http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/13/0238334/membongkar.mafia.indonesia

Membongkar Mafia Indonesia

Jumat, 13 November 2009 | 02:38 WIB

Dominggus Elcid Li

Pernyataan Amien Rais bahwa masyarakat perlu mengawal pemberantasan 
mafia di Indonesia tidak berlebihan (Kompas.com, 6/11/2009).

Meski kata mafia masih dimengerti sekadar fantasi dalam film God Father, 
dan belum lagi merupakan kenyataan sehari-hari. Padahal, bagaimana kita 
bisa membedakan pembunuhan arahan Vito Corleone dan kematian Nasrudin 
Zulkarnaen?

Tontonan vulgar praktik antihukum akhir-akhir ini sekadar memindahkan 
peristiwa di belakang layar ke layar kaca. Aslinya para pekerja media 
hanya ”menyoroti” apa yang selama ini dialami warga negara menjadi 
”pengetahuan publik/bersama”.

Marah dan protes biasanya menjadi reaksi awal menanggapi ”pengakuan” 
para pihak yang terlibat. Namun, niat baik saja tidak cukup dalam 
melawan jaringan kriminal.

Kata mafia, aslinya menunjuk organisasi kriminal Italia semacam Cosa 
Nostra dan Ndarangheta. Namun, kata itu kini sudah umum dipakai untuk 
segala organisasi kejahatan terorganisasi dan dijalankan dengan ”aturan 
internal” ketat, misalnya Red Mafia (Rusia), Triad (China), dan Yakuza 
(Jepang). Literatur tentang mafia Indonesia sendiri hingga kini belum 
ditemukan, dan kata mafia masih dipakai umum sekadar ”pengandaian”. 
Padahal, efek jaringan mafia terhadap negara ini jelas tampak.

Menawarkan proteksi

Menurut Diego Gambeta (1993), negara dan mafia menawarkan hal yang sama, 
yaitu proteksi. Warga negara diasumsikan mendapat perlindungan dari 
aparat negara karena membayar pajak, sedangkan mafia menjual proteksi 
khusus kepada kliennya. Praktik mafia menjadi persoalan karena 
memperdagangkan hal-hal yang menurut aturan negara adalah ilegal.

Persoalan legal dan ilegal menjadi kabur batasnya dalam pasar mafia. 
Melindungi pelaku pelanggar hukum merupakan komoditas perdagangan dalam 
jaringan mafia.

Ironisnya, dalam negara anarki, proteksi yang ditawarkan mafia lebih 
masuk akal di mata pengusaha dibandingkan dengan negara. Sebab, pajak 
kepada negara cenderung tidak berbekas karena aparatur negara juga 
memperdagangkan layanan yang seharusnya diterima sebagai konsekuensi 
membayar pajak.

Membongkar mafia

Membongkar jaringan mafia jelas tidak mudah. Di Sicilia, Italia, Diego 
Gambeta dalam investigasinya terhadap jaringan mafia hanya mampu 
menganalisis praktik mafia berdasarkan wawancara terhadap pedagang pasar 
buah, rantai terbawah jaringan ini, karena nyawa taruhannya. Di 
Indonesia, kenyataan ini sedang jadi tontonan sehari-hari.

Mafia dalam politik di Italia bisa dibaca dalam skandal Silvio 
Berlusconi. Orang nomor satu Italia ini pun tidak bisa dianggap bersih. 
Perdana Menteri Berlusconi, yang menguasai tiga jaringan media Italia, 
baru bisa disentuh setelah jaringan media milik raja media Rupert 
Murdoch membukanya. Konflik di antara dua jaringan oligarki merupakan 
pemicu terbukanya skandal Berlusconi. Sejak Oktober 2009, impunitas 
Berlusconi dicabut sehingga skandal keuangannya bisa diusut.

Di Indonesia, tanpa memahami gerak mafia dan kaitannya dengan negara, 
usaha membuka kasus kriminal ibarat melenyapkan satu sel kanker. Aparat 
negara yang telah dikuasai jaringan mafia malah melakukan kejahatan 
terhadap warga negara.

Anarki dan ”ochlocracy”

Krisis negara terjadi setelah kepala negara dan kabinet dilantik. Kita 
masih di dunia fantasi demokrasi dan mabuk pujian sebagai satu dari 
banyak negara dengan penduduk terpadat yang menjalankan demokrasi. Jean- 
Jacques Rousseau menyebut demokrasi yang diselewengkan sebagai 
ochlocracy (1973: 234), atau praktik ”kerumunan”. Ini bagian kondisi 
anarki yang ditandai dengan pupusnya negara. Di Indonesia, hal ini 
tampak dengan memudarnya legitimasi aparat.

Jika Rousseau hanya menyebut ”kerumunan”, jaringan mafia yang bergerak 
dalam situasi anarki bukan kerumunan. Jaringan kriminal yang 
terorganisasi dengan struktur rapi beroperasi dalam sel lintas institusi.

Bagaimana negara bisa bertahan menghadapi mafia hingga kini belum 
terjawab. Ini sekaligus menjawab pertanyaan mengapa jaringan mafia 
Indonesia bisa dijawab para facebookers Indonesia. Sederhananya karena 
keduanya beroperasi dalam sistem jaringan simetris. Pertanyaannya, 
apakah jaringan antimafia yang terjalin di internet bisa dioperasikan 
dalam kenyataan?

Menghadirkan solidaritas antarwarga sebagai kenyataan bukan hal mudah. 
Pada tahun 1998, jaringan warga Indonesia gagal bekerja sama. Politik 
era reformasi Indonesia jika dibaca teliti tak berbeda dengan era 
dogfights dalam sejarah politik RRC.

Keluar dari situasi itu merupakan keharusan jika situasi anarki ingin 
dilampaui dan pembangunan negara dikerjakan. Agar tak lagi sama seperti 
tahun 1949 yang ditulis Chairil Anwar dalam ”Derai-derai Cemara” lewat 
puisinya, hidup hanya menunda kekalahan. Sudah 64 tahun kita ”bernegara” 
dan kedaulatan rakyat masih fantasi, sedangkan mafia menjadi kenyataan. 
Ini adalah tragedi untuk menyatakan kekalahan berulang.

Dominggus Elcid LiCo-editor Jurnal Academia NTT; Anggota Persaudaraan 
Indonesia; Mahasiswa PhD Departemen Sosiologi Universitas Birmingham, 
Inggris


------------------------------------

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke