Indeks Membaca Baru 0,001 Budaya Baca Masyarakat Indonesia Paling Rendah di ASEAN
BANDUNG, (PR).- Indeks membaca masyarakat Indonesia saat ini baru sekitar 0,001. Artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi. Angka ini masih sangat jauh dibandingkan dengan angka minat baca di Singapura. Indeks membaca di negara itu mencapai 0,45. Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat, Netty Prasetyani Heryawan mengatakan, menurunnya minat baca masyarakat Indonesia tidak lepas dari globalisasi yang terjadi pada sarana komunikasi dan informasi, serta kondisi ekonomi yang semakin sulit. "Globalisasi membuat anak-anak lebih suka menonton dari pada membaca. Sementara itu, kondisi ekonomi membuat akses masyarakat terhadap buku-buku bermutu semakin sulit," ujarnya dalam "Widyatama Berpagar Buku" di Kampus Universitas Widyatama (Utama), Minggu (3/1). Dalam kondisi seperti itu, ujar Netty, kampanye untuk meningkatkan minat baca masyarakat harus disertai dengan upaya dalam mempermudah akses masyarakat terhadap buku bermutu. Terutama bagi mereka yang memiliki keterbelakangan ekonomi. "Ini sangat memprihatinkan karena selain meningkatkan wawasan, membaca dapat menekan fanatisme terhadap suatu pemikiran serta membangun budaya berpikir ilmiah. Untuk itu, kita perlu merunut dari akar permasalahan dan penyelesaiannya memerlukan keterlibatan semua pemangku kepentingan dan masyarakat umum," katanya menjelaskan. Paling rendah Senada dengan Netty, Ketua Panitia "Widyatama Berpagar Buku", Rienna Oktrina mengatakan, berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan ke-38 dari 39 negara dan merupakan yang paling rendah di kawasan ASEAN. "Banyak faktor yang menyebabkan turunnya minat baca masyarakat, di antaranya adalah ketiadaan sarana dan prasarana, khususnya buku bermutu. Tanpa buku bermutu, jelas minat baca tidak akan tumbuh," ujar Rienna. Untuk itu, kata Rienna, dalam rangka kampanye "books for all", Utama mencoba berperan serta dalam mengampanyekan budaya baca dengan cara menyumbangkan sekitar 20.650 buku kepada masyarakat di sekitar kampus. Buku-buku tersebut, merupakan sumbangan dari sekitar 1.500 orang civitas academica Utama dan donatur. "Dua ribu buku merupakan sumbangan Menteri Perhubungan, Freddy Numberi, diantaranya ada yang merupakan karangan sendiri," tuturnya. Sebelum disumbangkan, buku-buku tersebut ditata dalam rak sepanjang 500 meter yang mengelilingi kampus Utama sehingga memagari hampir seluruh areal kampus. Kegiatan ini kemudian dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai rekor baru penataan buku dalam rak terpanjang. "Kami mencatat ini sebagai yang pertama kalinya dan masuk dalam catatan rekor Muri ke-4.066," ujar Manajer Muri, J. Ngadri. (A-178)*** web: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=119363

