Hebat, pangabdian para tangtara!
Pak Menteri Dikbud pakepuk ngurus UN,
di daerah boro-boro mikir UN, guru-na ge euweuh.

Wilujeng Kopral!
-mh-

=====
750 Tentara Terpaksa Harus Jadi Guru
shutterstock
Kamis, 3 Desember 2009 | 20:35 WIB

MEDAN, KOMPAS.com — Sebanyak 750 tentara yang bertugas di perbatasan
Kalimantan Timur dengan Malaysia terpaksa diperbantukan menjadi guru
karena tidak ada tenaga pengajar di daerah terisolir tersebut.

"Para tentara itu ditugaskan di 15 kecamatan di daerah perbatasan dan
di samping menjaga kedaulatan NKRI juga mengajar anak-anak karena
kebanyakan penduduk di daerah terpencil tersebut pergi bekerja ke
Malaysia," kata Ketua Badan Pengelolaan Kawasan Perbatasan Kaltim Prof
Dr Adri Paton, MSi, Kamis (3/12).

Paton datang ke Medan sebagai narasumber dalam seminar yang
diselenggarakan Departemen Komunikasi dan Informatika RI Balai Besar
Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Medan.

Dalam kesempatan itu, dia menjelaskan bahwa kondisi masyarakat di
kawasan perbatasan yang terisolir membuat mereka merasa lebih dekat
dengan negara tetangga, Malaysia, dibanding negaranya sendiri.

Hal ini cukup dimaklumi karena masyarakat di perbatasan lebih mudah
mendapatkan fasilitas dan kebutuhan dari Malaysia, termasuk soal
pendidikan.

Banyak anak-anak tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama
terpaksa belajar ke sekolah Malaysia karena fasilitas pendidikan tidak
tersedia di daerahnya.

Bukan cuma itu. Di kawasan perbatasan, masyarakat hanya menikmati
informasi dan berita dari media massa di negara tetangga. Jangan heran
jika masyarakat perbatasan lebih mengenal negara Malaysia.

"Kondisi seperti ini amat mengkhawatirkan karena bisa menggerus
wawasan kebangsaan generasi muda di daerah perbatasan," katanya.

Di wilayah Kaltim ada 14 kabupaten/kota yang masuk sebagai kawasan
perbatasan. Dari jumlah itu, ada tiga kabupaten/kota yang berbatasan
langsung dengan Malaysia, yaitu Malinau, Nunukan, dan Kutai Barat.

"Dari tiga kabupaten itu terdapat 15 kecamatan yang berbatasan
langsung dengan wilayah Malaysia. Sebanyak 12 di antaranya dalam
kondisi terisolir dan tertinggal," katanya.

"Saat ini masyarakat masih merasa bangga mengaku sebagai bangsa
Indonesia. Namun jika kondisi yang ada saat ini dibiarkan terus
berlangsung, maka hal itu akan menimbulkan ancaman terjadinya
perpecahan.

Pihaknya saat ini fokus bagaimana melakukan upaya percepatan
pembangunan, meliputi infrastruktur, jalan, jembatan, pendidikan,
kesehatan, dan komunikasi.

Namun, jika hanya sendirian tanpa komitmen dari pemangku kepentingan
lainnya, maka akan sulit untuk memajukan kawasan perbatasan.

"Saya khawatir, Badan Pengelola Kawasan Perbatasan tidak akan mampu
meraih hasil maksimal tanpa dukungan instansi terkait lain," katanya.

Harus ada upaya serius untuk memperbaiki kawasan perbatasan dengan
melibatkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah
kabupaten.

"Berapa pun besarnya anggaran untuk membangun kawasan perbatasan,
tidak sebanding dengan hilangnya sejengkal kedaulatan," katanya.

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/12/03/20354820/750.tentara.terpaksa.harus.jadi.guru

Kirim email ke