Rabu, 16 Januari 2008
114 ORANG TEWAS JADI 
TUMBAL KERAMAT BADIGUL
 
Penulis : Eka Supriatna
 
Buldoser dan 2 becko tak sanggup menggeser batu 
menhir di bukit Badigul. Malah tiga sopir alat-alat berat itu sekarat tanpa 
sebab. Korban-korban lain pun berjatuhan....
 
Badigul, begitu orang menyebut bukit kecil di kota 
Bogor bagian Selatan ini. Selintas tak ada yang nampak istimewa pada segundukan 
tanah di atas lahan seluas 5000 meter persegi itu. Hanya ruput halus lapangan 
golf yang mengelilinginya. Di sisi barat berdiri sebuah bangunan sport center 
milik perumahan elite Rancamaya. Di sisi lain nampak sebuah gedung megah pusat 
penelitian dan pengembangan agama Budha. Bukit itu sendiri kini telah menjadi 
miliki perumahan Rancamaya.
Namun 20 tahun lalu, sebelum Badigul digusur 
pengembang Rancamaya, bukit ini adalah sebuah tempat yang amat dikeramatkan 
masyarakat Sunda. Betapa tidak, Badigul diyakini sebagai tempat mandapa Prabu 
Siliwangi. Di bukit ini sang Prabu sering semedi hingga kemudian ngahiyang 
menghadap Sang Pencipta. Dulu orang berbondong-bondong berziarah pada leluhur 
mereka di bukit Badigul yang luasnya masih 5 hektar. Saat itu masih terdapat 
beberapa alat gamelan sunda yang memiliki kekuatan magis, namun kini menghilang 
entah ke mana.
"Dulu bukit itu masih tinggi. Badigul dikelilingi sebuah 
telaga yang bernama Renawijaya. Jika orang ingin ke puncak bukit, mereka harus 
menyeberangi telaga dan mengambil air wudlu di sana," tutur Ki Cheppy 
Rancamaya, 
53 tahun, saat ditemui Misteri di rumahnya.
Berkisah tentang Badigul, Ki 
Cheppy, spiritualis dan budayawan ini, merasa miris mengingat masa lalunya. Ia 
adalah orang yang mati-matian mempertahankan tempat keramat itu. Namun kekuatan 
rezim Orde Baru dan pengaruh uang dari pengusaha membuatnya harus mengakui 
kekalahan. Badigul digusur, ia diculik Kopassus dan dipenjarakan tanpa 
pengadilan. Setahun lebih Ki Cheppy harus meringkuk di penjara Paledang, 
Januari 
1992-1993. Tak cukup sampai di situ, setelah keluar Ki Cheppy kembali melakukan 
perlawanan terhadap penguasa. Tapi akhirnya ia pun harus kembali meringkuk di 
tahanan untuk ke dua kalinya.
Sebuah pengalaman mistik pun dialami Cheppy 
saat ia menghuni Blok B 8 Rutan Paledang, Bogor. Saat itu ia dipanggil sipir, 
katanya ada keluarganya yang hendak menjenguknya. Cheppy pun keluar dari ruang 
tahannya. Namun belum genap 10 langkah ia meninggalkan ruang tahanan itu, 
tiba-tiba terdengar bunyi menggelegar dari ruang tahannya. Sebuah petir yang 
menghebohkan seisi napi Paledang menjebolkan tembok kamar tahanan Cheppy yang 
tebalnya 75 cm. "Saat itu memang hujan rintik-rintik. Petir itu membuat lubang 
berdiameter 50 cm pada dinding penjara. Jika saya ada di dalam tentu saya sudah 
mati. Belakangan saya baru tahu kalau petir itu adalah santet kiriman anak buah 
Cecep Adireja," tutur Cheppy.
Keberanian Cheppy untuk mempertahankan Badigul 
memang bukan tanpa alasan. Ia yakin seyakin-yakinnya, Badigul adalah tempat 
keramat peninggalan leluhur Pakuan Pajajaran. Keyakinan Cheppy itu juga 
diperkuat oleh keyakinan banyak masyarakat di sana. Budayawan-budayawan Sunda 
pun telah menetapkan situs Badigul sebagai Cagar Budaya yang patut 
dilestarikan. 
Bahkan Solihin GP, tokoh masyarakat Sunda yang kala itu menjabat Sesdalopbang 
pun melarang penggusuran keramat Badigul dengan mengeluarkan nota pribadinya 
kepada Walikota Bogor. "Siapapun yang merusak tempat keramat akan kena supata 
(karma-Red.)," tutur Cheppy.
Cerita-cerita mistik dan supata yang dilontarkan 
Cheppy memang terbukti. Seratus orang buruh bangunan telah mati menjadi tumbal 
saat bukit Badigul dibuldoser. Namun ambisi pengusaha real estate untuk 
meratakan bukit Badigul tidak pernah luntur. Bukit itu tetap diratakan untuk 
perumahan dan lapangan golf hingga ketinggiannya berkurang 6 meteran.
Saat 
puncak badigul telah tercukur 6 meter itu muncul sebuah batu menhir sebesar 
mobil sedan. Anehnya batu sebesar itu sama sekali tak goyang saat dibuldoser. 
Penasaran dengan itu, pihak perumahan mendatangkan dua becko untuk menarik batu 
keramat itu. Tapi dua becko itu pun tak sanggup menggoyangkan batu itu. Bahkan 
satu becko malah patah saat menariknya. Secara logika batu itu seharusnya dapat 
digusur oleh buldoser. Saat itulah kesadaran para buruh tentang kekuatan mistik 
bukit Badigul mulai terbuka. "Tapi mereka terlambat, 3 orang supir alat berat 
itu pun mati," tutur Cheppy.
Mengingat keanehan-keanehan yang terjadi, 
akhirnya pihak perumahan sepakat untuk tidak memindahkan batu itu. Batu itu 
tetap di tempatnya kemudian dibenamkan dan kembali timbun dengan tanah. Jadilah 
bukit Badigul kini sebagai lapangan golf dengan sport center dan pusat 
penelitian agama Budha di sebelahnya.
Memang ironis, hanya untuk membuat 
sebuah lapangan golf dan pusat kebugaran, pihak pengembang harus menghancurkan 
cagar budaya. Mereka juga harus bertentangan dengan kepercayaan masyarakat 
sekitar yang meyakini kekeramatkan Badigul. Alhasil mereka harus menumbalkan 
114 
orang buruh untuk mencukur 6 meter bukit Badigul. "Kita berurusan dengan 
makhluk 
di dunia lain. Tapi mereka juga punya tempat dan habitat di bumi ini. Jika 
mereka diganggu, mereka pun bisa mengganggu kita," jelas Cheppy.
Tentang 
kekeramatan bukit Badigul, mungkin hanya Cheppy yang pernah menyibak tabir 
mistiknya. Ia adalah penduduk asli Rancamaya, Bogor Selatan. Ia adalah orang 
yang paling rajin bermunajat di sana. Ia sering melakukan kontak batin dengan 
penguasa gaib bukit Badigul. Bahkan ia juga pernah melakukan meditasi dan puasa 
selama 100 hari di bukit itu.
Dikisahkan Cheppy, suatu malam ia tengah 
melakukan meditasi di puncak Badigul. Menjelang tengah malam, ia melihat seekor 
anjing hitam yang diapit dua ekor anjing kecil berbulu putih di kiri kanannya. 
Dalam hati, Cheppy yakin itu bukan binatang sungguhan. Sebab tak mungkin 
binatang-binatang itu tiba-tiba muncul di hadapannya tanpa diketahui dari mana 
datangnya. Tidak mungkin pula anjing itu bisa ke puncak Badigul, sebab harus 
menyeberangi telaga Renawijaya.
Binatang-binatang yang tampak gagah itu 
memandang heran ke arah Cheppy. Tapi sedikit pun Cheppy tak bergeming dari 
tempatnya duduk. Cheppy tetap konsentrasi dengan meditasinya. Sesaat ia melihat 
ajing berbulu hitam itu menengadahkan kepalanya pada Cheppy. Tapi ia tak 
mengerti apa maksudnya. Dan dalam ketidak mengertian itu, sekedipan mata saja 
anjing-anjing aneh itu hilang dari pandangan Cheppy.
Malam yang lainnya, 
Cheppy juga pernah menemukan fenomena mistik yang sulit diterima akal sehatnya. 
Malam itu, Cheppy sengaja datang ke Badigul untuk melanjutkan meditasinya. Dari 
rumah, ia membawa segala perlengkapan sajen yang diperlukan di keramat Badigul. 
Cheppy berharap malam itu ia akan mendapatkan sesuatu yang selama ini ia 
cita-citakan.
Lepas Maghrib Cheppy duduk tepekur menghadap Kiblat. Tepat 
tengah malam, ketika Cheppy tengah khusuk meditasi sambil memejamkan matanya. 
Tiba-tiba ia melihat sepertinya matahari terbit dari balik gunung Salak. 
Sinarnya terlihat benderang menerangi seantero alam. Gunung Salak terlihat 
jelas, pohon besar hingga rumput kecil dan perumahan penduduk di kaki gunung 
itu 
terlihat jelas.
Sesaat Cheppy tak yakin, ia sadar bahwa gunung salak itu 
berada di sebelah barat. Mana mungkin matahari terbit dari arah barat. Ia lalu 
mengusap-usap matanya. Dan seketika itu pula bumi kembali gelap gulita. Tak 
nampak lagi matahari yang benderang di balik gunung salak itu. Yang tertinggal 
hanya kedipan-kedipan kecil dari lampu yang terpasang di rumah-rumah penduduk. 
"Itu benar-benar aneh dan saya mengalaminya sendiri. Kekuatan mistik Badigul 
memang nyata," jelas Cheppy.
Kisah lain yang lebih unik juga diceritakan 
Cheppy. Malam itu ia tengah wirid di Badigul. Karena penat, ia celentang 
merebahkan dirinya di tengah padang rumput puncak Badigul. Tapi sesaat kemudian 
ia tersentak kaget. Dari atas langit ia melihat seperti seberkas sinar 
keperakan 
jatuh menimpa dadanya. Seketika ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Dan 
mendadak, tangannya menyentuh benda pipih yang dingin. Ia pun langsung 
menggenggamnya. Kini di tangannya tergenggam sebilah kujang --- sebuah pusaka 
Pajajaran yang keampuhannya tak perlu diragukan lagi. Dan tatkala Misteri 
mencoba, ternyata, kujang itu memiliki daya kekebalan bagi siapa pun yang 
memegangnya.
Masih seputar fenomena mistik Badigul, Cheppy menceritakan suatu 
hari di tahun 1994 warga Bogor dihebohkan oleh penemuan telapak kaki raksasa di 
Batutulis dan Rancamaya. Berita yang menghebohkan itu pun diliput oleh 
media-media cetak dan elektronik di Jabotabek. Di Jalan Batutulis terdapat 
sebuah telapak kaki kiri sepanjang 1 meter. Jelas sekali telapak kaki itu bukan 
rekayasa manusia.
Sementara di Rancamaya juga terdapat sebuah telapak kaki 
kanan yang panjangnya sama dengan yang ditemukan di Batutulis. Lalu orang 
berimajinasi, kalau kaki itu adalah milik gaib Prabu Siliwangi. Sang Prabu 
sengaja mendatangi Batutulis kemudian loncat ke Rancamaya hanya dengan sekali 
langkah saja. Tak cuma itu, ternyata di sekitar puncak Badigul terdapat empat 
telapak kaki yang panjang dan besarnya sama. "Sang Prabu ke Batutulis lalu ke 
Rancamaya dan mengelilingi puncak Badigul," begitu jelas Ki Cheppy ketika 
ditanyai wartawan saat itu.
Kekeramatan bukit Badigul memang meyakinkan. Tak 
seorang warga Rancamaya pun yang dihubungi Misteri meragukan keangkerannya. 
Sejak batu keramat itu tak sanggup dibuldoser, tak seorang buruh pun yang mau 
melanjutkan pekerjaan di sana. Mereka takut terkena kutuk atau supata Eyang 
Prabu Siliwangi. "Kami tidak mau mati jadi tumbal," tutur Ujang warga Rancamaya 
yang waktu itu ikut melakukan pembabatan lahan di Badigul.
Ketakutan Ujang 
memang beralasan. Ia menceritakn beberapa orang rekannya yang mati akibat ikut 
meratakan tanah di bukit Badigul. Waktu itu, Herman dan beberapa teman Ujang 
diperintahkan untuk mengeruk tanah di puncak Badigul. Lewat tengah hari setelah 
mereka istirahat pekerjaan itu dilanjutkan. Namun alangkah terkejutnya Herman 
dan kawan-kawannya. Mereka melihat seekor ular hitam di atas tanah merah bukit 
Badigul. Tanpa pikir panjang ular itu mereka pukul ramai-ramai dengan batang 
kayu dan batu. "Esok harinya, Herman dan dua orang temannya itu dikabarkan 
sakit 
meriang lalu sore harinya mati semua," kisah Ujang pada Misteri.
Tentang 
Supata yang didawuhkan Prabu Siliwangi itu ternyata tidak hanya menimpa kuli 
bangunan atau buruh pekerja perumahan Rancamaya. Tapi juga menimpa seluruh 
penggede-penggede Perumahan elit itu. Cecep Adireja misalnya, tuan tanah yang 
menguasai pembebasan lahan untuk perumahan itu akhirnya mati mengenaskan. Tuan 
tanah yang disebut-sebut pemilik Hotel Salak, Bogor, ini meninggal setelah 
mengalami sakit berkepanjangan yang tak jelas sebab musababnya. Begitu pun 
dengan kakak dan adik Cecep, mereka mati setelah mengalami sakit yang tak 
sanggup diobati dokter. "Tidak hanya keluarga Cecep, supata itu juga diterima 
Kapolsek Ciawi dan lurah Rancamaya waktu itu. Mereka juga mati setelah 
mengalami 
sakit parah yang tak jelas penyakitnya," jelas Che

 



  






      

Kirim email ke