Itung-itung ngilu kana mieling Hari Anti Korupsi, nyieun artikel susuganan 
dimuat, judulna Sop Korupsi, Alhamdulillah dimuat tapi ku Redaksi Tribun Jabar 
judulna diganti jadi Air Sungai Bersih Tanda Tak Ada Korupsi, dimuat dina 
Tribun Jabar Saptu 19 Desember 2009 rubrik Podium.
Tah ieu artikelna.

AIR SUNGAI BERSIH TANDA TAK ADA KORUPSI.

Oleh : MAMAT SASMITA

Saya salah seorang rakyat Indonesia ber-KTP (Kartu Tanda Penduduk) kota Bandung 
yang sok tahu (bahasa Sunda : nyanyahoanan),  karena tulisan ini tidak terlalu 
memakai referensi  apapun, ini hanya mengeluarkan unek-unek perihal korupsi. 
Hitung-hitung ikut memperingati Hari Anti Korupsi.  
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia korupsi itu menyelewengkan atau 
menggelapkan uang negara atau perusahaan untuk keuntungan pribadi atau orang 
lain. Ini artinya sama dengan mencuri, karena mencuri masih menurut kamus 
bahasa Indonesia adalah mengambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak 
sah biasanya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Sedangkan mencuri, masih 
menurut kamus yang sama, artinya sama dengan nyolong. Anak TK (Taman 
Kanak-kanak) juga tahu kalau nyolong itu adalah dosa.
Korupsi yang menjadi berita besar akhir-akhir ini banyak dilakukan oleh pegawai 
pemerintahan, ada yang dari departemen ada yang dari pemerintah daerah termasuk 
oleh anggota legislatif. Sehingga banyak orang yang tadinya terhormat lantas 
diborgol masuk bui. Aneh juga rasanya ada orang terhormat yang mendapat 
kepercayaan menjalankan tugas mulia menghianati dirinya sendiri karena serakah. 
Barangkali inilah cermin dari beragama tapi tidak bermoral, berpendidikan tapi 
tidak berilmu. Atau terlalu besar rasa memilikinya, sehingga uang rakyat, uang 
negara, juga diakui milik dirinya sendiri, bebas dipergunakan semaunya. 

Pegawai pemerintah biasa juga disebut birokrat, pegawai yang bertindak secara 
birokrasi. Arti birokrasi adalah 1. Sistem pemerintahan yang dijalankan oleh 
pegawai pemerintah karena telah berpegang pada hirarki dan jenjang jabatan. 2. 
Cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban serta menurut tata aturan 
yang banyak liku-likunya. Itu kata Kamus Besar Bahasa Indonesia yang 
dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan, birokrat juga. Yang menggelikan arti 
yang kedua, sepertinya penyusun kamus sedang menghujat diri sendiri, neluh 
maneh itu kata ungkapan dalam bahasa Sunda. Tetapi tak bisa dipungkiri memang 
seperti itu berurusan dengan birokrat, serba lamban dan banyak liku-likunya. 
Dari pelayanan yang serba lamban dan banyak liku-likunya ini menimbulkan 
kreativitas lain berbau negatif. Bila ingin mendapat pelayanan serba cepat dan 
tepat seolah-olah harus ada tanda terima kasih, ada ungkapan yang dilontarkan 
secara guyon nu dipeuncit seuseurian, nu meuncit heheotan, yang disembelih 
tertawa senang, yang menyembelih bersiul senang. Tentunya yang disembelih itu 
masyarakat atau rakyat, sedangkan yang menyembelih adalah birokrat.

Akhir-akhir ini di media masa cetak di kota Bandung sering muncul iklan yang 
dibuat oleh para birokrat bunyinya Stop Korupsi, kata-kata yang menyertainya 
puitis, beragam dan menarik. Seperti “Jadilah PNS Sejati Stop Korupsi” (mudah 
mudahan iklan ini bukan himbauan supaya PNS menghisap rokok Sejati), “Bersihkan 
diri dari sifat-sifat korupsi”, “Jujur berkarya mengabdi sepenuh hati tanpa 
korupsi”, “Korupsi adalah extraordinary crime” dan banyak lagi. Lantas ada foto 
diri yang memasang iklan tersebut lengkap dengan jabatannya. 
Langkah ini patut diacungi jempol, setidaknya sebagai langkah baik untuk 
memberantas korupsi dilingkungan birokrat sendiri. Hanya jangan sampai ada yang 
tertawa sinis seolah-olah itu adalah iklan yang berbau narsis, menghimbau atau 
ajakan terhadap diri sendiri yang tahu persis ada atau tidaknya korupsi. Toh 
yang melakukan korupsi terbesar selama ini adalah birokrat. Jangan sampai iklan 
stop korupsi yang awalnya bertujuan baik, menjadi bumerang dan bahan tertawaan 
publik.
Yang paling ditunggu adalah pernyataan resmi dari walikota yang menyatakan 
bahwa di pemerintahan kota Bandung telah bersih dari korupsi. Yang diamini oleh 
setiap satuan kerja sehingga iklan yang ditampilkan “Satuan kerja kami bersih 
dari korupsi, memakan uang negara atau uang rakyat satu sen pun itu haram, 
silahkan diaudit oleh siapapun”. Itu baru kejutan dan rakyatpun akan 
mengacungkan dua jempol sekaligus.
Dapat diyakini yang melakukan korupsi tidak semua birokrat, walaupun ada yang 
mengatakan korupsi saat sekarang telah berjamaah. Masih banyak birokrat yang 
jujur, yang tidak mau memotong anggaran kerja sekian persen dengan dalih untuk 
koordinasi. Sayangnya birokrat yang jujur itu ikut tercoreng oleh kelakuan 
segelintir orang. Seandainya jumlah pegawai di pemerintah kota Bandung ada 23 
ribu orang (termasuk 18 ribu orang guru)  untuk mengurus warga Bandung sebanyak 
2,3 juta orang. Yang mempunyai potensi untuk korupsi paling banyak juga ratusan 
orang, yaitu yang mempunyai wewenang, yang dekat dengan sumber uang dan ada 
peluang karena kurang pengawasan atau kurang kuat iman terlalu banyak jang ka 
imah (untuk ke rumah).
Kalau tidak ada korupsi yang dilakukan ratusan orang itu mestinya keadaan kota 
Bandung dan warganya lebih baik dari sekarang, baik itu fasilitas umum, jalan 
tidak cepat rusak, kesehatan, pendidikan, ruang publik, maupun masalah sosial 
ekonomi dan lain lain. Setidaknya warga Bandung yang 2.3 juta orang itu lebih 
sejahtera dan hidup lebih nyaman dibanding sekarang. Walikota juga pasti akan 
mendapat trofi penghargaan lebih banyak dari sekarang. Kapan ya walikota 
Bandung dapat trofi penghargaan karena kota Bandung bebas dari korupsi. 
Ada yang mengatakan apabila ingin tahu korupsi atau tidaknya aparat 
pemerintahnya lihatlah sungai yang mengalir di kota tersebut kalau airnya 
bersih itu tandanya tidak ada korupsi. Sungai yang membelah kota Bandung adalah 
sungai Cikapundung, sayang airnya cakeutreuk hideung (hitam kotor) jangankan 
untuk mandi mengenai kaki saja sudah jarijipen (enggan menyentuh karena kotor). 
Stop korupsi di kota Bandung supaya air sungai Cikapundung menjadi bersih.

Mamat Sasmita
Penggiat Rumah Baca Buku Sunda

Kirim email ke