Tah ieu aya "dongengeng" karangan kuring di http://staff.blog.ui.ac.id/rani, 
blog paling produktif sa UI. Punten teu disundakeun. Tapi bubuka tulisan eta 
cing cirining  urang Sunda.

Baktos,

mrachmatrawyani

Walanda dan Kisah Kerbau
 
Aya Walanda saparakanca bawa
kabar ka Sastra (UI) katanya pada Salasa (20/04) ada “veryaardag” 60 TH
pangajaran bahasa Walanda, makanya sang (Dubes) Dr. van Dam ngahaja babaca
sagala apa adanya antara Walanda dan Indonesia, kata kang Kabayan sang
wartawan.
 
 
Ya, betul memang hari selasa ini
(20/04) hingga sabtu diperingati 40 tahun pengajaran Bahasa Belanda di
Indonesia,  yang bernaung di bawah
Program Studi Belanda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).
Kegiatan yang akan berlangsung hingga 24 April ini akan diakhiri di rumah Max
Havelaar Rangkasbitung. Ada yang menarik pernyataan Dubes Kerajaan Belanda
untuk Indonesia Dr. Nikolaos van Dam  yang mengatakan, nama daerah Lebak Banten 
 merupakan salah satu kota yang paling dikenal
kebanyakan masyarakat Belanda, dibandingkan dengan kota-kota lainnya.
 
.Hal ini memang tidak
mengherankan, karena 150 tahun lalu (1860), terbit sebuah buku karangan
Multatuli (nama samaran Max Havelaar, seorang asisten residen yang bertugas di
Lebak Banten),  menceritakan tentang
sepak terjang pemerintah Kolonial Belanda dan para penguasa pribumi (Bupati dan
Demang) yang menindas rakyat pribumi.  Kisah ini pada tahun 1976 kemudian di 
filmkan dengan judul “Saijah dan
Adinda”  yang diproduksi oleh Fons
Rademaker Film. Para pemainnya antara lain
Peter Faber, Sacha Bulthuis, Krijn ter Braak, Joop Admiraal, Rutger Hauer, Rima
Melati dan E.M. Adenan Soesilaningrat.
 
Bicara perkara Walanda, jadi
ingat waktu pembuatan skripsi tahun 1980 an. Waktu itu bingung milih topik apa.
Minat ke bidang film tapi matakuliah yang diberikan terbatas. Akhirnya dipilih
skenario film,  mengopy dari perpustakaan
Sinematek yang waktu itu kepalanya Misbach Yusa Biran (suami artis Nany
Wijaya). Supaya berbeda dari yang lain (orsinil) dan tidak ada unsur plagiat
dipilihlah skenario film Saijah dan Adinda. Maka jadilah skripsi berjudul 
“Potret
Tiga Tokoh dalam Skenario Film Saijah dan Adinda”. Walaupun menurut
penilaian sineas (alm) D.A Peransi film Saijah dan Adinda tidak ada yang
istimewa, tetapi secara simbolik ada hal menarik dari cerita film itu. Ketika
sampai pada tahap teori komunikasi apa yang akan dipakai untuk menganalisis
skenario, timbul kebingungan. Akhirnya dipakailah teori komunikasi yang
dikemukakan George Gerbner. Pada masa itu teori dia tidak terlalu populer di
kalangan teman-teman mahasiswa komunikasi. Waktu maju sidang  was-was juga,
jangan-jangan salah  menerapkan teori.
 
 
Kembali ke soal film Saijah & Adinda, sebetulnya ada yang lebih menarik
untuk dilihat lebih jauh dari aspek simbolisasi. Cuma karena waktu dulu
belum menemukan  teori komunikasi yang
tepat sebagai alat untuk menganalisis, maka tidak jadi bahan skripsi. Hal yang
menarik tersebut yaitu kerbau yang ada dalam film tersebut. Pada film  
digambarkan bagaimana Saijah  begitu lengket dengan kerbau yang terkesan
pendiam dan lambat. Tetapi pada sekuen lain sang kerbau berubah menjadi
beringas dan perkasa ketika menghadapi harimau yang akan “mengganggu” sang
majikannya. Dengan “tandukannya” berhasil mengalahkan sang raja hutan. Dari
inspirasi ini (diduga kuat) Raden Saleh membuat lukisan kerbau dan harimau yang
legendaris itu. Begitu pula konon katanya, bapak pendiri bangsa ini, mendirikan
partai  dengan memakai kepala kerbau
(banteng) sebagai lambang partainya. 
 
Rupanya Multatuli sudah sejak
dulu membuat perumpamaan/simbol kerbau sebagai penjelmaan dari rakyat
kebanyakan.  Dalam cerita-cerita pada
beberapa sukubangsa, di Indonesia, kerbau senantiasa muncul. Kita kenal
Minangkabau di Suku Minang, atau Mundinglaya Dikusumah pada masyarakat Sunda.
Tapi di Belanda rupanya beda lagi, sapilah yang jadi ikon negeri keju itu. Satu
lambang kesejahteraan negeri kincir angin tersebut. Rupanya orang Indonesia 
masih ingat kemakmuran Belanda itu
karena hasil kolonialisme di Indonesia.
Sehingga muncullah peribahasa KERBAU PUNYA SUSU, SAPI  PUNYA NAMA.
 



________________________________
From: mj <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, April 20, 2010 2:00:22 PM
Subject: [Urang Sunda] belanda jeung msiswa sastra sunda upi

  
Nenehna atun, keur milu lomba blog kitu. Ieublogna, mun aya gambar rada kasep, 
eta si kuring heuheu
http://yatun. wordpress. com/2010/ 04/18/belanda- pusat-studi- ilmu-bahasailmu- 
antropologi- ilmu-sosial- dan-sejarah- wilayah/
 


      

Kirim email ke