Ti saprakna "Bom Ma Erot", geus 9 urang nu disangka teroris paeh ditembak 
pulisi. Naha nya teu ditewak hirup-hirup? Cenah mah ngalawan jeung memang 
niatna hayang paeh. Ngan nyaeta lamun paeh mah, informasina jadi pegat, kabawa 
ka liang kubur ......

Opini: 
Menangkap Teroris Hidup-hidup

http://www.tempointeraktif.com/hg/opiniKT/2009/10/13/krn.20091013.178924.id.html

Selasa, 13 Oktober 2009 | 00:41 WIB

Kini timbul kesan bahwa pemerintah menempuh jalan pintas dalam memerangi 
teroris. Hampir semua gembong teroris ditembak mati di tempat penyergapan. Jika 
bukan suatu kebetulan, inilah cara yang lebih murah memberantas terorisme 
dibanding lewat proses hukum. Masalahnya, kebijakan seperti ini--andaikata 
benar-benar ada--jelas tidak bisa dibenarkan karena melanggar hak asasi manusia.

Publik mulai mempertanyakan hal itu karena buron teroris yang disergap belum 
lama ini, Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir, pun dihabisi saat penyergapan. 
Nasib mereka sama dengan gembong teroris Noor Din M. Top, juga buron teroris 
lain, seperti Ibrohim. Polisi seolah tak punya cara melumpuhkan mereka selain 
dengan menembak mati.

Bukan berarti kita tidak menghargai prestasi. Pencapaian polisi tetap penting 
dalam memberantas teroris. Soalnya, Syaifudin, misalnya, sosok yang andal di 
kalangan teroris. Dialah yang merekrut dua pelaku bom bunuh diri yang 
meledakkan Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Mega Kuningan, Jakarta, Juli 
lalu. Bahkan Syaifudin disebut-sebut bisa lebih hebat dibanding Noor Din karena 
pergaulannya yang luas di negara yang warganya menjadi donatur aksi terorisme 
di Indonesia.

Persoalannya, kenapa polisi tidak berusaha keras menangkap hidup-hidup para 
tersangka teroris, termasuk juga Noor Din. Padahal perlawanan mereka, paling 
tidak yang muncul ke permukaan, tidaklah sesengit yang dilakukan oleh kelompok 
Azahari ketika ditangkap di Malang, Jawa Timur. Dulu, Azahari mengamankan 
perimeternya dengan bom, selain membawa-bawa bom rompi. Belakangan, para 
tersangka cuma melawan dengan bom pipa--mirip dinamit.

Menangkap teroris hidup-hidup amatlah penting agar pemerintah tak dituding 
membalas aksi biadab mereka dengan cara serupa. Keuntungan lain, polisi masih 
bisa menggali informasi dari mereka. Syaifudin, misalnya, bisa dimintai 
konfirmasi benarkah ia bukan anggota "asli" kawanan Noor Din dan bukan berasal 
dari kalangan Jamaah Islamiyah. Informasi dari kakaknya, Syahrir, tak kalah 
berguna. Misalnya, benarkah ia memiliki rencana melakukan serangan teroris 
dengan moda pesawat terbang.

Lagi pula saat ini masih banyak pentolan teroris yang bebas. Ada, misalnya, 
Para Wijayanto, yang diduga pemimpin senior di Jamaah Islamiyah. Ada Dulmatin, 
tersangka pembuat Bom Bali I. Ada Upik Lawanga, ahli bom lainnya, dan tersangka 
berbagai serangan bom di Poso, termasuk bom Tentena. Informasi apa pun dari 
tersangka terorisme, sungguhpun sedikit, bisa menjadi pengantar untuk menuju ke 
jejaring mereka.

Memang menangkap tersangka teroris hidup-hidup tidak gampang. Soalnya, sebagian 
dari mereka malah telah menyiapkan diri untuk mati. Itulah pentingnya polisi 
mendeteksi potensi bahaya target, dan melumpuhkan atau menangkap hidup-hidup 
mereka ketika dalam keadaan lemah.

Hanya dengan cara itu kesan bahwa pemerintah cenderung menghindari proses 
peradilan bagi teroris bisa dihapus. Dengan berusaha menangkap hidup-hidup pula 
kita memberikan kesempatan kepada para teroris membela diri, sekaligus tetap 
menghargai hak asasi mereka.


Kirim email ke