Hampura teu disundakeun.

http://www.eramuslim.com/berita/analisa/noam-chomsky-obama-godfather-baru-as.htm

Intelektual asal AS Noam Chomsky mengingatkan dunia internasional agar 
tidak terlalu banyak berharap Presiden AS Barack Obama akan melakukan 
perubahan signifikan dalam gaya pemerintahan dan kebijakan negeri Paman 
Sam itu. Menurut Chomsky, AS di bawah kepemimpinan Barack Obama masih 
akan mempertahankan apa yang disebut Chomsky "prinsip-prinsip mafia" 
dalam kebijakan luar negerinya.

"Ketika Obama resmi menjadi presiden, Condoleezza Rice bilang Obama akan 
melanjutkan kebijakan Bush dan sedikit banyak itulah yang terjadi. Yang 
berbeda cuma gaya retorikanya saja. Padahal yang dibutuhkan adalah 
perbuatan baik buka cuma retorika. Tindakan yang baik akan memunculkan 
cerita yang berbeda," ujar Chomsky.

Ia mengungkapkan hal tersebut dalam ceramahnya di School of Oriental and 
African Studies (SOAS) di London, Inggris. Pada kesempatan itu, Chomsky 
membeberkan berbagai contoh doktin-doktrin kebijakan luar negeri AS 
sejak berakhirnya Perang Dunia II sampai masa pemerintahan Obama.

Menurutnya, tidak ada perubahan mendasar dalam konsep fundamental 
kebijakan luar negeri AS. AS masih tetap berpegang pada keyakinan 
tradisionalnya bahwa jika AS bisa menguasai dan mengkontrol 
sumber-sumber energi di Timur Tengah, maka AS bisa menguasai dan 
mengendalikan dunia. Chomsky menyebut doktrin yang diterapkan AS dalam 
kebijakan luar negerinya untuk medominasi dunia itu sama dengan "prinsip 
mafia".

Iran dan Irak

"Seorang Godfather (sebutan untuk bos mafia) tidak mentoleransi 'para 
pembangkangnya, apalagi jika pembangkang itu sukses'. Bagi AS, bersikap 
seperti itu sangat berbahaya dan oleh sebab itu bagi AS, pembangkang 
harus disingkirkan agar yang lain tahu bahwa ketidakpatuhan pada AS 
bukan sebuah pilihan. Pembangkang yang sukses, bagi AS merupakan "virus" 
yang bisa menular kemana-mana,"papar Chomsky.

Dan salah satu "virus" yang ditakutkan AS sampai saat ini adalah Iran. 
Ketakutan itu sudah ditunjukkan AS saat menumbangkan parlemen Iran yang 
terpilih secara demokratis pada tahun 1953. "Tujuan AS waktu itu adalah 
ingin mengendalikan sumber-sumber minyak Iran," kata Chomsky.

Tapi AS kembali harus menghadapi "virus" pembangkangan pada tahun 1979, 
ketika pecah revolusi Islam Iran. Kali ini, upaya AS untuk memusnahkan 
"virus" itu dengan membujuk militer Iran, gagal total. Dan AS beralih 
memberikan dukungan pada pemimpin Irak, Saddam Hussein saat untuk 
melakukan invasi ke Iran.

"Sampai detik ini, AS masih terus 'menyiksa' Iran dengan sanksi dan alat 
tekanan lainnya," sambung Chomsky.

Ia mencibir tudingan yang menyebutkan kemungkinan Iran membangun program 
nuklirnya untuk membuat persenjataan. Ia malah menyebutkan bahwa AS-lah 
yang sudah menyiapkan senjata-senjata anti-misil di Israel, bukan untuk 
pertahanan negara tapi untuk sewaktu-waktu menyerang Iran.

Chomsky juga mengingatkan kembali hubungan mesra AS dengan mantan 
pemimpin Irak, Saddam Hussein. Hubungan itu berlanjut hingga selesainya 
perang Irak-Iran di era tahun 1980-an. AS mengundang para ilmuwan Irak 
dan memberikan pelatihan dalam bidang program nuklir. AS mulai kesal 
dengan Saddam Hussein ketika pemimpin Irak itu melakukan invasi ke 
Kuwait pada tahun 1990-an yang juga salah satu sekutu dekat AS di Timur 
Tengah.

"AS dengan cepat berubah. Saddam yang tadinya teman akrab AS menjadi 
sosok yang dianggap seperti reinkarnasi Hitler oleh AS," tukas Chomsky.

Akhirnya dengan segala cara dan alasan yang manipulatif, AS melakukan 
agresi ke Irak dan melakukan "genosida" terhadap rakyat sipil di Negeri 
1001 Malam itu. Begitu pula di Afghanistan dan kawasan Timur Tengah 
lainnya, kepentingan AS cuma satu, yaitu menguasai sumber alam berupa 
hasil minyak bumi yang melimpah di kawasan tersebut dengan atau tanpa 
kekerasan.

Dan lewat media massa serta sejumlah intelektual pro-pemerintah, 
pemerintah AS berhasil memanipulasi publik AS dengan mengatakan bahwa 
kejahatan dan kekejaman yang dilakukan AS adalah untuk "pertahanan" 
negara atau "intervensi demi kepentingan kemanusiaan."

Chomsky menambahkan, Obama telah memperluas perang Bush di Afghanistan 
dengan melibatkan NATO yang digunakan AS bukan untuk memperkuat kontrol 
AS terhadap suplai energi tapi juga untuk menjaga agar Eropa tetap 
dibawah kendali AS.

Sumber-sumber minyak di Timur Tengah, kata Chomsky, merupakan "sumber 
dari kekuatan strategis" dan "salah satu material yang paling berharga 
dalam sejarah dunia". Ia mengutip pernyataan mantan presiden AS 
Eisenhower yang mengatakan bahwa Timur Tengah dan sumber minyaknya 
merupakan "wilayah yang secara strategis paling penting di dunia."

Jika AS berhasil menguasai sumber minyak Timur Tengah, maka AS secara 
subtansial bakal menjadi penguasa dunia. Untuk itu, AS harus memberikan 
dukungan pada regime yang brutal dan kejam serta menghalangi pembangunan 
serta demokratisasi di Timur Tengah. Satu hal yang sebenarnya 
bertentangan dengan retorika AS selama ini yang katanya ingin menegakkan 
demokrasi di kawasan itu.

Somalia, Darfur dan Israel

Peran AS dalam kekacauan di Somalia menurut Chomsky, salah satunya 
adalah kampanye perang melawan teror yang dikobarkan AS. AS berhasil 
menimbulkan opini bahwa lembaga amal Muslim di Somalia, Barakat adalah 
salah satu organisasi yang memberikan bantuan pada teroris, sehingga 
lembaga itu ditutup.

Penutupan Barakat merupakan pukulan berat bagi Somalia karena lembaga 
ini memainkan peran yang cukup besar dalam perekonomian Somalia. Lembaga 
amal itu bukan hanya memberikan bantuan bagi orang-orang miskin di 
Somali tapi juga mengelola bank dan sejumlah perusahaan di negeri itu.

"Barakat adalah bagian penting perekonomian Somalia. Menutup lembaga itu 
memberikan kontribusi yang besar bagi melemahnya kondisi sosial rakyat 
Somalia," ujar Chomsky.

Mengomentari konflik berkepanjangan di Darfur, Chomsky menilai Darfur 
menjadi korban permainan para aktivis humanis dari Barat yang 
mendistorsi akar konflik yang sebenarnya terjadi di negeri itu. "Darfur 
menjadi populer di kalangan humanis Barat. Mereka mendistorsi penyebab 
konflik dan dengan mudahnya mengkambinghitamkan 'orang-orang Arab' dan 
menyebut 'para penjahat' sebagai otak dari kekacauan di Darfur," tukas 
Chomsky.

Itu semua pada dasarnya strategi licik yang dimainkan Barat, termasuk AS 
seperti yang mereka mainkan di negara Kongo dan Rwanda. Di kedua negara 
itu, mereka membiayai para milisi untuk membunuh dan membantai siapa 
saja yang menghalangi Barat untuk menguasai sumber-sumber mineral di 
negeri itu.

Sementara terkait konflik Israel-Palestina, Chomsky berpendapat Obama 
tidak melakukan upaya yang nyata untuk menekan Israel agar memenuhi 
kewajiban-kewajibannya, meski sikap Obama terhadap Israel terkesan lebih 
keras dibandingkan Bush. Pemerintah AS dibawah kepemimpinan Obama, tetap 
tidak berani menghentikan bantuannya untuk Tel Aviv sehingga Israel 
merasa tidak perlu mendengarkan kritikan dan mematuhi seruan Washington 
dalam proses perdamaian Israel-Palestina.

Chomsky menegaskan, publik di AS dan Inggris kini makin terbuka matanya 
dengan berbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel di 
Palestina. Tapi sikap Israel tidak akan berubah jika ada tekanan yang 
kuat dari Barat.

"Masih banyak yang harus dilakukan negara-negara Barat, utamanya AS 
untuk menekan Israel agar mengubah kebijakan-kebijakannya atas 
Palestina," tandas Chomsky. (ln/mol)

-- 
Aing teu gableg BlackBerry®
powered by Sesuai KEBUTUHAN

Kirim email ke