dan Antartika. Sementara Laurasia tersusun 
dari Amerika Utara dan Eurasia. Sekitar 65 juta tahun silam—masa sekitar 
punahnya dinosaurus—kedua kontinen itu mulai berpisah, perlahan-lahan membentuk 
tatanan seperti yang kita lihat sekarang ini.

Ada prediksi menarik: dalam 50 juta tahun dari sekarang, pantai barat Amerika 
Utara akan robek dari daratan utama (mainland), dan—ini dia—Australia akan 
bergerak ke utara dan bertubrukan dengan Indonesia. Sementara Afrika dan Asia 
akan terpisah di Laut Merah.

Riwayat menarik

Kini, ketika kita semakin mengakui pentingnya ilmu-ilmu alam, kebumian, baik 
juga dipikirkan cara untuk mengembangkan minat. Jangan sampai ironi yang ada 
sekarang ini berkepanjangan, di mana negara di Cincin Api hanya memiliki 
sejumlah kecil ahli, seperti hari-hari ini kita baca profilnya di harian ini. 
Mereka bekerja di sejumlah lembaga pendidikan dan penelitian seperti ITB, UGM, 
LIPI, dan BPPT.

Dengan frekuensi berita gempa yang tinggi akhir-akhir ini, terungkap pula 
sejumlah istilah dan teori fundamental dalam geologi, seperti intensitas gempa 
dalam skala Richter dan tentang lempeng tektonik.

Demi masa depan

Sebagaimana studi tentang hutan, iklim, atau vulkanologi, ilmuwan ahli gempa 
Indonesia punya peluang besar untuk berkontribusi dalam sains yang hebat ini 
karena Indonesia sering disebut sebagai laboratorium alam yang unik. Sumbangan 
ilmiah ini maknanya tidak saja sebatas pemerkayaan ilmu pengetahuan, tetapi 
juga terkait dengan masa depan manusia.

Dalam jangka dekat, peminat dan ilmuwan ahli gempa mungkin masih merasa 
tertantang untuk menjawab pertanyaan fundamental seperti "dapatkah kita meramal 
terjadinya gempa?"

Saat ini jawabannya adalah "mustahil" bila yang dimaksud adalah meramal "hari, 
tanggal, dan jam berapa gempa akan terjadi". Karena yang bisa diketahui baru 
wilayah mana yang akan terancam gempa dalam kurun 20-30 tahun mendatang, 
sebenarnya pekerjaan sudah menanti untuk menyiapkan segala sesuatunya. 
Tujuannya tidak lain untuk meminimalkan potensi kerusakan akibat gempa.

Mari kita sambut tantangan ilmu geologi untuk semakin memahami Bumi dan segala 
aktivitasnya. Kita yakin, dengan semakin bertambahnya ahli gempa, akan semakin 
nyaring suara yang mengingatkan bangsa Indonesia untuk selalu siaga menghadapi 
pergerakan lempeng tektonik jauh di bawah sana.

Kirim email ke