Pengertian Rumpaka secara singkat adalah kata-kata yang dipergunakan dalam sekar, tetapi ada juga yang menyebut Dangding atau Guguritan. Khusus mengenai dangding dan guguritan lebih dikenal di kalangan tembang. Para pesinden kiliningan atau wayang cukup memberi istilah kata-kata saja.
Penggunaan rumpaka tidak terbatas pada lirik atau syair saja, tetapi juga epik dramatik dan bentuk puisi lainnya termasuk juga bentuk prosa (prosa liris) masuk didalamnya. Pada perkembangan selanjutnya, sanjak bebas adalah bentuk puisi yang sangat banyak dipergunakan untuk lagu. Mengingat jangkauan yang luas dalam penggunaan rumpaka lagu Sunda, pengamat sastra cenderung menilai kata-kata dalam lagu disebut Sastra Lagu. Bentuk bentuk sastra lagu yang biasa dipergunakan dalam lagu Sunda, antara lain: 2.1. Puisi Bentuk-bentuk Puisi : Nyanyian mantra, Dongeng dan permainan anak-anak, Papantunan, jejemplangan, Dedegungan, Sanjak bebas lainnya. Contoh rumpaka dari mantera: Asihan aing si burung pundung Maung pundung datang amum Badak galak datang depa Oray bari datang numpi Burung pundung Burung cidra ku karunya Malik welas malik asih Ka awaking Curulung cai ti manggung Barabat ti awang awang Cai tiis tanpa bina Mun deuk nyatru ka si itu Mun deuk kala ka si eta Anaking palias teuing Contoh Rumpaka Pupujian: Anak Adam anjeun di dunya ngumbara Umur anjeun di dunya teh moal lila Anak Adam umur anjeun teh ngurangan Saban poe saban peuting dicontangan Anak Adam paeh anjeun teh nyorangan Cul anak salaki jeun babadaan ……………………………………… 2.2. Sisindiran Sisindiran adalah rumpaka yang sangat populer sekali pada pergelaran lagu-lagu kiliningan dan sindenan pada wayang. Begitu pula pada pergelaran lagu-lagu Ketuk Tilu sangat erat bersentuhan dengan lagunya. Kata-kata yang sama dalam sebuah sisindiran berulang kali dipakai dalam lagu yang berbeda-beda. Keistimewaan yang lain dalam penggunaan sisindiran dalam lagu sindenan adalah mengetengahkan beberapa sisindiran dalam satu goongan lagu. Hal ini banyak dilakukan para pesinden dengan jalan membabat sisindiran itu dalam lagu yang cepat. Dengan demikian, terkadang para pesinden bisa mengucapkan enam puluh suku kata dalam satu gongan yang hanya berjumlah enam belas ketukan saja. Sisindiran terbagi dalam beberapa bagian, antara lain: Rarakitan, Paparikan dan Wawangsalan. Rarakitan bentuknya hampir sama dengan sebutan Pantun dalam sastra Indonesia sedangkan Paparikan bentuknya menyerupai dengan Talibun dalam sastra Indonesia. Contoh Sisindiran: Panon poe rek pamitan Layungna beureum jeung kuning Unggal poe seuseuitan Nguyungna hayang ka kuring Mawa peti dina sundung Ditumpangan ku karanjang Pangarti teu beurat nanggung Tapi mangpaatna panjang Teu beunang dirangkong kolong Teu beunang dipikahayang Nyiruan genteng cangkengna Masing mindeng pulang anting 2.3. Kakawen Rumpaka yang digunakan pada kakawen biasanya jarang mempergunakan bahasa Sunda. Pergelarannya lebih terbatas pada pergelaran wayang. Persyaratan puisinya sudah tak menentu lagi. Dalam pergelaran tembang sering digunakan istilah Sebrakan. Contoh rumpaka pada kakawen: Gedong duwur kari samun Pagulingan sepi tingtrim Pepetetan samya murag Balingbing lan jeruk manis 2.4. Pupuh Ada tujuh belas macam pupuh yang berkembang di daerah Sunda. Baik nama maupun peraturan dalam membuat pupuh berbeda satu sama lainnya, begitu pula tentang watak-wataknya. Walaupun jumlah pupuh ada tujuh belas macam yang sangat populer dalam penggunaan untuk rumpaka hanya empat yaitu : Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula (KSAD). Pupuh sangat banyak dipergunakan dalam repertoar Tembang Sunda. Walaupun demikian dalam lagu sindenan, pupuh banyak dipergunakan dalam kata-kata untuk lagu Ageung. Meskipun telah banyak sajak-sajak bebas yang dipergunakan untuk sekar, bentuk pupuh pun masih banyak dipergunakan. Dalam gending karesmen gaya lama, unsur pupuh sangat dominant sekali. Karya RTA Sunarya, Machyar Anggakusumadinata, Wahyu Wibisana, Ading Affandi, Hidayat Suryalaga, sangat menonjol dalam penggunaan pupuhnya yang diolah dalam gending karesmennya. Nembang Wawacan adalah salah satu contoh penggunaan pupuh secara utuh dalam penggunaan kata-kata lagunya. Seandainya pada pupuh dipergunakan juga bentuk-bentuk puisi lain didalamnya seperti paparikan dan wawangsalan, maka istilahnya biasa disebut Paparikan Dangding atau Wawangsalan Dangding. Nama-nama Pupuh dan contoh rumpakanya: Asmarandana, Dangdanggula, Durma, Balakbak, Gurisa, Gambuh, Kinanti, Lambang, Ladrang, Magatru, Maskumambang, Mijil, Pangkur, Pucung, Sinom, Wirangrong dan Juru Demung.. Contoh Pupuh: PUPUH KINANTI Budak leutik bisa ngapung 8 uBabaku ngapungna peuting 8 i Kalayang kakalayangan 8 a Neangan nu amis-amis 8 i Sarupaning bungbuahan 8 a Naon bae nu kapanggih 8 i PUCUNGUtamana jalma kudu rea batur 12 u Keur silih tulungan 6 a Silih titipkeun nya diri 8 i Budi akal lantaran ti pada jalma 12 a Keterangan : Pupuh Kinanti terdiri dari 6 baris (padalisan) dengan guru wilangan (jumlah suku kata) dan guru lagu (huruf hidup pada setiap akhir padalisan adalah: 8 u, 8 i, 8 a, 8 i, 8 a, 8 I, sedangkan Pupuh Pucung terdiri dari 4 padalisan (baris) guru wilangan dan guru lagunya adalah :12 u, 6 a, 8 i/e, 12 a. 2.5. Prosa Bentuk Prosa digunakan pula untuk keperluan rumpaka Sekar dalam karawitan Sunda. Biasanya penggunaan prosanya berbentuk prosa liris. Hal ini dapat kita temukan dalam nyanyian dongeng anak-anak atau terdapat dalam beberapa bagian ceritera “Pantun”. Dalam dongeng anak-anak, kita dapat menemukan dalam cerita Si Buncir, yang sebenarnya kalau dikaji merupakan ringkasan cerita dari Si Buncir itu sendiri, yaitu; Kicik kicik bung gelembung Budak buncir naheun bubu di curugan Meunang anak anggay-anggay Anggay anggayna dipacok hayam Hayamna katinggang halu Haluna katincak munding Mundingna katinggang pakel Pakelna dituang putri Nyi putri jadi gantina Bentuk seperti di atas dapat ditemukan pula pada lagu “Ayang-ayang Gung” dan lagu-lagu kaulinan lainnya. Dalam ceritera pantun, penggunaan prosa liris dalam lagu banyak terdapat pada bagian-bagian: a. Lengser Midang b. Gambaran Kesaktian seseorang c. Menggambarkan kecantikan d. Adegan peperangan Isinya terkadang sangat berlebih-lebihan (superatif), tetapi justru disinilah terdapat nilai-nilai kejenakaan isi cerita itu. Bahkan pada bagian tertentu, terutama pada bagian kata-kata yang berlebihan merupakan aksen-aksen lagu yang penuh dengan dinamika. Contoh: Lengser Dangdan Kai Lengser geuwat dangdan Dangdan sakadangdan-dangdan Heubeul ngawula di ratu Lawas ngawula di menak Babasan kotok nonggeng Sabukna ku waring rabig Badongna ku batok copong Bajuna kutang tengahan Iketna wulung di modang Susumping ku pangrautan Gogodong ku lumpiang copong Landean ku bagal jagong Kerisna ku wiwilahan Cameti ku rangrang awi. Lengser Lumpat Lumpat sakalumpat lampet Tarik batan mimis bedil Lepas batan kuda leupas Ngadudud sarangka duhung Liang irung mamaungan Buah birit mani hapa Balas kasepakan keuneung Mani eor cecekolan Eor mumuncanganana Nya kelek tatarompetan Palangkakan tetembangan Munggah eor heheotan Lain lantung tanpa beja Manggul piutusan ratu Ngemban piwarangan menak -- Posted By KOS WR to PANGAUBAN SEKAR at 5/22/2010 05:43:00 AM

