Para wargi,

Tadi kaparengkeun ngobrol sakedatan sareng kang Nana Munajat, dosen seni
tari ti SMKI. Anjeunna nitip pesen supaya ngabewarakeun oge, lian ti iber
ngantunkeunana kang Setia Permana, tos ngantunkeunana tokoh Seni Tari anu
kahot ti Indramayu: Mimi Rasinah.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Parantos ngantunkeun urang sadaya tokoh
anu tuhu ngamumule salah sahiji realitas kasenian di Tatar Sunda: Ibu Mimi
Rasinah. Mugia almarhumah dina mulih ka jatina, mulang ka asalna aya dina
rido Anjeun Na.

Ngeunaan saha ari ibu Mimi almh? mangga salah sahini seratan ngeunaan
anjeunna kasanggakeun di handap ieu:
#Duka dari Indramayu: Mimi Telah Tiada
Kompas.com
Minggu, 8 Agustus 2010 | 10:11 WIB

Saya beruntung bisa menyaksikan pertunjukkan Mimi Rasinah yang pertama dan
terakhir. Selama ini saya hanya mendengar namanya dan menyaksikan kerentaan
beliau beberapa kali melalui tayangan televisi yang mengangkat kegiatannya
sebagai seorang guru tari.

Saat menyaksikan pergelarannya di Bentara Budaya Jakarta pada Rabu (4/8),
Rasinah duduk di kursi roda. Maka seperti telah tahu akhir "perjalanannya"
Rasinah pun membacakan nujumnya melalui sebuah nomor "Rogoh Sukma" yang ia
tarikan bersama sang cucu, Aerli.

Sementara suara nayaga di latar belakang menambah larat suasana. Simaklah
ini,"Ampun ya Gusti...jika saya tak sanggup lagi, biarkan anak-cucu yang
mewarisi...."

Lantas, hanya dengan satu tangan kanan yang masih terbebas dari serangan
strooke, Mimi Rasinah--yang merupakan pewaris ke sembilan dalang Topeng
Indramayu--mulai menggerakkan jari-jarinya, selaras dengan bunyi gamelan.
Semua penonton langsung tertegun, tersihir oleh gerak Rasinah yang
kharismatik. Sang cucu, Aerli, yang berdiri di belakang Rasinah melakukan
gerakan yang sama dengan sang nenek.

Dialog batin antara nenek dan cucu pun berlangsung melalui gerak. Aerli yang
berdiri di level pun seperti sedang menyatakan kesanggupannya untuk
meneruskan semangat dari tradisi tari topeng dermayuan.

* * *

Kehadiran Mimi Rasinah di Bentara Budaya Jakarta malam itu, untuk meramaikan
forum pameran kerajinan,  foto, dan pergelaran ”Indramayu dari Dekat”, yang
digelar 4-8 Agustus 2010.

Padahal, menurut Dinar, salah seorang pengurus Bentara Budaya, Rasinah harus
menghabiskan waktu sembilan jam perjalanan dari Indramayu menuju Jakarta
karena kemacetan lalu-lintas. Namun, di balik usianya yang telah 80 tahun
dan serangan strooke sejak lima tahun lalu, semangat untuk melakukan
"persembahan terakhir" kepada khlayak.

Di balik namanya yang mendunia, Mimi Rasinah tetaplah pribadi yang sederhana
dan hidup dengan segala keterbatasan ekonomi. Ia bahkan hidup sangat melarat
sejak terserang stroke. Kehidupan Rasinah saat itu sangat tergantung dari
nafkah anak-anaknya yang bekerja sebagai penabuh gamelan dan kuli pemecah
batu.

Kendati demikian, Rasinah tetap menari. Ia tetap mengajari cucunya, Aerli,
menari topeng ketika setengah dari tubuhnya tak lagi bisa digerakkan. ”Mimi
masih bisa mengetuk kenong ketika saya menari, bahkan melempar saya dengan
pemukul kenong ketika salah menarikan gerakan tari topeng,” kata Aerli
kepada Kompas.

Meski hidup serba sulit, semangat menari Mimi Rasinah tak pernah pudar.
Baginya, tari topeng adalah takdir sekaligus pilihan hidup. Pilihan hidup
itulah yang membuat sanggarnya kembali ramai dengan anak- anak muda, penari
topeng baru.

Generasi baru ini memberikan angin segar bagi regenerasi tari topeng
Rasinah. Aerli Rasinah (24), cucu Mimi Rasinah, menghidupkan kembali sanggar
Mimi Rasinah dengan cara yang lebih inovatif, khususnya dalam hal manajemen
panggung. Jika dulu Mimi Rasinah-lah yang mengurusi seluruh keperluan depan
dan belakang panggung,  kini pekerjaan itu diambil alih oleh penari, pemain
musik, dan manajer panggung.

* * *

Sabtu malam (7/8), kabar duka datang dari Indramayu. Mimi Rasinah meninggal
di Rumah Sakit Umum Daerah Indramayu. Wangi Indriya (48) yang malam itu
mendapat giliran tampil di Bentara Budaya, segera mengumumkan berita duka
kepada para penonton, sekaligus meminta kepada penonton untuk memaafkan
kesalahan Rasinah serta mendoakannya.

Sebelum nomor pertunjukan terakhir digelar, Wangi bercerita tentang sang
maestro. Menurut Wangi, semula dirinya tidak bersedia berguru kepada
Rasinah. "Karena setahu saya, beliau itu hanya pelatih gamelan ibu-ibu dan
menguasai tarian sunda. Baru setelah saya korek dan dorong, muncullah
kepakaran beliau dalam menari topeng. Jadi beliau menari topeng kembali
setelah 20 tahun absen," tutur Wangi sambil berlinangan air mata.

Kemudian, Wangi pun mempersilakan kepada penonton untuk menyampaikan
kesan-kesannya tentang Rasinah. Seorang ibu yang mengaku kerap membawa
tamu-tamu asing ke kediaman Rasinah pun bertutur, betapa dirinya sangat
berduka atas kepergian Rasinah. "Saya minta kepada Mba Wangi untuk terus
menjaga dan mengembangkan tari topeng. Semangat Mimi Rasinah harus terus
dikobarkan."

Yang menarik dari sekian tamu yang menuturkan kenangannya atas Mimi Rasinah
adalah seorang staf Pusat Kebudayaan Jepang. Menurutnya, pihak Pusat
Kebudayaan Jepang adalah lembaga pertama yang membawa Rasinah dan beberapa
seniman Indramayu lainnya, termasuk Wangi, pergi ke luar negeri.

Setelah sukses menggelar pertunjukan di Jepang, Rasinah pun mulai
berkeliling dunia hingga ke Eropa dan Amerika. "Nah, baru setelah dunia
mengakui kehebatan Ibu Rasinah, orang Indonesia baru meliriknya. Ini sangat
disayangkan. Serharusnya masyarakat Indonesia lebih menghargai para maestro
semacam Mimi Rasinah, dan saya yakin maestro-maestro lainnya masih banyak di
beberapa wilayah Indonesia," ungkap staf Pusat Kebudayaan Jepang tersebut.

***
Kini Mimi Rasinah telah pergi dengan membawa segenap budi baiknya yang telah
bersedia membagikan sebagian waktu hidupnya untuk kesenian topeng Dermayon.
Kembali bangsa ini diingatkan, betapa orang-orang semacam Rasinah yang
selama ini tidak merepotkan negara, dan malah telah mengharumkan nama bangsa
dan negeri ini, justru kerap dilupakan kesejahteraan hidupnya.

Dan kepergian Mimi Rasinah pada Sabtu Siang, niscaya meninggalkan kenangan
yang luar biasa indah kepada mereka yang hadir menyaksikan pertunjukan
terakhirnya di Bentara Budaya Jakarta. Termasuk saya, yang tanpa terasa ikut
menitikkan air mata begitu mendengar kabar duka yang datang dari Indramayu.
*jodhi yudono#*

*manar
*

Kirim email ke