Baraya, 
Nembe terang, ningan Sumedang ge kagungan batik? (ih, kuper nya? hehehehe...). 
Nyanggakeun wartosna dina Kompas dinten kamari.

salam,
ro2

Batik Sumedang, Hanya Tinggal Nama?
Minggu, 7 Maret 2010 | 04:07 WIB

Myrna Ratna

Memasuki wilayah Sumedang, kenangan kembali ke masa puluhan tahun silam ketika 
kota ini sempat menjadi bagian dari masa kanak-kanak. Jalan yang berliku di 
wilayah Cadas Pangeran, dengan jurang curam yang menjadi pembatas jalan, 
tertanam segar dalam ingatan. 

Tak banyak yang berubah dengan kondisi itu. Kecuali, jalan terasa lebih sempit, 
juga deretan warung makan dan tahu yang berdiri di tepian jalan, yang menutup 
pemandangan langsung ke arah jurang. Dulu, jalanan ini sepi dan gelap di kala 
malam. Kini, kendaraan kami harus merambat perlahan di tengah kepadatan lalu 
lintas. Tersendat.

Suasana familiar itu semakin kental ketika memasuki pusat kota. Jalan-jalannya 
masih seperti dulu, hanya lebih semrawut. Pasar kembang, alun-alun, toko-toko 
kecil berpenutup papan kayu yang dinomori secara berurutan masih tetap ada. 
Bahkan, pabrik tahu yang berdiri sejak tahun 1914 tak berubah penampilannya.

Namun, tidak mudah mencari alamat yang diberikan. Kami harus bertanya 
berkali-kali untuk sampai pada kediaman Ina Mariana, perintis batik Sumedang. 
Rupanya ia sudah berpindah alamat ke Desa Cimasuk, Kecamatan Pamulihan, 
Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kami berhasil menemukan rumahnya yang sangat 
sederhana. Tidak terlihat jejak-jejak kesuksesan pengusaha perempuan yang 
pernah menjadi motor penggerak usaha batik Kasumedangan itu.

"Rumah saya sudah digadaikan. Ini saya menumpang pada rumah dinas suami, usaha 
saya bangkrut. Habis, semua habis. Utang saya bertumpuk dan sedang saya cicil 
sedikit demi sedikit," kata Ina (50), yang ditemui pertengahan Februari lalu.

Ina, satu-satunya pengrajin batik kala itu, mulai memopulerkan batik Sumedang 
pertengahan tahun 90-an. Berbeda dengan kabupaten-kabupaten di sekitarnya, 
seperti Garut, Tasikmalaya, ataupun Cirebon, Sumedang tidak memiliki tradisi 
membatik. Kota ini justru lebih dikenal dengan tradisi kulinernya, seperti tahu 
sumedang, opak oded, ubi cilembu, dan sale pisang.

Dimulai dari kecintaannya terhadap batik, Ina mulai belajar membatik dari 
kakaknya yang memiliki usaha batik di Bengkulu. "Saya membantu mencelup dan 
mencanting," katanya. Ia kemudian memperdalam pengetahuannya dengan belajar 
langsung di sentra-sentra industri batik, yaitu di Yogyakarta, Pekalongan, dan 
Cirebon. Semua ini memberinya inspirasi untuk mengembangkan batik Kasumedangan.

Ina menciptakan motif-motif yang menurutnya "khas" Sumedang, seperti motif 
lingga, kembang boled, hangjuang, klowongan tahu, mahkota (siger) binokasih, 
dan pintu srimanganti. "Banyak sekali motif yang bisa dibuat kalau kita mau 
sedikit kreatif mencarinya dari lingkungan sekitar," kata Ina yang mengaku 
motif-motif batik ciptaannya banyak terinspirasi dari sejarah kerajaan yang 
pernah ada di Sumedang, Geusan Ulun.

Meski demikian, menilik ragam hias batik yang diciptakannya terlihat pengaruh 
budaya lokal daerah lain, seperti Cirebon, Yogyakarta, Solo, maupun Pekalongan. 
Ragam hias "taburan merica", "taburan beras", "merak ngibing" misalnya, ikut 
diadaptasi ke dalam batik Sumedang.

Serbuan batik tekstil

Industri yang dirintis Ina berkembang pesat sampai tahun 2002. Pada saat itu, 
ia mampu melahirkan setidaknya 20 perajin batik melalui balai pelatihan yang 
dimilikinya. Ia menangani proses pembuatan batik dari dari hulu sampai hilir. 
Selain memikirkan motif, membuat polanya, menangani pewarnaan dan pengecapan, 
ia juga harus memikirkan bagaimana pemasarannya. Saat itu usahanya mendapat 
dukungan bupati saat itu, H Misbach, yang ikut menyosialisasikan batik Sumedang 
dengan menganjurkan pemakaian seragam batik bagi para pegawai pemerintah daerah.

Namun, pada tahun 2004, usahanya terus mengalami kerugian, terutama setelah 
populernya tekstil bercorak batik. Tekstil batik ini bukan hanya datang dari 
luar Indonesia, tetapi juga dari daerah-daerah sekitar. "Saya tidak akan mampu 
menyaingi batik tekstil. Harganya sangat murah di pasaran. Untuk batik cap yang 
saya buat, upah untuk mencelup, mencap, mencanting saja sudah Rp 25.000. Ongkos 
itu belum termasuk harga bahan, apalagi kalau bahannya adalah katun nomor satu 
juga obat-obatan pewarna. Paling murah selembar batik cap kami jual Rp 50.000. 
Sementara harga selembar batik tekstil cuma Rp 10.000. Itu pun ada yang sudah 
jadi kemeja," katanya.

Di masa produktifnya itu, sebulan ia bisa menjual sekitar 600 potong batik cap 
dan 1 sampai 2 potong batik tulis. Ia memang tak berani berharap pada batik 
tulis. Dengan harga kain dan obat-obatan saat itu, sebuah batik tulis paling 
murah dihargai Rp 250.000 dengan masa pengerjaan sekitar dua minggu per 
lembar." Jarang yang mau beli, Bu," katanya.

Masuknya tekstil bercorak batik mengubah konstelasi usaha batik di Sumedang. 
Harga murah pastinya lebih disukai. Apalagi dari tampilan luar, tekstil 
bercorak batik tidak terlalu "berbeda". Belum lagi membanjirnya produk-produk 
batik tetangga, seperti batik Garutan, batik Tasik, ataupun Cirebon, yang 
motifnya lebih beragam. Singkat kata, pada tahun 2004 usaha batik Ina bangkrut 
dan batik Sumedang pun hilang dari pasaran. "Utang saya sampai ratusan juta 
rupiah," lanjutnya.

Di kediamannya, batik Sumedang yang tersisa tinggal dua potong. Alhasil, 
sewaktu ia diminta berpartisipasi dalam acara kunjungan Ny Ani Yudhoyono ke 
sentra batik Cirebon awal Februari lalu untuk penyerahan bantuan kompor gas, ia 
tak bisa hadir karena sudah tak mampu lagi memproduksi batik.

"Bapak angkat"

Kondisi ini mengundang keprihatinan pengusaha batik Komarudin Kiduya, pemilik 
Rumah Batik "Komar" di Bandung. Bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam 
lembaga nonprofit Yayasan Batik Jawa Barat, mereka terlibat kegiatan untuk 
melestarikan tradisi batik yang ada di tanah Pasundan, termasuk menumbuhkan 
sentra-sentra industri baru di wilayah-wilayah yang tidak memiliki tradisi 
membatik.

Batik Sumedang menjadi salah satu prioritas dalam agenda mereka. Selain 
persoalan klasik, yaitu permodalan, tantangan utama bagi industri batik di 
Jabar adalah regenerasi pembatik. "Jadi bentuk bantuan yang kemungkinan kami 
berikan adalah pendampingan, seperti peminjaman tenaga pembatik dari kami 
(Batik Komar) untuk melatih para pembatik di sana sampai mereka bisa 
berproduksi. Nanti hasil produksi digunakan untuk perkembangan di sana," kata 
Komar.

Perhatian ini tentunya memberi harapan baru bagi Ina. Selasa (2/3) lalu ia 
mengirimkan pesan pendek. "Alhamdulillah, dinten Senen kamari kaping 1 Maret 
bantosan kompor gas ti Ibu Haji Ani SBY tos katampi, disanggakeun ku Ibu Sendy 
Yusuf, seueurna 5 buah. Manawi aya pesenan? Insya Allah, ibu masih semangat 
kok*." (Alhamdulillah, hari Senin 1 Maret bantuan kompor gas Ibu Ani Yudhoyono 
sudah diterima, diserahkan oleh Ibu Sendy Dede Yusuf (Ketua Yayasan Batik Jawa 
Barat) sebanyak lima buah. Mungkin mau memesan batik? Insya Allah Ibu tetap 
semangat kok*).

Canting-canting yang disimpan di gudang Ina kembali dibersihkan. Saatnya untuk 
memulai*. (BSW/IYA)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/07/0407032/batik.sumedang.hanya.tinggal.nama

Kirim email ke