Asana teu aya di media elektronok atanapi cetak ngeunaan korban massal dugi ka ratusan jalmi........
On 2/2/10, Gunawan Yusuf Miarsadireja <[email protected]> wrote: > > > > Rabu, 16 Januari 2008 > 114 ORANG TEWAS JADI TUMBAL KERAMAT BADIGUL > > Penulis : Eka Supriatna > > Buldoser dan 2 becko tak sanggup menggeser batu menhir di bukit Badigul. > Malah tiga sopir alat-alat berat itu sekarat tanpa sebab. Korban-korban lain > pun berjatuhan.... > > Badigul, begitu orang menyebut bukit kecil di kota Bogor bagian Selatan > ini. Selintas tak ada yang nampak istimewa pada segundukan tanah di atas > lahan seluas 5000 meter persegi itu. Hanya ruput halus lapangan golf yang > mengelilinginya. Di sisi barat berdiri sebuah bangunan sport center milik > perumahan elite Rancamaya. Di sisi lain nampak sebuah gedung megah pusat > penelitian dan pengembangan agama Budha. Bukit itu sendiri kini telah > menjadi miliki perumahan Rancamaya. > Namun 20 tahun lalu, sebelum Badigul digusur pengembang Rancamaya, bukit > ini adalah sebuah tempat yang amat dikeramatkan masyarakat Sunda. Betapa > tidak, Badigul diyakini sebagai tempat mandapa Prabu Siliwangi. Di bukit ini > sang Prabu sering semedi hingga kemudian ngahiyang menghadap Sang Pencipta. > Dulu orang berbondong-bondong berziarah pada leluhur mereka di bukit Badigul > yang luasnya masih 5 hektar. Saat itu masih terdapat beberapa alat gamelan > sunda yang memiliki kekuatan magis, namun kini menghilang entah ke mana. > "Dulu bukit itu masih tinggi. Badigul dikelilingi sebuah telaga yang > bernama Renawijaya. Jika orang ingin ke puncak bukit, mereka harus > menyeberangi telaga dan mengambil air wudlu di sana," tutur Ki Cheppy > Rancamaya, 53 tahun, saat ditemui Misteri di rumahnya. > Berkisah tentang Badigul, Ki Cheppy, spiritualis dan budayawan ini, merasa > miris mengingat masa lalunya. Ia adalah orang yang mati-matian > mempertahankan tempat keramat itu. Namun kekuatan rezim Orde Baru dan > pengaruh uang dari pengusaha membuatnya harus mengakui kekalahan. Badigul > digusur, ia diculik Kopassus dan dipenjarakan tanpa pengadilan. Setahun > lebih Ki Cheppy harus meringkuk di penjara Paledang, Januari 1992-1993. Tak > cukup sampai di situ, setelah keluar Ki Cheppy kembali melakukan perlawanan > terhadap penguasa. Tapi akhirnya ia pun harus kembali meringkuk di tahanan > untuk ke dua kalinya. > Sebuah pengalaman mistik pun dialami Cheppy saat ia menghuni Blok B 8 Rutan > Paledang, Bogor. Saat itu ia dipanggil sipir, katanya ada keluarganya yang > hendak menjenguknya. Cheppy pun keluar dari ruang tahannya. Namun belum > genap 10 langkah ia meninggalkan ruang tahanan itu, tiba-tiba terdengar > bunyi menggelegar dari ruang tahannya. Sebuah petir yang menghebohkan seisi > napi Paledang menjebolkan tembok kamar tahanan Cheppy yang tebalnya 75 cm. > "Saat itu memang hujan rintik-rintik. Petir itu membuat lubang berdiameter > 50 cm pada dinding penjara. Jika saya ada di dalam tentu saya sudah mati. > Belakangan saya baru tahu kalau petir itu adalah santet kiriman anak buah > Cecep Adireja," tutur Cheppy. > Keberanian Cheppy untuk mempertahankan Badigul memang bukan tanpa alasan. > Ia yakin seyakin-yakinnya, Badigul adalah tempat keramat peninggalan leluhur > Pakuan Pajajaran. Keyakinan Cheppy itu juga diperkuat oleh keyakinan banyak > masyarakat di sana. Budayawan-budayawan Sunda pun telah menetapkan situs > Badigul sebagai Cagar Budaya yang patut dilestarikan. Bahkan Solihin GP, > tokoh masyarakat Sunda yang kala itu menjabat Sesdalopbang pun melarang > penggusuran keramat Badigul dengan mengeluarkan nota pribadinya kepada > Walikota Bogor. "Siapapun yang merusak tempat keramat akan kena supata > (karma-Red.)," tutur Cheppy. > Cerita-cerita mistik dan supata yang dilontarkan Cheppy memang terbukti. > Seratus orang buruh bangunan telah mati menjadi tumbal saat bukit Badigul > dibuldoser. Namun ambisi pengusaha real estate untuk meratakan bukit Badigul > tidak pernah luntur. Bukit itu tetap diratakan untuk perumahan dan lapangan > golf hingga ketinggiannya berkurang 6 meteran. > Saat puncak badigul telah tercukur 6 meter itu muncul sebuah batu menhir > sebesar mobil sedan. Anehnya batu sebesar itu sama sekali tak goyang saat > dibuldoser. Penasaran dengan itu, pihak perumahan mendatangkan dua becko > untuk menarik batu keramat itu. Tapi dua becko itu pun tak sanggup > menggoyangkan batu itu. Bahkan satu becko malah patah saat menariknya. > Secara logika batu itu seharusnya dapat digusur oleh buldoser. Saat itulah > kesadaran para buruh tentang kekuatan mistik bukit Badigul mulai terbuka. > "Tapi mereka terlambat, 3 orang supir alat berat itu pun mati," tutur > Cheppy. > Mengingat keanehan-keanehan yang terjadi, akhirnya pihak perumahan sepakat > untuk tidak memindahkan batu itu. Batu itu tetap di tempatnya kemudian > dibenamkan dan kembali timbun dengan tanah. Jadilah bukit Badigul kini > sebagai lapangan golf dengan sport center dan pusat penelitian agama Budha > di sebelahnya. > Memang ironis, hanya untuk membuat sebuah lapangan golf dan pusat > kebugaran, pihak pengembang harus menghancurkan cagar budaya. Mereka juga > harus bertentangan dengan kepercayaan masyarakat sekitar yang meyakini > kekeramatkan Badigul. Alhasil mereka harus menumbalkan 114 orang buruh untuk > mencukur 6 meter bukit Badigul. "Kita berurusan dengan makhluk di dunia > lain. Tapi mereka juga punya tempat dan habitat di bumi ini. Jika mereka > diganggu, mereka pun bisa mengganggu kita," jelas Cheppy. > Tentang kekeramatan bukit Badigul, mungkin hanya Cheppy yang pernah > menyibak tabir mistiknya. Ia adalah penduduk asli Rancamaya, Bogor Selatan. > Ia adalah orang yang paling rajin bermunajat di sana. Ia sering melakukan > kontak batin dengan penguasa gaib bukit Badigul. Bahkan ia juga pernah > melakukan meditasi dan puasa selama 100 hari di bukit itu. > Dikisahkan Cheppy, suatu malam ia tengah melakukan meditasi di puncak > Badigul. Menjelang tengah malam, ia melihat seekor anjing hitam yang diapit > dua ekor anjing kecil berbulu putih di kiri kanannya. Dalam hati, Cheppy > yakin itu bukan binatang sungguhan. Sebab tak mungkin binatang-binatang itu > tiba-tiba muncul di hadapannya tanpa diketahui dari mana datangnya. Tidak > mungkin pula anjing itu bisa ke puncak Badigul, sebab harus menyeberangi > telaga Renawijaya. > Binatang-binatang yang tampak gagah itu memandang heran ke arah Cheppy. > Tapi sedikit pun Cheppy tak bergeming dari tempatnya duduk. Cheppy tetap > konsentrasi dengan meditasinya. Sesaat ia melihat ajing berbulu hitam itu > menengadahkan kepalanya pada Cheppy. Tapi ia tak mengerti apa maksudnya. Dan > dalam ketidak mengertian itu, sekedipan mata saja anjing-anjing aneh itu > hilang dari pandangan Cheppy. > Malam yang lainnya, Cheppy juga pernah menemukan fenomena mistik yang sulit > diterima akal sehatnya. Malam itu, Cheppy sengaja datang ke Badigul untuk > melanjutkan meditasinya. Dari rumah, ia membawa segala perlengkapan sajen > yang diperlukan di keramat Badigul. Cheppy berharap malam itu ia akan > mendapatkan sesuatu yang selama ini ia cita-citakan. > Lepas Maghrib Cheppy duduk tepekur menghadap Kiblat. Tepat tengah malam, > ketika Cheppy tengah khusuk meditasi sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba ia > melihat sepertinya matahari terbit dari balik gunung Salak. Sinarnya > terlihat benderang menerangi seantero alam. Gunung Salak terlihat jelas, > pohon besar hingga rumput kecil dan perumahan penduduk di kaki gunung itu > terlihat jelas. > Sesaat Cheppy tak yakin, ia sadar bahwa gunung salak itu berada di sebelah > barat. Mana mungkin matahari terbit dari arah barat. Ia lalu mengusap-usap > matanya. Dan seketika itu pula bumi kembali gelap gulita. Tak nampak lagi > matahari yang benderang di balik gunung salak itu. Yang tertinggal hanya > kedipan-kedipan kecil dari lampu yang terpasang di rumah-rumah penduduk. > "Itu benar-benar aneh dan saya mengalaminya sendiri. Kekuatan mistik Badigul > memang nyata," jelas Cheppy. > Kisah lain yang lebih unik juga diceritakan Cheppy. Malam itu ia tengah > wirid di Badigul. Karena penat, ia celentang merebahkan dirinya di tengah > padang rumput puncak Badigul. Tapi sesaat kemudian ia tersentak kaget. Dari > atas langit ia melihat seperti seberkas sinar keperakan jatuh menimpa > dadanya. Seketika ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Dan mendadak, > tangannya menyentuh benda pipih yang dingin. Ia pun langsung menggenggamnya. > Kini di tangannya tergenggam sebilah kujang --- sebuah pusaka Pajajaran yang > keampuhannya tak perlu diragukan lagi. Dan tatkala Misteri mencoba, > ternyata, kujang itu memiliki daya kekebalan bagi siapa pun yang > memegangnya. > Masih seputar fenomena mistik Badigul, Cheppy menceritakan suatu hari di > tahun 1994 warga Bogor dihebohkan oleh penemuan telapak kaki raksasa di > Batutulis dan Rancamaya. Berita yang menghebohkan itu pun diliput oleh > media-media cetak dan elektronik di Jabotabek. Di Jalan Batutulis terdapat > sebuah telapak kaki kiri sepanjang 1 meter. Jelas sekali telapak kaki itu > bukan rekayasa manusia. > Sementara di Rancamaya juga terdapat sebuah telapak kaki kanan yang > panjangnya sama dengan yang ditemukan di Batutulis. Lalu orang berimajinasi, > kalau kaki itu adalah milik gaib Prabu Siliwangi. Sang Prabu sengaja > mendatangi Batutulis kemudian loncat ke Rancamaya hanya dengan sekali > langkah saja. Tak cuma itu, ternyata di sekitar puncak Badigul terdapat > empat telapak kaki yang panjang dan besarnya sama. "Sang Prabu ke Batutulis > lalu ke Rancamaya dan mengelilingi puncak Badigul," begitu jelas Ki Cheppy > ketika ditanyai wartawan saat itu. > Kekeramatan bukit Badigul memang meyakinkan. Tak seorang warga Rancamaya > pun yang dihubungi Misteri meragukan keangkerannya. Sejak batu keramat itu > tak sanggup dibuldoser, tak seorang buruh pun yang mau melanjutkan pekerjaan > di sana. Mereka takut terkena kutuk atau supata Eyang Prabu Siliwangi. "Kami > tidak mau mati jadi tumbal," tutur Ujang warga Rancamaya yang waktu itu ikut > melakukan pembabatan lahan di Badigul. > Ketakutan Ujang memang beralasan. Ia menceritakn beberapa orang rekannya > yang mati akibat ikut meratakan tanah di bukit Badigul. Waktu itu, Herman > dan beberapa teman Ujang diperintahkan untuk mengeruk tanah di puncak > Badigul. Lewat tengah hari setelah mereka istirahat pekerjaan itu > dilanjutkan. Namun alangkah terkejutnya Herman dan kawan-kawannya. Mereka > melihat seekor ular hitam di atas tanah merah bukit Badigul. Tanpa pikir > panjang ular itu mereka pukul ramai-ramai dengan batang kayu dan batu. "Esok > harinya, Herman dan dua orang temannya itu dikabarkan sakit meriang lalu > sore harinya mati semua," kisah Ujang pada Misteri. > Tentang Supata yang didawuhkan Prabu Siliwangi itu ternyata tidak hanya > menimpa kuli bangunan atau buruh pekerja perumahan Rancamaya. Tapi juga > menimpa seluruh penggede-penggede Perumahan elit itu. Cecep Adireja > misalnya, tuan tanah yang menguasai pembebasan lahan untuk perumahan itu > akhirnya mati mengenaskan. Tuan tanah yang disebut-sebut pemilik Hotel > Salak, Bogor, ini meninggal setelah mengalami sakit berkepanjangan yang tak > jelas sebab musababnya. Begitu pun dengan kakak dan adik Cecep, mereka mati > setelah mengalami sakit yang tak sanggup diobati dokter. "Tidak hanya > keluarga Cecep, supata itu juga diterima Kapolsek Ciawi dan lurah Rancamaya > waktu itu. Mereka juga mati setelah mengalami sakit parah yang tak jelas > penyakitnya," jelas Che > > >

