Tamba tiiseun teuing, aya artikel heubeul ti Majalah Tempo 6 taun katukang, 
perkara Karawang nu cenah mah tempat suci jaman baheula. Nyanggakeun:

Karawang, Kota Suci Masa Silam
Tempo, 07 JUNI 2004

Bul kukus ngalun ka manggung
Nyambuang ka awang-awang 
Mugi dugi ka sanghiang 
Amit ampun nya paralun

(Mengepullah asap pedupaan, naik perlahan
Menyebar ke angkasa raya 
Semoga sampai ke sang dewa 
Mohon ampun dan maafkanlah)

Asap setanggi masih mengepul dari pedupaan di ruang rias grup kesenian 
jaipongan Batujaya. Seorang sinden melantunkan Kembang Gadung-inilah tembang 
pembukaan sebelum keriaan itu digelar, sekaligus menjadi ritual penghormatan 
kepada Sanghyang dan roh leluhur. Lagu ini selalu dinyanyikan sebelum 
pertunjukan jaipongan dimulai.

"Kalau lagu bubuka (pembuka) Kembang Gadung tidak dinyanyikan, entah kenapa, 
ada saja yang kesurupan," kata Ujang Bei, pemimpin grup Primadona Jaipong 
Karawang, kepada TEMPO. Itu sebabnya, meski sinden (penyanyi wanita), nayaga 
(pemain musik), dan bajidor (tamu lelaki yang ikut menari sambil menyawer uang 
untuk sinden) beragama Islam, Kembang Gadung, yang pekat oleh "atmosfer" Hindu 
dan Sunda Wiwitan, menjadi lagu wajib seniman jaipongan. "Kami muslim, tapi 
tetap menghormati tradisi karuhun," ujar Bei.

Lagu Kembang Gadung boleh dikatakan salah satu cermin dari puncak pergumulan 
toleransi dan perpaduan antar-religi di Karawang yang berlangsung lebih dari 20 
abad. Masih ada sejumlah contoh lain. Di Karawang-wilayah yang dikenal sebagai 
lumbung padi Jawa Barat-masih banyak petani menyuguhkan sesajen ancak (aneka 
makanan) di pematang sawah, unur, atau lemah duhur (tanah tinggi). Bagi petani, 
ancak disuguhkan untuk dewi padi, Dewi Sri.

Hal serupa terjadi pada saat ziarah kubur yang kerap diselipi ritual sesajen, 
atau upacara Hajat Bumi menjelang musim menanam padi, serta nadran (pesta laut) 
di awal musim melaut. Dan pengaruh ini bukan tidak diserap oleh penganut Islam. 
Berjarak 50 kilometer sebelah timur Jakarta, Karawang juga menyajikan rupa-rupa 
"menu" yang intinya toleransi beragama.

Umpamanya, ada umat Buddha yang menyelenggarakan muludan (maulid Nabi Muhammad 
SAW), warga keturunan Cina beragama Kristen yang masih memuja roh para leluhur, 
serta gereja yang mendendangkan kidung Sunda. Semua ini dijalankan sebagai 
tradisi turun-temurun.

Keunikan kultur Karawang itulah yang membuat sejumlah peneliti berlomba menguak 
tabir yang menyelimutinya. Langkah awal dilakukan peneliti asing yang mengupas 
sisi-sisi budaya, sejarah, dan arkeologi, seperti N.J. Krom, H. Kern, dan Jean 
Boisselier. Lantas dilanjutkan ahli filologi-arkeologi dari Indonesia, seperti 
R.M.Ng. Poerbatjaraka, R.M. Sutjipto Wirjosuparto, R.P. Soejono, Hasan Djafar, 
Ayatrohaedi, Edi Sedyawati, Edi S. Ekadjati, dan R. Cecep Eka Permana.

Pertanyaan besar muncul sejak 1950-an tatkala untuk pertama kalinya ditemukan 
tiga buah arca Wisnu, I, II, dan III, di sejumlah lemah duhur alias tanah 
tinggi yang terbuat dari bahan bata-setelah digali, ternyata itu kompleks 
percandian-di Kecamatan Cibuaya. Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia 
melanjutkan penelitian terhadap situs Cibuaya pada 1984. Saat itu mereka 
mendapat kabar dari penduduk yang melihat ada kesamaan struktur lemah duhur 
Cibuaya dengan unur di Kecamatan Batujaya. "Batujaya ternyata lebih heboh. 
Lemah duhur-nya amat banyak," kata arkeolog Universitas Indonesia, Hasan Djafar.

Dari hasil penelitian yang dilakukan sejak 1985 sampai saat ini, situs 
Batujaya, yang sebarannya meliputi Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, memiliki 
tidak kurang dari 24 candi. Dari 24 candi yang telah disurvei, baru 11 candi 
yang diteliti dan digali secara intensif.

Penemuan candi yang luasnya mencapai ratusan hektare di Provinsi Jawa Barat 
tersebut sekaligus menggugurkan pendapat bahwa kompleks percandian hanya berada 
di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain situs Cibuaya dan Batujaya, di Jawa Barat 
ditemukan candi di situs Binangun (Pamarican), Pananjung (Ciamis), Batu Kalde 
(Pangandaran).

Bahkan bisa jadi, "Cibuaya dan Batujaya merupakan kompleks percandian tertua di 
Pulau Jawa," kata Hasan Djafar. Alasannya, candi-candi itu berhubungan dengan 
Kerajaan Tarumanagara, yang berkuasa pada abad ke-5-7 Masehi. Meski begitu, ada 
pula penemuan arkeologis masa awal Kerajaan Galuh, abad ke-8-9 Masehi. Dengan 
demikian, pada masa lampau, Karawang pernah dijadikan pusat keagamaan 
(religious-center), "Sekaligus kota suci bagi penganut Hindu, Buddha, dan 
animisme-dinamisme," Hasan melanjutkan (lihat Tanamlah Pohon yang Bisa Dituai).

Dari hasil penggalian dan pengkajian, para arkeolog kemudian menemukan hal yang 
unik. Ternyata kompleks percandian Cibuaya lebih memperlihatkan ciri keagamaan 
bercorak Hindu, yang dibuktikan dengan hadirnya arca Wisnu. Sedangkan kompleks 
percandian Batujaya memperlihatkan ciri keagamaan yang bersifat Buddhis, 
seperti ditemukannya votive tablet bergambar relief Buddha, fragmen prasasti 
terakota berisi mantram agama Buddha dengan huruf Pallawa berbahasa Sanskerta.

Di Cibuaya dan Batujaya juga ditemukan menhir, "Sebagai agama prasejarah 
bersifat animisme-dinamisme," kata Hasan. Dari situ dia melontarkan kesimpulan, 
betapa masyarakat Karawang tidak hanya memiliki semangat toleransi, tapi juga 
mampu menyerap budaya luar, sehingga mengakar menjadi jati diri dan kultur khas 
Karawang. Singkat kata, "Pada masa yang bersamaan dengan Kerajaan Tarumanagara, 
di Karawang hidup tiga agama yang berdampingan secara harmonis," kata Hasan.

Sikap terbuka masyarakat dalam menerima kedatangan agama-agama baru di Karawang 
juga berlangsung pada masa-masa sesudahnya. Petilasan Syekh Hasanuddin Quro di 
Desa Pulo Kalapa, Lemah Abang, menunjukkan penerimaan yang baik dari warga 
Karawang terhadap agama Islam. Syekh Hasanuddin Quro dikenal sebagai pendiri 
pesantren tertua di Karawang dan Jawa Barat, pada 1416.

Suasana damai juga dirasakan umat Buddha yang mendirikan Wihara Sian Jin Kupo 
pada 1770 dan Wihara Bio Kwan Tee Koen pada akhir abad ke-19. Begitu pula umat 
Nasrani yang pada 1899 mendirikan Gereja Kristen Pasundan Jemaat Immanuel.

Karena kebiasaan masyarakatnya yang masih menjalankan ajaran karuhun, amat 
wajar kalau umat Islam Karawang lebih memilih Nahdlatul Ulama sebagai 
organisasi keagamaannya. "NU kan ahlussunnah wal jamaah, masih membolehkan kami 
memakai pedupaan," kata Catari, seorang warga Desa Pulo Kalapa.

Menyadari daerahnya memiliki sejumlah rumah ibadah tertua serta menjadi embrio 
penyebaran agama-agama besar, Pemerintah Kabupaten Karawang berupaya memberikan 
perhatian besar terhadap aspek harmoni beragama di wilayah tersebut. Memang 
pada 1997 sempat terjadi kerusuhan sosial bermotif sentimen keagamaan. Bahkan 
saat ini pun mulai masuk aliran keagamaan yang mereka nilai "keras" dalam 
penyebaran ajarannya.

Namun hal itu dengan cepat diredam oleh semua tokoh agama dengan membentuk 
wadah Forum Umat Karawang. "Percikan kecil permasalahan agama segera 
dikomunikasikan," kata Ketua Forum Umat Karawang, K.H. Muhammad Abbas. Bupati 
Karawang Achmad Dadang, yang dalam beberapa kesempatan juga turun tangan secara 
langsung, selalu menekankan agar warganya mencontoh suri teladan para tokoh 
penyebar agama di Karawang, seperti Syekh Hasanuddin Quro. "Masyarakat Karawang 
adalah masyarakat yang agamis," ujar Achmad Dadang.

Sedangkan untuk merawat dan melestarikan bekas bangunan pusat peribadatan yang 
amat bersejarah itu, "Kami mengarahkan pengembangan pariwisata yang berbau 
agama," kata Wakil Bupati Karawang Shalahuddin Muftie. Pemerintah Karawang 
menjamin tidak akan mengganggu situs-situs dan pertanian, yang sebagian besar 
berada di bagian utara, kendati hal ini berarti amat mungkin pemerintah daerah 
itu harus bertarung dengan berbagai kepentingan industri-yang memang berkembang 
di wilayah tersebut. Jadi, bagaimana perlindungan warisan sejarah itu akan 
dilakukan?

Khusus untuk kawasan percandian, "Tanahnya steril, sudah dibebaskan, dan kami 
lindungi." Malah Wakil Gubernur Jawa Barat Bidang Pemerintahan, Mochammat 
Husein Jachjasaputra, telah menyerahkan sertifikat untuk situs Batujaya seluas 
1.495 meter persegi. Di tanah tersebut kini sudah berdiri gedung penyelamatan 
benda cagar budaya situs Batujaya.

Celakanya, ketika para arkeolog sedang mengungkap misteri peradaban masa lampau 
di kedalaman satu sampai tiga meter di perut bumi Karawang, saat ini diam-diam 
PT Pertamina melakukan uji seismik untuk mendapatkan minyak. Setidaknya 200 
ribu titik dari 15 kecamatan dan 305 desa sedang disurvei.

Dari uji seismik, Pertamina dalam waktu dekat akan melakukan pengeboran di 
Kecamatan Pakisjaya. "Ternyata titik yang terbaik untuk pengeboran sekitar dua 
kilometer dari kompleks percandian Batujaya," kata Manajer Hubungan Masyarakat 
Pertamina Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian Barat, Sri Kustini, kepada TEMPO 
pekan lalu. Seperti halnya Batujaya, Pakisjaya memiliki percandian. Sebelumnya, 
sejak 1960-an, Pertamina mengeksploitasi minyak mentah Rengasdengklok di Desa 
Tambak Sumur, Kecamatan Tirtajaya, Karawang.

Khawatir pengeboran mengganggu situs Batujaya, Pertamina berjanji akan 
berbicara dengan para arkeolog sebelum melakukan pengeboran. "Kami akan 
mengundang mereka dalam waktu dekat," kata Sri. Dari sana nanti akan terlihat 
koordinatnya. Kalau lokasi kandungan minyak jauh dari situs candi, pihaknya 
melakukan pengeboran langsung di lokasi (directional drilling).

Namun, bila kandungan minyak tepat berada di sekitar situs candi, lokasi 
pengeboran digeser ke tempat yang aman dengan teknik horizontal miring 
(horizontal drilling). Bagaimanapun, kata Sri, pengeboran tidak dapat 
dihentikan, mengingat minyak masih menjadi andalan devisa negara. Meski begitu, 
dia menyadari situs harus dipertahankan.

Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Jabotabek, R. Cecep Eka 
Permana, menyambut baik langkah Pertamina tersebut. Mengingat di Batujaya dan 
Pakisjaya terdapat kepentingan yang berbeda tapi saling membutuhkan, dia 
berharap segera dilakukan pengkajian yang komprehensif. "Ini bukan sekadar 
jarak yang tidak jauh, tapi dampak kawasan industri terhadap nasib situs," kata 
Cecep.

Seperti sebuah dunia kecil yang terus bertahan pada warisan masa silamnya, 
Karawang yang pernah "meleburkan" lima agama dalam sebuah persemaian itu mampu 
menyerap sikap harmoni beragama yang diajarkan para leluhurnya dalam rupa-rupa 
detail kehidupan. Di Karawang, nyanyian Sunda ditembangkan di dalam gereja, 
lagu beratmosfer Hindu dinyanyikan sinden muslim, dan umat Buddha sibuk 
menyiapkan perayaan maulid: sebuah oasis di tengah kawasan pantai utara yang 
riuh oleh industri dan perniagaan.


Kirim email ke