Para Sesepuh Sang Juru Selamat

Kedua perempuan usia lanjut itu terlihat sumringah karena dalam waktu
hampir bersamaan di bulan September 2009 lalu menerima dua
penghargaan. Pertama, diberikan oleh Yayasan Batik Indonesia yang
diserahkan oleh Ny. Ani Yudhoyono (Ibu Negara). Perhargaan terakhir,
diberikan oleh Wali Kota Tasikmalaya Syarif Hidayat. Penghargaan
diberikan kepada Ny. Ipoh Latifah (84) dan Ny. Enok Sukanah (75), dua
perempuan lanjut usia atas pengabdiannya kepada dunia batik yang
dengan penuh kesetiaan ditekuninya.

"Ini piagam dari Yayasan Batik Indonesia yang diberikan oleh Ibu
Presiden. Saya diberi piagam karena merupakan pembuat batik paling
tua," kata Ny. Enok Sukanah sambil memperlihatkan piagam penghargaan
di sela-sela gebyar batik Kota Tasikmalaya belum lama ini.

Mereka senang dan bangga. Apalagi salah satu dari penghargaan itu
diberikan oleh Ibu Negara. "Selain piagam, saya juga memperoleh
uangnya sebesar Rp 7,5 juta. Ini benar-benar di luar dugaan," katanya
sambil tersenyum.

Kebahagiaan Ipoh dan Enok bertambah, karena Wali Kota Tasikmalaya juga
memberikan penghargaan dan juga uang pembinaannya. Selain kedua
perempuan lanjut usia tadi, penghargaan serupa juga diberikan kepada
Ny. Ecin Kuraesin, perajin batik lainnya asal Ciroyom.

"Piagamnya jadi dua. Satu dari yayasan batik dan satunya lagi dari Pak
Wali Kota," kata Ipoh menambahkan.

Ipoh dan Enok adalah dua perempuan paling tua yang menekuni batik di
sentra perajin batik Ciroyom, Kelurahan Nagarsari, Kecamatan Cipedes,
Kota Tasikmalaya. Lebih dari lima puluh tahun atau setengah abad
menekuni kerajinan batik tulis tersebut.

Ipoh menceritakan, dia membuat atau menulis batik sejak lulus sekolah
rakyat (SR) 75 tahun lalu. Waktu itu, keluarganya juga menjadi perajin
batik.

Kebiasaan membuat motif batik di kain, karena pengaruh lingkungan
keluarganya yang memang pengrajin batik. "Sejak lama, daerah Ciroyom
menjadi sentra batik. Saya belajar sendiri, ikut saudara dan teman di
daerah Ciroyom yang bekerja membuat batik, " katanya.

Semasa gadis, Ipoh bekerja di beberapa juragan batik yang ada di
Ciroyom. Terakhir, sejak tahun ‘70-an, menetap di pengusaha batik
Agnesa milik Cacuk. Selama puluhan tahun jadi pekerja batik, perempuan
ini merasakan dan sekaligus jadi pelaku sejarah dari pasang surutnya
batik pedalaman di Tasikmalaya.

"Masa keemasan batik Tasikmalaya di tahun ‘60-an sampai akhir ’80-an.
Orang-orang kaya dari Tasikmalaya sebagian besar adalah juragan
batik," katanya.

**

Puncak masa surut saat memasuki tahun ‘90-an, batik Tasikmalaya kian
tersisih. Banyak perusahaan gulung tikar dan meninggalkan usaha batik.
Meski begitu, Ipoh tetap menekuni batik tulis. Hanya jumlahnya semakin
sedikit. Pesanan pekerjaan terus menyusut. Masa-masa kelabu itu
berlangsung lama dan Ipoh dirundung dalam kesedihan mendalam.

"Pada masa surut, semua meninggalkan batik. Sangat sedikit yang masih
setia menekuni batik, salah satunya saya," tutur wanita itu mengenang.

Namun di luar dugaan, dalam tiga tahun terakhir, batik seolah
mengalami pasang. Pesanan batik pun kembali pesat. Ipoh di usianya
yang semakin uzur bersemangat kembali untuk menulis batik.

"Hanya, sekarang tenaga saya sudah terbatas. Dalam sehari, hanya mampu
menulis motif batik paling banyak dua lembar," tutur dia.

Motif batik yang banyak dibuat oleh Ipoh yaitu lereng, kadaka uncal
dan lainnya. Ny. Cacuk, tempat Ipoh bekerja mengatakan, kehadiran Ipoh
di lingkungan kerjanya cukup membanggakan. Sebab, dia bekerja dengan
senang hati, penuh dedikasi, tekun serta benar-benar mencintai batik.
Tidak heran bila hasilnyabagus. "Bu Ipoh adalah perajin paling tua
yang ada di Ciroyom," ujarnya. Dari pekerjaanya itu, Ipoh rata-rata
bisa membawa pulang uang antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000,00 per
hari.

Sementara Ny. Enok yang bekerja di tempat usaha batik Ny. Milla, telah
menekuni batik sejak tahun ’50-an. "Sejak itu, saya belum pernah
putus. Sampai sekarang masih menulis motif batik," katanya.

Perjalanan Enok tidak jauh berbeda dengan yang dialami Ipoh. Bedanya,
dia bekerja di Ny. Milla, sedangkan Ipoh di juragan batik Cacuk. "Saya
senang menjadi perajin batik. Batik menjadi nafas hidup saya.
Pekerjaan ini saya tekuni sejak masih gadis sampai nenek-nenek seperti
sekarang," katanya.

Pembatik lainnya, Ny Ecin Kuraesin yang usianya juga sudah diatas lima
puluh tahun. Pekerjaan sebagai penulis motif batik dilakukan sejak
muda. Dia berusaha mandiri, merancang motif, membuat batik dan
memasarkannya sendiri. "Alhamdulillah, sampai sekarang bertahan," kata
Ecin.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya Tantan
Rustandi mengemukakan momentum kebangkitan kembali batik secara
nasional, termasuk di Kota Tasikmalaya. Saat ini ada 27 jumlah unit
usaha batik dengan pekerjanya mencapai 446 orang. Ipoh, Ecin dan Enok
merupakan pembatik yang memiliki dedikasi tinggi.

Merekalah juru selamat batik khas Kota Tasikmalaya hingga bisa
bertahan dan sekarang tengah mengalami kebangkitan kembali. Adalah
sesuatu yang pantas dan sudah sewajarnya kalau mereka menerima
penghargan atas dedikasinya. (Undang Sudrajat/"PR")***

Cite: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=107653

Kirim email ke