bener oge, kr rek dicobaan ah di kelas.
Mun 100 poe, manehna bisa naon.
Sabab kamari butuh 2 minggu nyieun proposal, tur 2 minggu oge ngomenana.

Baktos
Tantan

2010/1/29 Surtiwa <[email protected]>

>
>
> Tah ieu mah hade...sugan aya anu bisa...Pangalaman sayah mah baheula di
> Pausahaan keur ngarobah strategi usaha jeung dipraktekkeun nepi kaperlu 2
> taun leuwih..nepi ka hasil...kumaha ari nagara ngan diukur 100 poe....
>
>
> On 1/29/10, mh <[email protected]> wrote:
>>
>>
>>
>> jigana perlu dicoba, 'mahasiswa' sina nyieun tugas akhir dina 100 poe
>> geura.
>>
>> 2010/1/29 MRachmat Rawyani <[email protected]>
>>
>>
>>>
>>> Komentar kuring kana tulisan di handap dikaitkeun jeung ayana demo-demo
>>> 100 poe kabinet SBY, eta anu daremo "ogoan, olo-olo campur megalomania".
>>> Tadi isuk di metro tv suryo pratomo ngomong, demo memang bisa jadi hiji
>>> asupan pikeun pangawasa supaya leuwih soson-soson digawe, sabab gajih anu
>>> ditarima ti pamarentah  cukup pikeun nyumponan hirup normal, moal matak
>>> kulawarganya balangsak. tinggal kumaha ayeuna mikirkeun supaya rahayat oge
>>> walatra hirupna. Nya kudu siga si Aseng jeung pangawasa Cina, "bahu
>>> membahu"  lain keur korupsi.
>>>
>>> Bulan kamari, saurang dosen fisika ITB netelakeun hasil panalungtikanana,
>>> Indonesia bisa nyieun lampu TL leuwih murah batan buatan cina, asal gawena
>>> sing junun, lain soson-soson demo.(tapi ketang hp kuring oge ayeuna make
>>> buatan cina. Keun waelah, itung-itung solider jeung bangga kana produk asia
>>> batan eropa/amerika. Mun aya produk Indonesia, nyaan kuring rek meuli)
>>>
>>> baktos,
>>>
>>> mrachmatrawyani
>>>
>>> ------------------------------
>>> *From:* Waluya <[email protected]>
>>> *To:* [email protected]
>>> *Sent:* Fri, January 29, 2010 10:35:56 AM
>>> *Subject:* [Urang Sunda] Fw; Asep jeung Aseng
>>>
>>>
>>>
>>> Kamari demo 100 poena SBY & Boediono marentah. Salah sahiji topik nu
>>> diramekeun kunu demo, perkara perdagangan bebas jeung Cina. Loba nu sieuneun
>>> ku perdagangan bebas jeung China teh, sabab barang China hargana relatip
>>> murah dibandingkeun jeung jijieunan dalam negeri. Artikel Lie Charlie dina
>>> Kompas Jabar poe kamari oge nulis perkara perdagangan bebas jeung China ieu.
>>>
>>>
>>> Nyanggakeun artikelna jeung kudu kumaha urang nyikepanana?
>>>
>>> Asep dan Aseng
>>> Perdagangan Bebas
>>>
>>> Kompas, Kamis, 28 Januari 2010 | 14:01 WIB
>>>
>>> Oleh Lie Charlie
>>>
>>> Ketika Asep berorasi menolak pemberlakuan perdagangan bebas ASEAN dengan
>>> China di depan Gedung Sate, Aseng sedang mengelas di pabrik tempat ia
>>> bekerja, The Double Happiness Steel Industry, di Guandong. Asep berjuang
>>> agar barang China tidak masuk ke Pasar Baru, sedangkan Aseng tidak peduli
>>> apa pun kecuali bekerja, makan, tidur, dan menonton film Jackie Chan. Asep
>>> memikirkan nasib bangsa, tetapi Aseng hanya memikirkan sejengkal perutnya
>>> sendiri. Asep bercita-cita ikut membangun negara, sedangkan Aseng memimpikan
>>> Amei dan Megan Fox.
>>>
>>> Asep datang mengadu ke DPR karena merasa dizalimi dan dibayar rendah.
>>> "Kami bukan sapi perah," teriak Asep sampai dari dalam mulutnya keluar api.
>>> Saat itu Aseng sedang mengelas. Asep merokok satu pak sehari, yang berarti
>>> menghabiskan 20 persen gajinya sebulan. Ia juga mengeluarkan
>>> sekurang-kurangnya Rp 200.000 sebulan untuk membeli pulsa telepon seluler.
>>> Aseng bisa menahan diri dan cuma merokok sebungkus seminggu dan jarang
>>> memakai telepon seluler.
>>>
>>> Asep tiba-tiba menjadi nasionalis sejati dan khawatir pabrik (tempatnya
>>> menuntut-nuntut) ditutup karena hasil produksinya tidak dapat bersaing lagi
>>> dengan produk impor dari Chung Kuo. Padahal, dengan mangkir untuk
>>> berdemonstrasi, ia menjadi kontraproduktif. Aseng konsisten mengelas dan
>>> menabung sebab bercita-cita membuka warung bakmi sendiri. Ia tidak tertarik
>>> membahas ideologi dan macam-macam paham sebab di negara komunis segala
>>> sesuatu harus berwarna merah. Aseng dipuji produktif.
>>>
>>> Asep melihat bosnya bersembunyi dan hanya meninggalkan amplop ketika
>>> petugas pajak mengunjungi pabrik dan mendengar beliau mengeluh, "Gue sudah
>>> hampir bangkrut," sewaktu turun dari Alphard menjawab wartawan mengenai
>>> prospek usahanya pada masa yang akan datang. Padahal, pabrik masih
>>> beroperasi 24 jam memenuhi pesanan dari Jepang dan Thailand. Aseng melihat
>>> bosnya dan ketua partai berkuasa setempat akur-akur saja dan tahu pabrik
>>> dilindungi pemerintah daerah biarpun memproduksi barang palsu. Kacau dan
>>> rancu
>>>
>>> China yang kita takuti secara ekonomi sebenarnya tidak punya rahasia
>>> sukses apa-apa kecuali bekerja keras dalam makna sesungguhnya. China juga
>>> tidak ujug-ujug berhasil seperti sekarang. Tiga puluh tahun lalu China tidak
>>> memproduksi apa-apa kecuali bayi.
>>>
>>> Kemudian China mengorbankan apa saja demi pembangunan industri
>>> manufaktur. Mereka pun merakit mesin sendiri. China juga menggunakan batu
>>> bara kendatipun limbahnya mencemari lingkungan.
>>>
>>> Kita mengimpor mesin terbaru serba otomatis buatan Eropa atau AS yang
>>> dapat berhenti bila operatornya (maaf) kentut serta ramah lingkungan. Jika
>>> tidak, petugas berseragam akan datang memeriksa dan menyegel pabrik. Pak
>>> Gunawan pandai berhitung dan ingin modalnya kembali dalam setahun.
>>> Alasannya, "Habis Asep sering demo." Maka, produk kita kudu dijual lebih
>>> mahal daripada buatan The People of the Republic of China yang membiarkan
>>> return of investment (ROI) bergulir 10 tahun ke depan.
>>>
>>> "Belum lagi disebutkan bahwa bunga pinjaman bank kita relatif tinggi.
>>> Bayangkan, minimal 18 persen per tahun. Maka, industri sektor riil kita
>>> tinggal menunggu waktu untuk gulung tikar," papar ketua asosiasi. Maksudnya,
>>> minta pemerintah mengucurkan dana subsidi. Jadi ingat kasus Bank Century.
>>> Kalau pemerintah terharu dan terkecoh, pemilik pabrik akan menggunakan uang
>>> yang turun untuk membangun bisnis lain yang lebih menguntungkan, seperti
>>> membuka restoran. Satu atau dua tahun kemudian pasti ada panitia khusus
>>> lagi.
>>>
>>> Lantas kita membandingkan Cibaduyut dengan The Great Wall Footwear
>>> Industry di Shen-Chen yang memproduksi sneakers Reebok dan Nike. Analisis
>>> kita tambah kacau dan rancu saat menyebut "pabrik" tekstil di Majalaya sudah
>>> berhenti berproduksi dan sekian ribu tenaga kerja telah kena PHK. Maka, kita
>>> membutuhkan "jaring pengaman sosial" triliunan rupiah. Hebat benar dampak
>>> free trade agreement (FTA) tersebut! Baru berlaku beberapa hari sudah
>>> menimbulkan dampak sedahsyat ini. Padahal, faktanya adalah bahwa "pabrik"
>>> yang belum mengganti mesin tenun bertarikh 1942 memang sudah waktunya tutup.
>>>
>>> Kita bisa
>>>
>>> China punya sejumlah kelemahan dan kita dapat masuk menelikungnya dengan
>>> memasok, misalnya, produk makanan dan minuman serta barang-barang kerajinan
>>> tangan kreatif khas. Sejak memasukkan melamin ke dalam susu, industri
>>> makanan dan minuman China menuai sentimen sangat negatif. Baru-baru ini
>>> terbukti produk perhiasan imitasi China juga mengandung kadmium, logam
>>> berbahaya yang konon dapat memicu penyakit kanker. Industri makanan kita,
>>> juga sentra perak Kotagede serta intan dan akik di Martapura, punya peluang
>>> besar mengekspor.
>>>
>>> Tidak perlu menantang China dalam sektor yang mereka jagoi, seperti
>>> elektronik dan mainan anak-anak. Tandingi China dalam sektor yang tidak
>>> mereka kuasai. China tidak memiliki cukup sumber daya alam dan energi.
>>> Buktinya, China mengimpor banyak jenis bahan mentah dari kita, termasuk
>>> minyak dan gas bumi. Mengekspor rotan dan mengimpor perabot rotan kiranya
>>> bukan masalah asal harganya realistis.
>>>
>>> Kalau kita dapat membelikan Santi sehelai blus buatan China dengan harga
>>> Rp 150.000, padahal blus yang mirip produksi dalam negeri berharga Rp
>>> 250.000, kita patut bersyukur dan menyesal selama ini sudah digorok pemilik
>>> pabrik garmen lokal yang berumah di Dago Pakar.
>>>
>>> LIE CHARLIE Pegawai Swasta di Bandung
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>
>  
>



-- 
tantan hermansah | SM 1270 I 0818 800 528 I Untuk Kebebasan dan Kebahagiaan
I Bogor

Kirim email ke