Tah saha nu baris meunang pulung nya, cenah Ki Anis keur neangan pewaris Pantun Bogor. Ari ceuk uing mah tinimbang neangan hiji-dua pewaris, asa leuwih hade mun diwariskeun ka balarea, ka sakumna manusa, ngarah karya sastra Pantun Bogor bisa diala manfaatna ku sarerea. Nya pewarisna teh nu leuwih cocok lain jalma tapi penerbit buku. Terbitkeun we atuh ngarah uing oge bisa maca. Lebah dieu jigana Ki Anis perlu ijtihad ngahartian "pewaris" nu ilaharna mangrupa manusa jad mangrupa lembaga. Keun sugan we dibejakeun ieu usulan uing ku baraya urang Bogor ka Ki Anis Dajtisunda. -mh- ========================= Mencari Ahli Waris Pantun Bogor
Dalam buku sejarah atau cerita rakyat tidak banyak yang mengisahkan secara detail tentang saat-saat terakhir kerajaan Pajajaran ketika digempur oleh pasukan gabungan dari Demak, Banten, dan Cirebon tahun 1526 M. Sebagian besar dongeng rakyat Pasundan tentang masa-masa itu selalu ditutup dengan kisah menghilangnya Prabu Siliwangi ke alam gaib dan mengubah pengikutnya menjadi manusia harimau. Sedangkan dalam Pantun Bogor terasa lebih masuk akal. Dikisahkan saat pasukan Pajajaran semakin terdesak mempertahankan keraton di Bogor, Raja Pajajaran Prabu Siliwangi membagi keluarganya menjadi tiga kelompok untuk menyelamatkan diri. Sang Prabu beserta rombongannya menuju pesisir Pantai Ujung Genteng, Sukabumi. Di tempat tersebut rombongan membuat perahu untuk menyeberang ke Pulau Nusalarang (sekarang Pulau Christmas). Namun, ketika perahu selesai dibuat dan digunakan menyeberang, badai ombak besar mirip tsunami menerjangnya hingga perahu pun hancur berantakan. Sang Prabu akhirnya pasrah, kemudian ia membebaskan pengikutnya untuk pergi ke mana pun menyelamatkan diri, ia sendiri memilih moksa. Di tempat lain putri bungsu Prabu Siliwangi Dewi Purnamasari memilih menyelamatkan diri ke wilayah Palabuhanratu. Sang Putri bersama pengawalnya kemudian membentuk perkampungan yang lambat laun berkembang menjadi pemerintahan kecil bernama Pelabuhan Nyai Ratu. Pemerintahan dilanjutkan oleh putri semata wayangnya Dewi Mayang Sagara yang pada tahun 1555 M mengganti nama kerajaan menjadi Kerajaan Pakuan Pajajaran Mandiri. ,Namun kerajaan ini kemudian digempur hingga tak bersisa oleh pasukan Kesultanan Mataram yang kala itu mulai berkuasa di tanah Sunda. Sedangkan Putra Mahkota Pajajaran, Prabu Anom Kean Santang menyelamatkan diri ke daerah sekitar Gunung Halimun Sukabumi, menyamarkan diri sebagai Batara Cikal dan kemudian menjadi nenek moyang masyarakat adat Banten Pancer Pangawinan. Dalam Pantun Bogor juga terdapat Uga (ramalan masa depan), malah kendati Pantun ini disusun pada abad ke-18 M, sudah bisa melukiskan ciri-ciri beberapa Presiden RI di antaranya seperti sosok Bung Karno disebutkan sebagai Raja make makuta buludru, unggah hulu banteng (Raja mengenakan mahkota beludru/peci menaiki kepala banteng, lambang Partai Marhaen). Presiden K.H. Abdurachman Wahid digambarkan sebagai ”Raja Lolong Unggah Karaton” (Raja Bermata Buta Bertahta di keraton). Pantun Bogor ditulis sekitar tiga ratus tahun lalu oleh seorang pujangga misterius yang memiliki nama samaran Aki Uyut Baju Rambeng hidup di sekitar Jasinga Bogor. Naskah tersebut kemudian diwariskan kepada Rd. Wanda Sumardja seorang Demang masa penjajahan Belanda. Naskah-naskah kemudian diwariskan lagi kepada Raden Mochtar Kala asal Bogor yang kemudian lebih dikenal dengan nama Rakean Minda Kalangan (RMK) sesepuh Bogor yang meninggal tahun 1983 lalu dalam usia 79 tahun. Semasa hidupnya, RMK kerap dijadikan narasumber oleh berbagai pihak tentang budaya Sunda. Namun, dari sekian banyak yang belajar kepadanya, hanya dua orang yang terpilih untuk mewarisi Pantun Bogor yakni sejarawan Drs. Saleh Danasasmita dan Anis Djatisunda. Kini tinggal Anis Djatisunda (71) yang masih hidup, tokoh berdarah Sunda dari ibu dan Sangihe Talaud Sulawesi Utara dari ayahnya ini dikenal sebagai sesepuh budayawan Sunda dan kerap diminta pendapatnya oleh berbagai pihak. Anis menjelaskan bahwa Pantun Bogor diwariskan dengan budaya tutur, ia dan almarhum Saleh Danasasmita dilarang keras mencatat saat menerima Pantun Bogor episode per episode. Beberapa episode Pantun Bogor di antaranya berjudul Kalang Sunda Makalangan, Pakujajar Beukah Kembang, Pakujajar di Lawanggintung, Kujang di Hanjuang Siang, Dadap Malam Cimandiri, Pajajaran Seren Papak, Curug Sipadaweruh, Tunggul Kawung Bijil Sirung, Lawang Saketeng ka Lebak Cawene, dan Ronggeng Tujuh Kalasirna. Pantun Bogor dibagi menjadi dua bagian yakni Pantun Bogor Leutik dan Pantun Bogor Gede. Pantun Bogor Leutik berkisah sekitar kehidupan sehari-hari masyarakat Kerajaan Pajajaran atau tentang para putri raja dan kesatria. Sedangkan Pantun Gede berkisah tentang ajaran agama Sunda, silsilah Raja Sunda, Uga, dan pola pemerintahan Kerajaan Sunda. Pada masa lalu Pantun Bogor disampaiakan oleh juru pantun sambil diiringi petikan kecapi lisung senar tujuh khas Pajajaran yang kini sudah punah. Anis menegaskan bahwa Pantun Bogor yang ia jelaskan kepada khalayak umum dewasa ini hanya diambil dari naskah Pantun Leutik, sedangkan ungkapan Pantun Gede dengan teks aslinya masih dirahasiakan karena sifatnya yang sakral. Bagian ini hanya akan diberikan kelak kepada ahli waris Pantun Bogor, yang hingga kini belum ia temukan. Anis berharap sebelum ajal menjemputnya, ia ingin menemukan pewarisnya yang benar-benar mencintai Kasundaan, yang berkepribadian ”Nyunda, Nyiliwangi, dan Majajaran” dan memiliki jiwa yang Saharigu, Sasusu, Sahate jeung Sarancage (Sehidup dan Semati) dengan Kasundaan. Bila tidak juga menemukan sosok yang sesuai, Pantun Bogor terpaksa akan ia bakar, hal itu sesuai pesan mendiang Rakean Minda Kalangan. Akan tetapi mudah-mudahan hal itu tidak terjadi, sebab bila kemudian harus sirna karena dibakar tentu sangat disayangkan, pasalnya kedudukan pantun ini bagi sebagian sejarawan dan budayawan memiliki nilai tinggi dalam perjalanan sejarah sastra dan budaya Sunda. (Luki Muharam, pegiat Lembaga Kebudayaan Cianjur) ***

