"Teng manuk teng, anak merak kukuncungan", meureun paribasa ieu cocog keur Prof 
Armida nu rek diangkat jadi mentri ku SBY ayeuna. Armida anak awewe Prof Muhtar 
Kusumaatmaja jeung Alo Sarwono Kusumaatamja, dua-duana oge kungsi jadi mentri. 
Armida oge minantu Almarhum Prof Iskandar Alisyahbana, urut Rektor ITB.

Prof. Dr. Armida Salsiah Alisjahbana, S.E., M.A.
Memadukan Ilmu dengan Kebijakan Pemerintah

http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=23672

Profesor Dr. Armida Salsiah Alisjahbana, S.E., M.A. sangat konsisten dengan 
keilmuan dan upaya membangun perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, ia 
menggabungkan keilmuan yang dipunyainya dengan upaya-upaya pemerintah dalam 
membangun perekonomian masyarakat negeri ini.

Seorang professor atau guru besar identik dengan kacamata tebal dan tua. Namun, 
jika melihat sosok Armida, kesan tersebut sama sekali tidak tampak pada 
dirinya. Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Ekonomi Unpad ini, meskipun 
berkacamata, namun tidak tebal. Kacamata minusnya tampak modis dan up-to-date. 
Perempuan berperawakan sedang ini pun relatif masih muda, 48 tahun.

Akan tetapi, ketekunan dan kepeduliannya akan keilmuan tentu mencerminkan 
dirinya sebagai seorang profesor.

Selain sebagai pembimbing S-1, S-2, S-3, di kampusnya ia juga bertindak sebagai 
konsultan World Bank di bidang pendidikan, di Bappenas, di Badan Pusat 
Statistik (BPS), staf ahli Departeman Keuangan dan Menteri Koperasi. Ilmunya 
juga ia sumbangkan di berbagai seminar dalam dan luar negeri. Belum lagi ia 
sebagai anggota ISEI Indonesia, American Economic Association (AEA), USA, 
International Institute of Public Finance (IIPF), USA, East Asian Economic 
Association (EAEA).

Karena kesibukannya, ia hampir setiap akhir pekan tidak ada di Bandung.

Kepakaran Armida diasah terus dengan cara mengikuti berbagai seminar, sebagai 
pembicara maupun peserta, di dalam dan luar negeri. Di dalam seminar tersebut 
ia tak jarang memberikan masukan demi perkembangan negeri tercintanya.

Ketika tahun 2006 dibentuk Tim-Lima-Universitas yang mengkaji UU 13/2003 
tentang tenaga kerja, Armida yang memimpin tim. "Kajiannya sangat strategis, 
banyak aspekdan masukan dan di-follow up oleh pemerintah secara bertahap, untuk 
dicarikan solusinya," katanya.

Relatif muda

Armida diangkat menjadi guru besar Unpad Mei 2005 pada usia relatif muda, 44 
tahun.

"Relatif ya. Sebenarnya tidak ditentukan dari usia, tapi komponen-komponen yang 
dinilai seperti pendidikan, pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat sudah 
memenuhi kredit," tuturnya.

Intinya, kalau akademisi tentu jangan berhenti berkarya. Itu tantangannya. 
"Karya-karya itu yang sebenarnya dinilai oleh siapa pun, termasuk penilaian 
terhadap suatu universitas. Bobot yang besar adalah karya/tulisan yang dimuat 
oleh jurnal internasional. Kian banyak dikutip terutama di kalangan 
internasional semakin terkenallah si universitas itu," ungkapnya.

Persepsi orang tentang dosen cuma mengajar, itu tidak benar. "Selain mengajar, 
justru dosen itu harus banyak melakukan penelitian, menulis, diskusi, seminar, 
konferensi, lokakarya. Selain itu, karena kita juga nggak mau jadi menara 
gading, dosen juga aktif di kegiatan pemerintahan," kata ibu dua anak ini.

Oleh karena itu, Armida selain menjadi dosen juga aktif di kantor Menko 
Departemen Keuangan. Di sana Armida sebagai ahli memberikan masukan-masukan. Di 
Bapennas, ia juga membantu kegiatan prakarsa strategi.

Dosen di Indonesia memang harus bersinergi dengan masyarakat dan pemerintah. Ia 
juga aktif di semacam mitra BPS, namanya forum masyarakat positif. "Untuk 
advisory role kepada BPS," katanya.

Menurut dia, waktu dosen jangan sampai selalu tersita oleh pekerjaan 
administratif, tapi ia juga harus bisa mengembangkan institusi. "Mengajar 
harus, penelitian harus, nulis harus, advisory role juga harus. Memang repot, 
tapi ya bagaimana, it`s a part of the job, `` kata Armida.

Cita-cita

Terjun di bidang ekonomi sesuai dengan cita-cita Armida. Sejak menginjak 
dewasa, ia ingin warga miskin di negeri ini berkurang. Ia bersyukur melalui 
kepakarannya di bidang ilmu ekonomi publik, ia bisa memberikan masukan-masukan 
kepada dinas-dinas terkait, di daerah maupun pusat.

"Sejak dulu saya mempunyai cita-cita menjadi ekonom," kata anak ke-2 dari 
pasangan pasangan Prof. Muchtar Kusumaatmadja dan Siti Hadidjah.

Dorongan yang sangat kuat untuk menjadi ekonom itu ia rasakan saat duduk di SMP 
dan SMA di Bandung. "Hampir setiap minggu saya bolak-balik Bandung-Jakarta naik 
kereta api, karena waktu itu bapak menjabat Menteri Luar Negeri dan ibu 
mendampingi bapak. Dari kereta api saya melihat kekumuhan dan gubuk-gubuk di 
pinggiran rel kereta api, terutama di daerah Kota Jakarta. Kok, di Indonesia 
banyak yang miskin,`` ujar Armida.

Boyongan

Armida lahir dan dibesarkan di Bandung. Ketika ayahnya menjabat Menlu RI, 
Armida tetap tinggal dan sekolah di Bandung. Setelah lulus SMA Negeri 3 
Bandung, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), 
lalu S-2 Master of Arts in Economics di Northwestern University, Evanston, 
Illinois, USA.

Setelah lulus S-2, Armida menikah dengan Andi Alisjahbana, teman semasa SMA. 
Andi sekarang menjadi salah seorang Direksi PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

``Sejak saya menikah, nama saya menjadi Armida S. Alisjahbana," ungkap 
perempuan kelahiran Bandung, 16 Agustus 1960 ini.

Setelah anak pertama lahir, Armida diboyong suaminya ke Amerika. Andi, sang 
suami, sekolah di Boeing, Seattle Amerika. Awalnya ia memilih jadi ibu rumah 
tangga, mengurus anak dan suami, hingga anak keduanya lahir di sana.

"Setelah 2 tahun di Amerika, saya berpikir kenapa tidak sekalian mengambil S-3 
saja" ujarnya.

Akhirnya Armida mendaftar S-3 di University of Washington, Seattle, Washington, 
USA, padahal suaminya sudah selesai sekolah dan harus kembali ke Indonesia. 
Untuk biaya hidup selama S-3, Armida mendapat beasiswa dari The World Bank.

Namun sebelum mendapat beasiswa, Armida sempat harus berpisah sekitar setahun 
dengan kedua anaknya yang dibawa pulang oleh suaminya ke Indonesia.

"Andi selesai bekerja setelah 2 tahun, sementara saya baru sekolah 6 bulan. 
Jadi, Andi pulang bawa anak-anak 1 tahun dan 6 bulan," ujarnya. Anak-anaknya 
dipulangkan ke Indonesia karena Armida baru 6 bulan sekolah. "Jadi, belum pasti 
bisa melanjutkan atau tidak ke S-3. Beasiswa saya pun sedikit, nggak cukup 
untuk anak-anak. Jadi anak-anak pulang dulu sama suami, Lalu saya ujian 
kualifikasi doktor, saya mengajukan beasiswa ke World Bank, setelah dapat 
beasiswa baru anak-anak ke AS lagi," ujarnya.

Ketika ia dan anak-anaknya di AS, sang suami bolak-balik Indonesia-AS.

November 1994 Armida lulus doktor dengan tesis "Demand for Children`s Schooling 
in Indonesia: Intrahousehold Allocation of Resources, the Role of Prices and 
Schooling Quality".

Sekarang Armida tinggal memetik buah keuletan dan pengorbanannya. Anak-anak pun 
kini sudah besar. "Yang besar tingkat kedua di ITB-Sekolah Ilmu Teknologi 
Hayati, dulu Biologi. Yang kedua di Amerika, tahun lalu mengambil ekonomi di 
Boston University," kata ibu dari Arlita Alisjahbana (19) dan Ariana 
Alisjahbana (18) ini.

Armida memang sangat concern terhadap dunia pendidikan dan keilmuan. Bahkan, ia 
tidak berniat untuk membuka usaha lain meskipun kelak sudah pensiun. "Saya 
konsisten untuk menjadi ilmuwan, karena selama ini yang mencari nafkah untuk 
keluarga adalah suami. Kalaupun mau bisnis, biar suami saja,`` kata Armida.

Namun, menjadi ilmuwan tak selalu harus serius. Menjaga kondisi tubuh serta 
refreshing harus tetap dilakukan agar kehidupan berjalan seimbang.

Oleh karena itu, untuk menjaga kesehatan ia selalu berolah raga. ``Yang pasti 
fitness bersama suami, seminggu dua atau tiga kali. Makanan, saya memang nggak 
suka jeroan dan nggak suka makan banyak. Biasa saja," ujarnya. (Ida F. 
Suliztyarto)***

--- In [email protected], "mj" <ja...@...> wrote:
> 22. Linda Agum Gumelar SIP. Istrina gan Agum Gumelar. Linda teh  putrina
> Ahmad Taher, jenderal nu jaman Agum sakola tangtara di AMN janten rektorna
> (istilahna gubernur). 


Kirim email ke