kasieun urang sunda kana basana tangtuna oge kaalaman ku urang-urang sejenna
(haha hade euy basa sunda teh geuning, kuat ka aya urang tapi nu sejen :p).
saperti karempan ahmad tohari nu natrat dina warta kompas poe ieu. si
'ronggeng dukup paruk' nu urang banyumas ieu ge sarua ngarasa rempan basa
jawa banyumasan/tegalan nu ngapak-ngapak bakal leungit kagempur ku basa-basa
nu boga kakuatan politik/ekonomi leuwih kuat.

kaistimewaanna, kasus di banyumas jeung sabudereunna meh ciples jeung nu
kaalaman ku sunda. karajaan mataram islam jadi salasahiji paneumbleuhan.
panta-panta basa jadi nu didakwa....

wartosna, nyanggakeun:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/04/03360025/tegal.dan.banyumas.lupa.bahasa.ibunya.
..

Tegal dan Banyumas Lupa Bahasa Ibunya...

Rabu, 4 November 2009 | 03:36 WIB

Oleh *Siwi Nurbiajanti/Susana Rita*

Ada resah dalam diri penulis novel dan budayawan asal Banyumas, Ahmad
Tohari. Keresahan yang dialami beberapa tahun belakangan ini saat melihat
keluarga muda di Purwokerto, Jawa Tengah, mulai enggan menggunakan dan
mengajarkan bahasa Jawa dialek Banyumasan yang ngapak-ngapak.

Ada beragam alasan untuk meninggalkannya. Padahal, bahasa Jawa yang
didominasi dengan penggunaan vokal A ini adalah turunan asli bahasa Jawa
kuno dan sarana komunikasi yang demokratis.

Fajar Satriawan (25), warga Kelurahan Mintaragen, Kecamatan Tegal Timur,
Kota Tegal, juga tidak mewajibkan keluarganya memakai bahasa Jawa dialek
Tegalan. Baginya, menggunakan bahasa Jawa Tegalan kurang efektif untuk
berkomunikasi karena istrinya yang berasal dari Kabupaten Jepara, Jateng.
Bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi sehari-hari bagi pasangan muda
itu.

Pasangan itu pun memutuskan tak perlu mengajarkan bahasa Jawa Tegalan kepada
anak mereka. Hanya beberapa kosakata yang dikenalkan kepada anaknya.

Demikian pula Oki Lukmansyah, warga Jalan Ayam, Kota Tegal, yang juga lebih
sering menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa harian. Meski memiliki
akar dari Tegal, Oki yang tumbuh di Jakarta mengaku mengalami kompleksitas
tersendiri ketika harus berbahasa Tegal.

Fenomena serupa sebenarnya juga tampak di keluarga muda yang tinggal di
kompleks perumahan Purwokerto. Liliek, misalnya, penghuni sebuah perumahan
di kawasan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), pun mengaku lebih suka
berkomunikasi dengan bahasa Indonesia atau Jawa Wetanan (Jawa dialek
Solo-Yogyakarta). Ia memang pendatang di Purwokerto. Meski tinggal di ”Kota
Mendoan” itu selama lebih dari 10 tahun, bahasa Jawa dialek Banyumasan tak
juga menggantikan bahasa ibunya. Kepada anaknya, ia suka mengajarkan bahasa
Jawa Wetanan meski beristri asli orang Banyumas.

Ahmad Tohari mengungkap lebih jauh alasan orang muda enggan menggunakan
bahasa ngapak-ngapak itu. ”Malu,” katanya mengutip pengakuan kawannya yang
seorang dokter.

Mengapa malu? ”Barang kali karena bahasa ini sering diidentikkan dengan
bahasa pelawak atau babu (pekerja rumah tangga). Orang malu menggunakannya,”
tambahnya.

Penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk itu menyatakan, gejala itu adalah ancaman
serius bagi keberlangsungan dialek Banyumasan. Hal serupa juga dikemukakan
budayawan Tegal, Yono Daryono. Yono melihat hal itu sebagai tanda kepunahan
dialek Tegalan. ”Sudah di ujung tanduk,” ungkapnya.

Yono menuding pendidikan dasar menyumbang peran pada ancaman kepunahan itu.
Pasalnya, guru sekolah dasar (SD) tak lagi menggunakan bahasa lokal sebagai
pengantar dalam pembelajaran. Tak hanya di kelas pertama SD, guru taman
kanak-kanak (TK) pun lebih banyak yang kini menggunakan bahasa nasional
sebagai pengantar sehari-hari.

Akhirnya, hal ini pun diikuti orangtua. Daripada anaknya tak mampu berbahasa
Indonesia di sekolah, mereka memilih mengajar bahasa nasional itu
dibandingkan dengan bahasa ibunya.

Kenyataan ini berbeda dengan masa kecil Yono, sekitar setengah abad silam.
Ia mengaku, dirinya masih mendapatkan bahasa pengantar bahasa Jawa dialek
Tegalan saat mengikuti pendidikan dasar. Setidaknya hal itu berlangsung
hingga dirinya menginjak kelas III SD.

”Kalau kondisinya begini, mungkin umur dialek Tegalan tinggal 10 tahun
lagi,” ujar Yono.

*10 juta pemakai*

Meski berangsur terkikis, dialek Banyumasan dan Tegalan masih digunakan di
beberapa kabupaten di Jateng selatan dan pantai utara (pantura). Ahmad
Tohari memprediksi, setidaknya terdapat 10 juta pemakai yang tersebar di
Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo bagian selatan,
Brebes, dan Tegal (baik kota maupun kabupaten).

Dialek Banyumasan dan Tegalan sebenarnya memiliki arti penting dalam sejarah
bahasa Jawa. Menurut Ahmad Tohari, kedua dialek ini adalah turunan asli dari
bBahasa Jawa kuno. Sejak berabad lampau bahasa Jawa kuno didominasi bunyi
vokal ”a”, berbeda dengan bahasa Jawa Yogyakarta-Solo yang lebih didominasi
vokal ”o”.

Berdasarkan referensi yang dimilikinya, Tohari yakin bahasa Jawa dengan
vokal ”o” (Yogyakarta-Solo) adalah bahasa baru yang sengaja dikembangkan
oleh Kerajaan Mataram sejak akhir abad ke-16. ”Sebetulnya pengembangan
bahasa baru ini dimulai sejak akhir Kerajaan Pajang. Taling tarung (tanda
baca untuk vokal ’o’ untuk huruf Jawa) sebenarnya munculnya belakangan,”
kata Ahmad Tohari.

Pengembangan bahasa baru ini, kata dia, adalah bagian politik penguasaan
yang dilakukan Mataram. Bahasa dipolitisasi sedemikian rupa untuk
menciptakan kelas sosial dengan menempatkan bahasa Jawa baru (vokal ”o”)
sebagai bahasa berkelas tinggi.

Bahasa Jawa kuno yang pada akhirnya nanti berkembang menjadi dialek
Banyumasan dan Tegalan adalah bahasa asli yang digunakan oleh petani dan
pedagang (kelas orang kecil).

”Dialek Banyumasan itu memang awalnya bahasa petani. Orientasinya pun
populis, ke bawah. Beda dengan bahasa Jawa anyar yang orientasinya elitis.
Orientasi ke bawah ini yang kita ganduli (pertahankan). Kehidupan di negeri
ini sekarang butuh orientasi ke bawah sekaligus untuk menghabisi feodalisme
Jawa yang agak kurang ajar itu,” kata Ahmad Tohari.

Ada perasaan tertindas yang menggelayuti rasa dan pikiran Yono dan Ahmad
Tohari ketika harus bicara mengenai bahasa daerahnya. Rasa tertindas oleh
orang Solo-Yogyakarta, terutama oleh anggapan bahasa Jawa dialek
Yogyakarta-Solo lebih halus dan tinggi dibandingkan dengan dialek Banyumas
dan Tegal.

Perasaan keterjajahan oleh Kerajaan Mataram masih membekas meski masa itu
sudah berakhir sejak 1830, bersamaan berakhirnya perlawanan Pangeran
Diponegoro. Rasa itu kian mengusik ketika mendapati kenyataan pengajaran
bahasa Jawa di sekolah formal adalah bahasa Jawa Solo-Yogyakarta. Pengajaran
bahasa Jawa jenis itu adalah hal wajib di seluruh Provinsi Jateng.

Apabila Yono lebih resah pada sistem pengajaran formal di sekolah, Ahmad
Tohari justru gemas melihat orang Banyumas sendiri yang mulai meninggalkan
bahasanya.


2009/11/3 Dudi Herlianto <[email protected]>

> malahan bisa jadi tingkat nu kaopat..
>
> 1. basa internsional
> 2. basa nasional
> 3. basa gaol
> 4. nembe basa sunda
>
> komo mun ditambah ku cicing di luar priangan, basa sunda nu dipake di
> wewengkon eta bisa jadi basa tingkat kalima, samemeh cunduk kaselang heula
> ku basa sunda uubs :P :P. hal ieu sami mun si urang sunda teh cicing di luar
> tatar sunda....
>
>
-- 
d-: dudi herlianto :-q
kunyuk nuyun kuuk, kuuk nuyun kunyuk

Kirim email ke