Batik Tasimalaya Menggeliat Setelah Mati Suri "Cobi Engkang.. Abdi sawang Pami Abdi nganggo sinjang Duh tambih lenjang lir mojang Priangan Cobi engkang abdi taksir Pami abdi nganggo batik Tasik Duh tambih leunggik, lir mojang wedalan Tasik Batik tulis kawung picis dianggo ku istri geulis Duh tambih necis lir mojang wedalam tasik
Batik ti Tasik, tos ka koncara Sae kaanggena, seueur corakna Moal rek kawong ku batik impor " Penggalan lagu Sunda di atas, cukup populer di Tasikmalaya pada pertengahan 70’an. Ya, syairnya menceritakan tentang batik khas Tasikmalaya. Jika dipakai wanita, akan menambah kecantikan gadis Priangan. Batik dari Tasikmalaya juga digambarkan sudah terkenal luas, serta kualitasnya tidak kalah dengan barang dari luar negeri. "Sewaktu saya masih menjadi penyiar radio Pemerintah Daerah Tasikmalaya, sering sekali lagu tersebut diputar," kata Ny. Ecin Kuraesin, pegawai Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Lagu itu juga muncul bersamaan dengan usaha perajin batik di Tasikmalaya, saat pada masa jayanya. Boleh jadi, lagu tersebut merepresentasikan keberhasilan batik Tasikmalaya pada masa lalu. Hanya saja, seiring lesunya usaha kerajinan batik di era 90 an, lagu tersebut juga ikut tenggelam. Tidak pernah lagi, diperdengarkan di radio-radio. Hanya saja belakangan ini, lagu itu kembali muncul di radio Tasikmalaya. Kemunculan itu, seperti mengikuti perkembangan batik Tasikmalaya, yang sekarang sedang bagus atau kembali berjaya. "Sudah hampir tiga tahun terakhir, batik dari Tasikmalaya kembali berkembang pesat. Permintaannya cukup besar, sehingga perajin batik di Kota Tasikmalaya kembali berkembang," kata Hj. Enok Cacuk, salah seorang perajin batik asal Ciroyom, Kec. Cipedes, Kota Tasikmalaya. Enok memilik lima puluh pegawai, dengan rata-rata setiap hari menghasilkan delapan puluh potong batik. Dia juga membuka beberapa gerai, untuk menjual batik tradisional karyanya. Bukan hanya Enok yang sedang menikmati banyaknya order batik, perajin batik lain seperti Supriadi "Dimas" juga demikian. Supriadi yang mengawali usaha batik tradisional khas Tasikmalaya 1997 lalu, sekarang sedang menikmati keberhasilan dari usahanya itu. Sebelumnya, Supriadi adalah pegawai kantoran di Jakarta. Pada 1995 dia pulang ke Tasikmalaya, karena jenuh bekerja di ibu kota. Setelah beberapa tahun berada di tanah kelahirannya, ia memutuskan menekuni batik tradisional. Ada lima pekerja direkrut untuk menjalankan usaha batik itu. "Saya pernah mengalami jungkir balik, saat menekuni usaha batik ini. Namun, mulai sebelas tahun lalu saya diajak pameran oleh Yayasan Batik Indonesia dan Departemen Perdagangan dan Perindustrian di Jakarta.Waktu itu, orang mulai banyak melirik batik Tasikmalaya. Saya juga ikut empat kali pendidikan untuk meningkatkan kualitas produksi batik," katanya, ketika ditemui di rumahnya di Ciroyom. ** Berkah dari keikutsertaan pameran itu, batik Dimas produksinya semakin dikenal luas. Apalagi, Supriadi berusaha melakukan inovasi untuk warna, desain, motif batik yang dikembangkan. Meski begitu, pakem batik khas Tasikmalayanya, tidak begitu saja ditinggalkan. Batik tradisonal Tasikmalaya banyak memilih warna dasar kain merah, kuning, ungu, biru, hijau, oranye, dan soga. Warnanya cerah, tetapi tetap klasik dengan dominasi biru. Beda dengan batik Sukapura (Tasikmalaya), yang berciri khas warna merah, hitam, serta cokelat. Motifnya kental dengan nuansa Parahyangan seperti bunga anggrek dan burung. Selain itu, ada juga motif merak-ngibing, cala-culu, pisang-bali, sapujagat, awi ngarambat, lalu flora fauna dengan warna lebih terang. Hal yang menggembirakan bagi Supriadi, bukan hanya desainer terkenal di Bandung dan Jakarta yang sekarang memesan batik Tasikmalaya. Sekarang, batik Tasikmalaya juga diekspor ke Taiwan. Bulan lalu, dia mengirim tujuh ratus potong untuk eskpor ke Taiwan. Supriadi rutin pula mengirim untuk eskpor ke berbagai negara, lewat pengusaha di Jakarta. Sekarang, Supriadi menambah tenaga kerjanya menjadi dua puluh orang. Dia berencana mengembangkan sayapnya untuk usaha satu ini. "Belakangan batik Tasikmalaya memang semakin pesat perkembangannya. Ini merupakan kebangkitan baru," kata suami dari Ny. Iis Afifah ini. ** Wali Kota Tasikmalaya Syarif Hidayat mengatakan, daerahnya selama ini termasuk salah satu sentra batik tradisional. "Memang, perkembangan batik tradisional Tasikmalaya mengalami pasang surut. Pada waktu 50’an sampai 80’an, merupakan puncak kemajuan. Bukti kejayaan itu, bisa terlihat dari keberadaan gedung-gedung milik Koperasi Mitra Batik, yang sekarang digunakan menjadi pusat perbelanjaan. Kita bersyukur, untuk sekarang batik tradisional Tasikmalaya kembali bangkit," ujarnya. Waktu dulu, sentra batik di Tasikmalaya tersebar di beberapa tempat, seperti Panglayungan, Bojong, dan lainnya. Sekarang, perajin batik telah dipusatkan di daerah Ciroyom, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya. Pemerintah Kota (pemkot) juga memberikan dukungan, seperti pelatihan, promosi dengan mengikutsertakan perajin pada pameran di sejumlah daerah. Termasuk, memutuskan kepada pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkot Tasikmalaya, diwajibkan setiap Kamis menggunakan baju batik khas Tasikmalaya. Sedangkan Jumat menggunakan baju koko atau baju muslimah. Harapannya, baju koko juga menggunakan motif batik atau terbuat dari batik . "Di jalan menuju Ciroyom, telah dibuat gerbang bertuliskan sentra batik. Lalu, di tempat perajin juga muncul beragam papan nama. Kita bersyukur, usaha batik telah menggerakkan roda ekonomi serta menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak," katanya. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota Tasikmalaya Tantan Rustandi mengatakan, sekarang sudah ada 27 unit usaha batik di Kota Tasikmalaya, dengan menyerap perajin sebanyak 446 orang. Usaha itu, dipusatkan di Ciroyom, sehingga mereka yang ingin mencari batik tidak akan kesulitan, karena di satu kawasan. "Dalam enam bulan terakhir, ada lima usaha baru yang bergerak di batik tradisonal dengan menyerap 74 perajin. Hal ini pertanda kalau usaha batik mengalami kemajuan," katanya. Dari sisi pemasaran, sekarang tidak banyak kesulitan. Para perajin batik memiliki pasar tersendiri. Pasar lokal juga menyerap produksi batik dalam jumlah cukup banyak. Hal yang harus dijaga adalah kualitas batik, jangan sampai dibuat asal-asalan, karena khawatir nantinya pembeli kecewa. "Kami terus meminta agar kualitas dijaga," katanya. Kekhawatiran tidak adanya generasi penerus untuk usaha batik, sudah tidak menjadi masalah. Hal itu, dibuktikan banyaknya anak-anak muda yang mau terjun menjadi perajin batik. "Di tempat saya, banyak juga anak-anak muda yang menjadi perajin batik tulis," kata Ny. Mila, perajin batik tradisional asal Ciroyom. Sebelumnya, memang perajin kesulitan mencari tenaga muda yang mau menekuni pekerjaan sebagai penulis batik. Akan tetapi, seiring perkembangan batik yang menjanjikan, anak-anak muda akhirnya melirik ke dunia batik. Tidak berlebihan, bila setelah tiga dasawarsa sempat mati suri, Batik Tasikmalaya kini kembali menggeliat. (Undang Sudrajat/"PR")*** Cite: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=107656 2009/11/3 mh <[email protected]>: > Para Sesepuh Sang Juru Selamat > > Kedua perempuan usia lanjut itu terlihat sumringah karena dalam waktu > hampir bersamaan di bulan September 2009 lalu menerima dua > penghargaan. Pertama, diberikan oleh Yayasan Batik Indonesia yang > diserahkan oleh Ny. Ani Yudhoyono (Ibu Negara). Perhargaan terakhir, > diberikan oleh Wali Kota Tasikmalaya Syarif Hidayat. Penghargaan > diberikan kepada Ny. Ipoh Latifah (84) dan Ny. Enok Sukanah (75), dua > perempuan lanjut usia atas pengabdiannya kepada dunia batik yang > dengan penuh kesetiaan ditekuninya. > > "Ini piagam dari Yayasan Batik Indonesia yang diberikan oleh Ibu > Presiden. Saya diberi piagam karena merupakan pembuat batik paling > tua," kata Ny. Enok Sukanah sambil memperlihatkan piagam penghargaan > di sela-sela gebyar batik Kota Tasikmalaya belum lama ini. > > Mereka senang dan bangga. Apalagi salah satu dari penghargaan itu > diberikan oleh Ibu Negara. "Selain piagam, saya juga memperoleh > uangnya sebesar Rp 7,5 juta. Ini benar-benar di luar dugaan," katanya > sambil tersenyum. > > Kebahagiaan Ipoh dan Enok bertambah, karena Wali Kota Tasikmalaya juga > memberikan penghargaan dan juga uang pembinaannya. Selain kedua > perempuan lanjut usia tadi, penghargaan serupa juga diberikan kepada > Ny. Ecin Kuraesin, perajin batik lainnya asal Ciroyom. > > "Piagamnya jadi dua. Satu dari yayasan batik dan satunya lagi dari Pak > Wali Kota," kata Ipoh menambahkan. > > Ipoh dan Enok adalah dua perempuan paling tua yang menekuni batik di > sentra perajin batik Ciroyom, Kelurahan Nagarsari, Kecamatan Cipedes, > Kota Tasikmalaya. Lebih dari lima puluh tahun atau setengah abad > menekuni kerajinan batik tulis tersebut. > > Ipoh menceritakan, dia membuat atau menulis batik sejak lulus sekolah > rakyat (SR) 75 tahun lalu. Waktu itu, keluarganya juga menjadi perajin > batik. > > Kebiasaan membuat motif batik di kain, karena pengaruh lingkungan > keluarganya yang memang pengrajin batik. "Sejak lama, daerah Ciroyom > menjadi sentra batik. Saya belajar sendiri, ikut saudara dan teman di > daerah Ciroyom yang bekerja membuat batik, " katanya. > > Semasa gadis, Ipoh bekerja di beberapa juragan batik yang ada di > Ciroyom. Terakhir, sejak tahun ‘70-an, menetap di pengusaha batik > Agnesa milik Cacuk. Selama puluhan tahun jadi pekerja batik, perempuan > ini merasakan dan sekaligus jadi pelaku sejarah dari pasang surutnya > batik pedalaman di Tasikmalaya. > > "Masa keemasan batik Tasikmalaya di tahun ‘60-an sampai akhir ’80-an. > Orang-orang kaya dari Tasikmalaya sebagian besar adalah juragan > batik," katanya. > > ** > > Puncak masa surut saat memasuki tahun ‘90-an, batik Tasikmalaya kian > tersisih. Banyak perusahaan gulung tikar dan meninggalkan usaha batik. > Meski begitu, Ipoh tetap menekuni batik tulis. Hanya jumlahnya semakin > sedikit. Pesanan pekerjaan terus menyusut. Masa-masa kelabu itu > berlangsung lama dan Ipoh dirundung dalam kesedihan mendalam. > > "Pada masa surut, semua meninggalkan batik. Sangat sedikit yang masih > setia menekuni batik, salah satunya saya," tutur wanita itu mengenang. > > Namun di luar dugaan, dalam tiga tahun terakhir, batik seolah > mengalami pasang. Pesanan batik pun kembali pesat. Ipoh di usianya > yang semakin uzur bersemangat kembali untuk menulis batik. > > "Hanya, sekarang tenaga saya sudah terbatas. Dalam sehari, hanya mampu > menulis motif batik paling banyak dua lembar," tutur dia. > > Motif batik yang banyak dibuat oleh Ipoh yaitu lereng, kadaka uncal > dan lainnya. Ny. Cacuk, tempat Ipoh bekerja mengatakan, kehadiran Ipoh > di lingkungan kerjanya cukup membanggakan. Sebab, dia bekerja dengan > senang hati, penuh dedikasi, tekun serta benar-benar mencintai batik. > Tidak heran bila hasilnyabagus. "Bu Ipoh adalah perajin paling tua > yang ada di Ciroyom," ujarnya. Dari pekerjaanya itu, Ipoh rata-rata > bisa membawa pulang uang antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000,00 per > hari. > > Sementara Ny. Enok yang bekerja di tempat usaha batik Ny. Milla, telah > menekuni batik sejak tahun ’50-an. "Sejak itu, saya belum pernah > putus. Sampai sekarang masih menulis motif batik," katanya. > > Perjalanan Enok tidak jauh berbeda dengan yang dialami Ipoh. Bedanya, > dia bekerja di Ny. Milla, sedangkan Ipoh di juragan batik Cacuk. "Saya > senang menjadi perajin batik. Batik menjadi nafas hidup saya. > Pekerjaan ini saya tekuni sejak masih gadis sampai nenek-nenek seperti > sekarang," katanya. > > Pembatik lainnya, Ny Ecin Kuraesin yang usianya juga sudah diatas lima > puluh tahun. Pekerjaan sebagai penulis motif batik dilakukan sejak > muda. Dia berusaha mandiri, merancang motif, membuat batik dan > memasarkannya sendiri. "Alhamdulillah, sampai sekarang bertahan," kata > Ecin. > > Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya Tantan > Rustandi mengemukakan momentum kebangkitan kembali batik secara > nasional, termasuk di Kota Tasikmalaya. Saat ini ada 27 jumlah unit > usaha batik dengan pekerjanya mencapai 446 orang. Ipoh, Ecin dan Enok > merupakan pembatik yang memiliki dedikasi tinggi. > > Merekalah juru selamat batik khas Kota Tasikmalaya hingga bisa > bertahan dan sekarang tengah mengalami kebangkitan kembali. Adalah > sesuatu yang pantas dan sudah sewajarnya kalau mereka menerima > penghargan atas dedikasinya. (Undang Sudrajat/"PR")*** > > Cite: > http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=107653 >

