Hebatlah..wanoja Sunada rek ngarenanakeun Pangwangunan Nasional Indonesia sisagala widang..sok lah Bu...
On 10/20/09, Waluya <[email protected]> wrote: > > > > "Teng manuk teng, anak merak kukuncungan", meureun paribasa ieu cocog keur > Prof Armida nu rek diangkat jadi mentri ku SBY ayeuna. Armida anak awewe > Prof Muhtar Kusumaatmaja jeung Alo Sarwono Kusumaatamja, dua-duana oge > kungsi jadi mentri. Armida oge minantu Almarhum Prof Iskandar Alisyahbana, > urut Rektor ITB. > > Prof. Dr. Armida Salsiah Alisjahbana, S.E., M.A. > Memadukan Ilmu dengan Kebijakan Pemerintah > > http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=23672 > > Profesor Dr. Armida Salsiah Alisjahbana, S.E., M.A. sangat konsisten dengan > keilmuan dan upaya membangun perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, ia > menggabungkan keilmuan yang dipunyainya dengan upaya-upaya pemerintah dalam > membangun perekonomian masyarakat negeri ini. > > Seorang professor atau guru besar identik dengan kacamata tebal dan tua. > Namun, jika melihat sosok Armida, kesan tersebut sama sekali tidak tampak > pada dirinya. Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Ekonomi Unpad ini, > meskipun berkacamata, namun tidak tebal. Kacamata minusnya tampak modis dan > up-to-date. Perempuan berperawakan sedang ini pun relatif masih muda, 48 > tahun. > > Akan tetapi, ketekunan dan kepeduliannya akan keilmuan tentu mencerminkan > dirinya sebagai seorang profesor. > > Selain sebagai pembimbing S-1, S-2, S-3, di kampusnya ia juga bertindak > sebagai konsultan World Bank di bidang pendidikan, di Bappenas, di Badan > Pusat Statistik (BPS), staf ahli Departeman Keuangan dan Menteri Koperasi. > Ilmunya juga ia sumbangkan di berbagai seminar dalam dan luar negeri. Belum > lagi ia sebagai anggota ISEI Indonesia, American Economic Association (AEA), > USA, International Institute of Public Finance (IIPF), USA, East Asian > Economic Association (EAEA). > > Karena kesibukannya, ia hampir setiap akhir pekan tidak ada di Bandung. > > Kepakaran Armida diasah terus dengan cara mengikuti berbagai seminar, > sebagai pembicara maupun peserta, di dalam dan luar negeri. Di dalam seminar > tersebut ia tak jarang memberikan masukan demi perkembangan negeri > tercintanya. > > Ketika tahun 2006 dibentuk Tim-Lima-Universitas yang mengkaji UU 13/2003 > tentang tenaga kerja, Armida yang memimpin tim. "Kajiannya sangat strategis, > banyak aspekdan masukan dan di-follow up oleh pemerintah secara bertahap, > untuk dicarikan solusinya," katanya. > > Relatif muda > > Armida diangkat menjadi guru besar Unpad Mei 2005 pada usia relatif muda, > 44 tahun. > > "Relatif ya. Sebenarnya tidak ditentukan dari usia, tapi komponen-komponen > yang dinilai seperti pendidikan, pengajaran, penelitian, pengabdian > masyarakat sudah memenuhi kredit," tuturnya. > > Intinya, kalau akademisi tentu jangan berhenti berkarya. Itu tantangannya. > "Karya-karya itu yang sebenarnya dinilai oleh siapa pun, termasuk penilaian > terhadap suatu universitas. Bobot yang besar adalah karya/tulisan yang > dimuat oleh jurnal internasional. Kian banyak dikutip terutama di kalangan > internasional semakin terkenallah si universitas itu," ungkapnya. > > Persepsi orang tentang dosen cuma mengajar, itu tidak benar. "Selain > mengajar, justru dosen itu harus banyak melakukan penelitian, menulis, > diskusi, seminar, konferensi, lokakarya. Selain itu, karena kita juga nggak > mau jadi menara gading, dosen juga aktif di kegiatan pemerintahan," kata ibu > dua anak ini. > > Oleh karena itu, Armida selain menjadi dosen juga aktif di kantor Menko > Departemen Keuangan. Di sana Armida sebagai ahli memberikan masukan-masukan. > Di Bapennas, ia juga membantu kegiatan prakarsa strategi. > > Dosen di Indonesia memang harus bersinergi dengan masyarakat dan > pemerintah. Ia juga aktif di semacam mitra BPS, namanya forum masyarakat > positif. "Untuk advisory role kepada BPS," katanya. > > Menurut dia, waktu dosen jangan sampai selalu tersita oleh pekerjaan > administratif, tapi ia juga harus bisa mengembangkan institusi. "Mengajar > harus, penelitian harus, nulis harus, advisory role juga harus. Memang > repot, tapi ya bagaimana, it`s a part of the job, `` kata Armida. > > Cita-cita > > Terjun di bidang ekonomi sesuai dengan cita-cita Armida. Sejak menginjak > dewasa, ia ingin warga miskin di negeri ini berkurang. Ia bersyukur melalui > kepakarannya di bidang ilmu ekonomi publik, ia bisa memberikan > masukan-masukan kepada dinas-dinas terkait, di daerah maupun pusat. > > "Sejak dulu saya mempunyai cita-cita menjadi ekonom," kata anak ke-2 dari > pasangan pasangan Prof. Muchtar Kusumaatmadja dan Siti Hadidjah. > > Dorongan yang sangat kuat untuk menjadi ekonom itu ia rasakan saat duduk di > SMP dan SMA di Bandung. "Hampir setiap minggu saya bolak-balik > Bandung-Jakarta naik kereta api, karena waktu itu bapak menjabat Menteri > Luar Negeri dan ibu mendampingi bapak. Dari kereta api saya melihat > kekumuhan dan gubuk-gubuk di pinggiran rel kereta api, terutama di daerah > Kota Jakarta. Kok, di Indonesia banyak yang miskin,`` ujar Armida. > > Boyongan > > Armida lahir dan dibesarkan di Bandung. Ketika ayahnya menjabat Menlu RI, > Armida tetap tinggal dan sekolah di Bandung. Setelah lulus SMA Negeri 3 > Bandung, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia > (UI), lalu S-2 Master of Arts in Economics di Northwestern University, > Evanston, Illinois, USA. > > Setelah lulus S-2, Armida menikah dengan Andi Alisjahbana, teman semasa > SMA. Andi sekarang menjadi salah seorang Direksi PT Dirgantara Indonesia (PT > DI). > > ``Sejak saya menikah, nama saya menjadi Armida S. Alisjahbana," ungkap > perempuan kelahiran Bandung, 16 Agustus 1960 ini. > > Setelah anak pertama lahir, Armida diboyong suaminya ke Amerika. Andi, sang > suami, sekolah di Boeing, Seattle Amerika. Awalnya ia memilih jadi ibu rumah > tangga, mengurus anak dan suami, hingga anak keduanya lahir di sana. > > "Setelah 2 tahun di Amerika, saya berpikir kenapa tidak sekalian mengambil > S-3 saja" ujarnya. > > Akhirnya Armida mendaftar S-3 di University of Washington, Seattle, > Washington, USA, padahal suaminya sudah selesai sekolah dan harus kembali ke > Indonesia. Untuk biaya hidup selama S-3, Armida mendapat beasiswa dari The > World Bank. > > Namun sebelum mendapat beasiswa, Armida sempat harus berpisah sekitar > setahun dengan kedua anaknya yang dibawa pulang oleh suaminya ke Indonesia. > > "Andi selesai bekerja setelah 2 tahun, sementara saya baru sekolah 6 bulan. > Jadi, Andi pulang bawa anak-anak 1 tahun dan 6 bulan," ujarnya. Anak-anaknya > dipulangkan ke Indonesia karena Armida baru 6 bulan sekolah. "Jadi, belum > pasti bisa melanjutkan atau tidak ke S-3. Beasiswa saya pun sedikit, nggak > cukup untuk anak-anak. Jadi anak-anak pulang dulu sama suami, Lalu saya > ujian kualifikasi doktor, saya mengajukan beasiswa ke World Bank, setelah > dapat beasiswa baru anak-anak ke AS lagi," ujarnya. > > Ketika ia dan anak-anaknya di AS, sang suami bolak-balik Indonesia-AS. > > November 1994 Armida lulus doktor dengan tesis "Demand for Children`s > Schooling in Indonesia: Intrahousehold Allocation of Resources, the Role of > Prices and Schooling Quality". > > Sekarang Armida tinggal memetik buah keuletan dan pengorbanannya. Anak-anak > pun kini sudah besar. "Yang besar tingkat kedua di ITB-Sekolah Ilmu > Teknologi Hayati, dulu Biologi. Yang kedua di Amerika, tahun lalu mengambil > ekonomi di Boston University," kata ibu dari Arlita Alisjahbana (19) dan > Ariana Alisjahbana (18) ini. > > Armida memang sangat concern terhadap dunia pendidikan dan keilmuan. > Bahkan, ia tidak berniat untuk membuka usaha lain meskipun kelak sudah > pensiun. "Saya konsisten untuk menjadi ilmuwan, karena selama ini yang > mencari nafkah untuk keluarga adalah suami. Kalaupun mau bisnis, biar suami > saja,`` kata Armida. > > Namun, menjadi ilmuwan tak selalu harus serius. Menjaga kondisi tubuh serta > refreshing harus tetap dilakukan agar kehidupan berjalan seimbang. > > Oleh karena itu, untuk menjaga kesehatan ia selalu berolah raga. ``Yang > pasti fitness bersama suami, seminggu dua atau tiga kali. Makanan, saya > memang nggak suka jeroan dan nggak suka makan banyak. Biasa saja," ujarnya. > (Ida F. Suliztyarto)*** > > --- In [email protected] <urangsunda%40yahoogroups.com>, "mj" > <ja...@...> wrote: > > 22. Linda Agum Gumelar SIP. Istrina gan Agum Gumelar. Linda teh putrina > > Ahmad Taher, jenderal nu jaman Agum sakola tangtara di AMN janten > rektorna > > (istilahna gubernur). > > >

