Inna lillahi wainna ilaihi roijiun. Mugi ditampi iman, islam, amalna. 
Dilegakeun tur diucaangkeun alam kuburna. Amin.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: irpan rispandi <[email protected]>
Date: Fri, 30 Apr 2010 10:55:48 
To: <[email protected]>; <[email protected]>
Subject: [kisunda] umur jeung tanggungjawab

Kuring curat-coret yeuh, hampura teu disundakeun

***

With great power, comes great responsibility..., kalimat tersebut 
merupakan sepenggal dialog dalam film Spiderman. Kalimat ini diucapkan 
oleh Uncle Ben, paman dari si super hero Peter Parker, sesaat sebelum 
meninggal karena ditembak perampok. Rupanya paman Ben menyadari bahwa 
keponakannya itu telah mengalami hal yang luar biasa. Dan di ujung 
nafasnya, dia berusaha memberikan bimbingan kepada Peter, agar Peter 
menyadari bahwa kekuatan besar yang dia miliki itu membawa konsekwensi 
tanggungjawab yang besar pula.

Manusia sebagai mahluk hidup, dalam rentang kehidupannya tentulah 
mengalami fase-fase pertumbuhan dan perkembangan. Dari bayi, anak-anak, 
remaja, dewasa, tengah baya, tua, dan mati. Suatu proses yang pasti 
dialami semua manusia, bahkan semua mahluk hidup. Untuk menandai 
fase-fase tersebut, manusia mengembangkan suatu alat ukur yang menjadi 
standar dan diakui oleh siapapun dimanapun. Alat ukur tersebut dinamai 
umur. Umur didasarkan pada waktu yang telah dilalui oleh manusia 
tersebut, selama hidupnya dari semenjak lahir sampai saat ini. Nah, 
waktu itu sendiri oleh manusia ditandai dengan hitungan detik, menit, 
jam, hari, minggu, bulan, tahun, dst. Dan untuk umur, manusia 
menggunakan satuan tahun.

Kembali ke ucapannya paman Ben, bahwa semakin besar kekuatan seseorang, 
maka semakin besar pula tanggung jawabnya. Secara individu, manusia 
seiring pertumbuhannya, kekuatannya pun semakin berkembang. Jika ketika 
anak-anak hanya mampu mengangkat bantal misalnya, maka ketika sudah 
dewasa dia mampu mengangkat beras sekarung. Itu contoh kekuatan fisik. 
Ada lagi kekuatan nalar atau pikiran. Sewaktu anak-anak kita hanya mampu 
menghitung 1-100 misalnya, atau penjumlahan dan pengurangan sederhana, 
maka ketika dewasa, kita bisa melakukan penghitungan yang lebih 
kompleks. Dua contoh tersebut merupakan bukti bahwa kita semua 'memiliki 
kekuatan', dan tentu saja semakin besar kekuatan, semakin besar pula 
tanggungjawabnya.

Contoh sederhana dari tanggung jawab tersebut, bisa kita lihat pada 
bayi. Bayi, bisa dikatakan kekuatannya masih kecil, maka tanggung 
jawabnya pun kecil sekali. Bayi tidak mungkin mengangkat satu sak semen 
atau menyelesaikan soal mekanika kuantum, karena kekuatannya masih 
kecil. Karenanya tanggungjawabnya pun kecil juga. Bayi hanya 
bertanggungjawab menjaga kelangsungan hidup tubuhnya dengan bernafas, 
makan, dan buang kotoran. Selain itu, tidak ada. Berpakaian menjadi 
tanggung jawab orang tuanya, demikian juga membersihkan kotoran, 
mengobatinya ketika sakit, dsb. Seiring bertambahnya usia, maka 
tanggungjawabnya pun bertambah. Ketika anak-anak memelihara dirinya 
sendiri misalnya, remaja membantu orang tua memelihara rumah, dewasa 
membangun keluarganya sendiri, tengah baya memimpin RT atau jadi 
direktur, dst.

Nah, kalau umur adalah alat ukur dari fase pertumbuhan manusia, maka apa 
ya yang jadi alat ukur dari kekuatan dan tanggungjawab manusia? Apakah 
ujian-ujian seperti UN? atau tes-tes psikologis dan tes IQ? atau 
pendapat orang-orang disekitarnya? atau apa ya?

Soalnya banyak sekali kita temui, orang yang sudah banyak umurnya, namun 
rasa tanggungjawabnya tidak sebesar umurnya. Atau sebaliknya.

Kirim email ke