Leres K...ang eta si Blackberry looked like..Hwa Hwe ngan Rp 799.000 banding Rp 8 jutaan asli.. Motor gede Kaisar (motor leutik tapi digede2keun tampilanna) oge ngan 4 jutaan banding Harley mini anu ratusan juta rp..........
On 1/29/10, MRachmat Rawyani <[email protected]> wrote: > > > > Komentar kuring kana tulisan di handap dikaitkeun jeung ayana demo-demo 100 > poe kabinet SBY, eta anu daremo "ogoan, olo-olo campur megalomania". Tadi > isuk di metro tv suryo pratomo ngomong, demo memang bisa jadi hiji asupan > pikeun pangawasa supaya leuwih soson-soson digawe, sabab gajih anu ditarima > ti pamarentah cukup pikeun nyumponan hirup normal, moal matak kulawarganya > balangsak. tinggal kumaha ayeuna mikirkeun supaya rahayat oge walatra > hirupna. Nya kudu siga si Aseng jeung pangawasa Cina, "bahu membahu" lain > keur korupsi. > > Bulan kamari, saurang dosen fisika ITB netelakeun hasil panalungtikanana, > Indonesia bisa nyieun lampu TL leuwih murah batan buatan cina, asal gawena > sing junun, lain soson-soson demo.(tapi ketang hp kuring oge ayeuna make > buatan cina. Keun waelah, itung-itung solider jeung bangga kana produk asia > batan eropa/amerika. Mun aya produk Indonesia, nyaan kuring rek meuli) > > baktos, > > mrachmatrawyani > > ------------------------------ > *From:* Waluya <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Fri, January 29, 2010 10:35:56 AM > *Subject:* [Urang Sunda] Fw; Asep jeung Aseng > > > > Kamari demo 100 poena SBY & Boediono marentah. Salah sahiji topik nu > diramekeun kunu demo, perkara perdagangan bebas jeung Cina. Loba nu sieuneun > ku perdagangan bebas jeung China teh, sabab barang China hargana relatip > murah dibandingkeun jeung jijieunan dalam negeri. Artikel Lie Charlie dina > Kompas Jabar poe kamari oge nulis perkara perdagangan bebas jeung China ieu. > > > Nyanggakeun artikelna jeung kudu kumaha urang nyikepanana? > > Asep dan Aseng > Perdagangan Bebas > > Kompas, Kamis, 28 Januari 2010 | 14:01 WIB > > Oleh Lie Charlie > > Ketika Asep berorasi menolak pemberlakuan perdagangan bebas ASEAN dengan > China di depan Gedung Sate, Aseng sedang mengelas di pabrik tempat ia > bekerja, The Double Happiness Steel Industry, di Guandong. Asep berjuang > agar barang China tidak masuk ke Pasar Baru, sedangkan Aseng tidak peduli > apa pun kecuali bekerja, makan, tidur, dan menonton film Jackie Chan. Asep > memikirkan nasib bangsa, tetapi Aseng hanya memikirkan sejengkal perutnya > sendiri. Asep bercita-cita ikut membangun negara, sedangkan Aseng memimpikan > Amei dan Megan Fox. > > Asep datang mengadu ke DPR karena merasa dizalimi dan dibayar rendah. "Kami > bukan sapi perah," teriak Asep sampai dari dalam mulutnya keluar api. Saat > itu Aseng sedang mengelas. Asep merokok satu pak sehari, yang berarti > menghabiskan 20 persen gajinya sebulan. Ia juga mengeluarkan > sekurang-kurangnya Rp 200.000 sebulan untuk membeli pulsa telepon seluler. > Aseng bisa menahan diri dan cuma merokok sebungkus seminggu dan jarang > memakai telepon seluler. > > Asep tiba-tiba menjadi nasionalis sejati dan khawatir pabrik (tempatnya > menuntut-nuntut) ditutup karena hasil produksinya tidak dapat bersaing lagi > dengan produk impor dari Chung Kuo. Padahal, dengan mangkir untuk > berdemonstrasi, ia menjadi kontraproduktif. Aseng konsisten mengelas dan > menabung sebab bercita-cita membuka warung bakmi sendiri. Ia tidak tertarik > membahas ideologi dan macam-macam paham sebab di negara komunis segala > sesuatu harus berwarna merah. Aseng dipuji produktif. > > Asep melihat bosnya bersembunyi dan hanya meninggalkan amplop ketika > petugas pajak mengunjungi pabrik dan mendengar beliau mengeluh, "Gue sudah > hampir bangkrut," sewaktu turun dari Alphard menjawab wartawan mengenai > prospek usahanya pada masa yang akan datang. Padahal, pabrik masih > beroperasi 24 jam memenuhi pesanan dari Jepang dan Thailand. Aseng melihat > bosnya dan ketua partai berkuasa setempat akur-akur saja dan tahu pabrik > dilindungi pemerintah daerah biarpun memproduksi barang palsu. Kacau dan > rancu > > China yang kita takuti secara ekonomi sebenarnya tidak punya rahasia sukses > apa-apa kecuali bekerja keras dalam makna sesungguhnya. China juga tidak > ujug-ujug berhasil seperti sekarang. Tiga puluh tahun lalu China tidak > memproduksi apa-apa kecuali bayi. > > Kemudian China mengorbankan apa saja demi pembangunan industri manufaktur. > Mereka pun merakit mesin sendiri. China juga menggunakan batu bara > kendatipun limbahnya mencemari lingkungan. > > Kita mengimpor mesin terbaru serba otomatis buatan Eropa atau AS yang dapat > berhenti bila operatornya (maaf) kentut serta ramah lingkungan. Jika tidak, > petugas berseragam akan datang memeriksa dan menyegel pabrik. Pak Gunawan > pandai berhitung dan ingin modalnya kembali dalam setahun. Alasannya, "Habis > Asep sering demo." Maka, produk kita kudu dijual lebih mahal daripada buatan > The People of the Republic of China yang membiarkan return of investment > (ROI) bergulir 10 tahun ke depan. > > "Belum lagi disebutkan bahwa bunga pinjaman bank kita relatif tinggi. > Bayangkan, minimal 18 persen per tahun. Maka, industri sektor riil kita > tinggal menunggu waktu untuk gulung tikar," papar ketua asosiasi. Maksudnya, > minta pemerintah mengucurkan dana subsidi. Jadi ingat kasus Bank Century. > Kalau pemerintah terharu dan terkecoh, pemilik pabrik akan menggunakan uang > yang turun untuk membangun bisnis lain yang lebih menguntungkan, seperti > membuka restoran. Satu atau dua tahun kemudian pasti ada panitia khusus > lagi. > > Lantas kita membandingkan Cibaduyut dengan The Great Wall Footwear Industry > di Shen-Chen yang memproduksi sneakers Reebok dan Nike. Analisis kita tambah > kacau dan rancu saat menyebut "pabrik" tekstil di Majalaya sudah berhenti > berproduksi dan sekian ribu tenaga kerja telah kena PHK. Maka, kita > membutuhkan "jaring pengaman sosial" triliunan rupiah. Hebat benar dampak > free trade agreement (FTA) tersebut! Baru berlaku beberapa hari sudah > menimbulkan dampak sedahsyat ini. Padahal, faktanya adalah bahwa "pabrik" > yang belum mengganti mesin tenun bertarikh 1942 memang sudah waktunya tutup. > > Kita bisa > > China punya sejumlah kelemahan dan kita dapat masuk menelikungnya dengan > memasok, misalnya, produk makanan dan minuman serta barang-barang kerajinan > tangan kreatif khas. Sejak memasukkan melamin ke dalam susu, industri > makanan dan minuman China menuai sentimen sangat negatif. Baru-baru ini > terbukti produk perhiasan imitasi China juga mengandung kadmium, logam > berbahaya yang konon dapat memicu penyakit kanker. Industri makanan kita, > juga sentra perak Kotagede serta intan dan akik di Martapura, punya peluang > besar mengekspor. > > Tidak perlu menantang China dalam sektor yang mereka jagoi, seperti > elektronik dan mainan anak-anak. Tandingi China dalam sektor yang tidak > mereka kuasai. China tidak memiliki cukup sumber daya alam dan energi. > Buktinya, China mengimpor banyak jenis bahan mentah dari kita, termasuk > minyak dan gas bumi. Mengekspor rotan dan mengimpor perabot rotan kiranya > bukan masalah asal harganya realistis. > > Kalau kita dapat membelikan Santi sehelai blus buatan China dengan harga Rp > 150.000, padahal blus yang mirip produksi dalam negeri berharga Rp 250.000, > kita patut bersyukur dan menyesal selama ini sudah digorok pemilik pabrik > garmen lokal yang berumah di Dago Pakar. > > LIE CHARLIE Pegawai Swasta di Bandung > > > >

