hehehe ide bagus baraya, di tahun 2010 aya peternakan lele di dalam kantor so 
wee di cobi.....

--- On Tue, 1/26/10, dudi mulyadi <[email protected]> wrote:

From: dudi mulyadi <[email protected]>
Subject: Bls: [Urang Sunda] Re: Banjir Euy, Banjir!
To: [email protected]
Date: Tuesday, January 26, 2010, 12:37 AM







 



  


    
      
      
      Tah  kabeneran atuh Dinas Perikanan teh...., sakalian we lah melak lele 
di jero kantor  ... lumayan, sugan hasilna keur nambah nambah resiko dapur

Dari: mh <khs...@gmail. com>
Kepada: Ki Sunda <kisu...@yahoogroups .com>; Baraya Sunda <baraya_sunda@ 
yahoogroups. com>; Urang Sunda <urangsu...@yahoogro ups.com>
Terkirim: Sel,
 26 Januari, 2010 03:31:18
Judul: [Urang Sunda] Re: Banjir Euy, Banjir!








 



    
      
      
      2.477 Hektare Sawah Terganggu Pengairannya

Dua Sungai Meluap



SEJUMLAH karyawan PNS di Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten

Bandung menjemur berkas dan komputer yang terendam banjir bandang di

Kompleks Pemerintah Kabupaten Bandung, Kecamatan Soreang, Senin

(25/1). Banjir bandang yang terjadi Minggu (24/1) sore menyebabkan

Kantor Dinas Perikanan dan Peternakan, serta Dinas Pertanian,

Perkebunan, dan Kehutanan terendam dengan ketinggian air mencapai 40

sentimeter. Belasan komputer rusak dan sejumlah berkas basah karena

terendam.* USEP USMAN NASRULLOH/"PR"



SOREANG, (PR).-

Curah hujan yang tinggi pada Senin (25/1) menyebabkan beberapa anak

sungai di Kab. Bandung meluap. Meski tidak menimbulkan genangan air

setinggi satu hari sebelumnya, Minggu (24/1), luapan beberapa anak

sungai tersebut menggenangi ratusan rumah warga dengan ketinggian air

20 sampai 40 sentimeter.



Genangan air kembali terjadi di Desa Cingcin, Kecamatan Soreang,

Kabupaten Bandung. Kepala Desa Cingcin Soleh Muhamad Rohmat ketika

dihubungi "PR", Senin (25/1) malam mengatakan, tinggi genangan sekitar

20 sampai 40 sentimeter. Luapan air menggenangi puluhan rumah warga.

"Kalau banjir seperti ini, merupakan banjir rutin, karena ada bagian

di Desa Cingcin yang berupa cekungan," ujarnya.



Luapan air juga sempat menggenangi Perumahan Gading Tutuka 1 sekitar

pukul 15.00 WIB akibat luapan Sungai Cijalupang. Namun, pada pukul

17.00 WIB, air mulai surut. Genangan air juga terjadi di Kampung

Cireungit, Desa Tanjungsari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung.



Di Kec. Banjaran, RT 4 RW 1 Kampung Muara Desa Banjaran Wetan juga

digenangi air akibat luapan Sungai Citalugtug. Camat Banjaran Iman

Irianto mengatakan, hingga pukul 20.00 WIB, air sudah naik 40

sentimeter dari sempadan sungai. "Puluhan rumah yang terendam, tetapi

airnya tidak terlalu tinggi," kata Iman.



Sementara itu, ratusan rumah di Kampung Cieunteung Kel./ Kec.

Baleendah juga kembali tergenang air. Hingga pukul 20.00 WIB,

ketinggian air antara 20 sampai 40 sentimeter. "Sepertinya air juga

masih terus naik," ucap Ketua RW 20, Jaja.



Longsor Leuwikuya



Sementara itu, Bupati Bandung Obar Sobarna yang meninjau lokasi tebing

longsor yang menghambat aliran irigasi Leuwikuya di Desa Buninagara

Kecamatan Kutawaringin Kabupaten Bandung, Senin (25/1) mengatakan,

seluas 2.477 hektare (ha) sawah di Kab. Bandung dan Kab. Bandung Barat

akan terganggu dalam hal pengairan akibat tidak berfungsinya saluran

irigasi Leuwikuya.



"Walaupun ini merupakan kewenangan Pemprov Jabar, tetapi karena aliran

irigasi ada di di wilayah Kabupaten Bandung, kami akan berusaha untuk

membersihkan gundukan sisa longsor di lima belas titik ini," ucap

Obar. Dari kelima belas titik longsor tersebut, terdapat satu

longsoran besar sepanjang sepuluh meter, sedangkan sisanya berupa

longsoran kecil.



Medan yang terjal membuat alat berat seperti backhoe tidak bisa

membantu penggalian longsoran. "Terpaksa kami gunakan tenaga manual,

setiap hari akan dikerjakan semaksimal mungkin, dan akan kami sediakan

dapur umum," ujarnya.



Sementara untuk batu-batu besar, Pemkab Bandung akan mengerahkan

tukang pemecah batu. "Akan kami bayar per kubik seperti jasa tukang

pemecah batu menghancurkan batu di tempat lain," kata Obar.



Sebagai langkah jangka panjang, Pemkab Bandung akan menginventarisasi

tanah milik warga yang berada di tebing Leuwikuya. "Seharusnya ada

sengkedan untuk mengantisipasi longsor," ucapnya.



Kepala UPTD Sub-DAS Cisangkuy Dinas Sumber Daya Air, Pertambangan dan

Energi (SDAPE) Erico Tommy Rain mengatakan, sedikitnya lahan pertanian

di sebelas desa di Kabupaten Bandung dan sepuluh desa di Kabupaten

Bandung Barat diairi aliran irigasi Leuwikuya. "Sedangkan kecamatan

yang dilewati adalah Kecamatan Soreang dan Kecamatan Kutawaringin, dan

Kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung Barat," katanya.



Debit air yang mengalir di saluran irigasi tersebut sebesar tiga ribu

liter per detik. "Karena longsoran ini, aliran berhenti total,"

ujarnya.



Untuk mengatasi bencana banjir yang telah menyebabkan tebing Leuwikuya

jebol kemarin, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jawa Barat

sudah mempersiapkan ratusan ribu karung dan bronjong untuk menahan

luapan air di daerah saluran irigasi tersebut. Karung-karung ini yang

nantinya akan diisi dengan pasir atau tanah, sedangkan bronjong akan

diisi batu sebagai penahan jika terjadi luapan air.



Selain itu, kemarin, Dinas PSDA, Balai Citarum, dan petani pemakai air

setempat, bersama-sama melakukan pengerukan dan perbaikan agar air

dapat mengalir kembali. "Kita harapkan pengerukan akan segera dapat

dituntaskan sehingga air akan dapat mengalir kembali," ujar Kepala

Bidang Operasi dan Pemeliharaan (OP) PSDA Jabar Endang Kusnadi kepada

"PR" di Bandung, Senin (25/1).



Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan

Kabupaten Bandung A. Tisna Umaran mengatakan, untuk sementara

pengairan untuk pertanian di Kab. Bandung bergantung pada Sungai

Ciwidey. Lagi pula, ujar Tisna, curah hujan yang tinggi sangat

membantu agar lahan pertanian tidak kekeringan.



"Kondisi pertanian sangat terbantu dengan musim hujan sehingga tidak

berpotensi kekeringan. Justru pada musim hujan, saluran irigasi lebih

berfungsi sebagai saluran pembuangan air daripada untuk mengairi lahan

pertanian warga," katanya.



Dia juga mengatakan, usia tanaman petani di Kecamatan Soreang dan

Kutawaringin yang kini mayoritas berkisar antara 50 sampai 60 hari,

membuat akar cenderung kuat sehingga tidak terlalu berpengaruh

terhadap kejadian banjir kemarin. Hari ini, menurut Tisna, pihaknya

masih akan turun ke lapangan untuk menginventarisasi kerugian

pertanian akibat banjir. (A-175/A-133) ***

Web: http://newspaper. pikiran-rakyat. com/prprint. php?mib=beritade 
tail&id=123928



2010/1/19 mh <khs...@gmail. com>:

> Tiap usum hujan datang, beja banjir dimana-mana, jiga beja di handap,

> banjir di Batawi.

> Jigana ieu bencana banjir teh, geus hese ngungkulanana. Sabab loba

> pisan indikatorna.

> Najan lain tukang noong cuaca ge, asana teu hese neangan indikator yen

> banjir masih

> mangrupa ancaman bencana di lembur urang.

>

> Basa uing pareng mulang ka lembur, dua taun kaliwat, kabeneran uing

> ulin ka sawah.

> Naon nu kapanggih matak pikamelangeun. Galengan solokan nu baheula bisa dipake

> lalar liwat munding reuneuh, kiwari galengan solokan teh ngan ukur

> ngajepret sagede

> halis nu geulis. Nalika uing pasarandog jeung nu liwat, kapaksa uing

> kudu ngarandeg

> heula, da puguh galengan solokan beak dipapas unggal tiap usum nyawah. Kacipta

> lamun mun terus-terusan dipapas, galengan solokan moal bisa deui nahan cai 
> caah

> mun hujan badag.

>

> Teuing nu dibarendo di Garut, arapaleun heunteu nya kana kaayaan jiga kieu.

> -mh-

>

> Ini Dia Lokasi Titik Genangan Air di Ibu Kota

> http://megapolitan. kompas.com/ read/2010/ 01/19/08332449/ Ini.Dia.Lokasi. 
> Titik.Genangan. Air.di.Ibu. Kota

> Beja

>



    
     








       Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT.  Rasakan bedanya sekarang! 

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke