http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20100418043601&idkolom
=nyukcrukgalur

Minggu, 18 April 2010 

Tatar Ukur Cikal Bakal Kabupaten Bandung

TAHUN ini Kabupaten Bandung genap berusia 369 tahun, dan kerap diperingati
setiap tanggal 20 April. Sebuah usia yang terbilang tua dibanding
saudaranya, yakni Kota Bandung yang akan menginjak usia 200 tahun. Namun,
ditinjau dari sejarahnya kedua wilayah ini saling berkaitan. Perjalanan
sejarah Kabupaten Bandung tidak terlepas dari fase kekuasaan Mataram, VOC
Belanda, penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, masa kemerdekaan, pengisian
kemerdekaan (Orde Lama), masa Orde Baru hingga masa reformasi.

Kelahiran Kabupaten Bandung tidak akan lepas dari nama Dipati Ukur Agung
yang menguasai Tatar Ukur pada abad 17. Pada masa itu wilayah Tatar Ukur
kedatangan seorang Dipati Ukur atau Wangsanata (1625-1629), yang
disebut-sebut berasal dari Kerajaan Jambu Karang Purbalingga (sekarang
Banyumas, Jateng).

Wilayah Kabupaten Bandung termasuk wilayah Priangan yang terkenal keindahan
alamnya. Tak heran jika pemerintah Hindia Belanda menyebutnya dengan sebutan
Negorij Bandong atau West Oejoeng Broeng.

Wangsanata datang ke Tatar Ukur karena terusir dari tanah kelahirannya. Kala
itu Tatar Ukur di bawah kekuasaan Dipati Ukur Agung. Kedatangan Wangsanata
disambut baik oleh Dipati Ukur Agung. Terlebih Wangsanata ini mempunyai
pengetahuan keislaman yang cukup kuat, sehingga menjadi kepercayaan Adipati
Ukur. Ini ditandai dengan dinikahkannya Wangsanata pada putri Nyie Ageng
Ukur. Tidak lama kemudian, Wangsanata dinobatkan menjadi Dipati Ukuratas
persetujuan penguasa Mataram.

Sepak terjang Dipati Ukur terbilang nyongcolang ketika melakukan penyerangan
ke markas VOC di Batavia (Jakarta) atas perintah Sultan Agung Mataram.
Namun, penyerangan ini berakhir sia-sia karena jumlah musuh yang sangat
banyak dibanding pasukan Dipati Ukur. Meski begitu, mundurnya pasukan Dipati
Ukur memunculkan isu yang tak sedap dan Dipati Ukur dianggap baha ka raja
sehingga dihukum mati oleh Sultan Agung Mataram. Versi lain menyebutkan,
Dipati Ukur memilih menjadi pandita dan makamnya di sebuah bukit di daerah
Banjaran.

Mundurnya Dipati Ukur mengakibatkan kekosongan kekuasaan di Tatar Ukur. Hal
itu ditanggapi oleh Sultan Agung Mataram yang kemudian menerbitkan surat
keputusan atau serat piyagem yang ditulis pada hari Sabtu tanggal 9 Muharam
tahun Alif atau tanggal 20 April 1641. Kemudian tanggal itulah yang kini
ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Bandung hingga sekarang.

Dalam surat keputusan tersebut mengatur pula pembagian wilayah pemerintahan
kabupaten. Surat keputusan itu mengangkat Tumenggung Wiradadaha menjadi
Mantri Agung (Bupati) Sukapura, Tumenggung Wiraangun Angun menjadi Bupati
Bandung, dan Tumenggung Tanubaya menjadi Bupati Parakan Muncang. 

Selama satu abad, wilayah Tatar Ukur tidak tersentuh oleh Belanda. Namun
pada tahun 1741 datang seorang serdadu Belanda, yakni Kopral Arie Top dengan
jabatan in de functies van plaatselijk militair commandant. Disebutkan,
Kopral Arie Top menjadi orang Belanda pertama yang menetap di Tatar Bandung
(Bandoenger).

Untuk menjalankan pemerintahannya, Tumenggung Wiraangun Angun mendirikan
pusat pemerintahan di Krapyak, sebuah daerah di tepian Sungai Citarik yang
bermuara ke Sungai Citarum. Pada saat itu, Krapyak disebut Bumi Ukur Gede,
dan pada masa sekarang Krapyak berganti nama menjadi Citeureup yang berada
di wilayah Kecamatan Dayeuhkolot atau Oude Negorij (Belanda, red) dengan
jumlah penduduk sekitar 200 jiwa. 

Perintah Deandels

Pada masa pemerintahan Bupati Wiranatakusumah II (1794-1829), pusat
pemerintahan Kabupaten Bandung dipindahkan dari Krapyak ke daerah tepian
Sungai Cikapundung (Alun-alun Bandung). Pemindahan ini atas perintah
Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Deandels atau Mas Galak atau
Toean Goentoer. Pemindahan pusat pemerintahan ini untuk mendukung pembuatan
jalan raya pos (grote postweg) dari Anyer sampai Panarukan, untuk memperkuat
pertahanan Belanda di Pulau Jawa. 

Aktivitas pembangunan di Kabupaten Bandung mulai terasa saat jabatan Bupati
R.A.A. Martanegara (1893-1918). Bupati yang dikenal sastrawan ini sangat
prihatin dengan kondisi lingkungan yang ada pada saat itu. Yang paling
menonjol, Bupati Martanegara membangun kantor perusahaan Eropa, bank, dan
pertokoan. Selain itu, membenahi daerah seputar Jln. Braga hingga dikenal
sebagai De meest Europeesche Winkelstraat van Indie (daerah pertokoan yang
paling terkemuka di Hindia). (kiki kurnia/berbagai sumber)**

 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Kumincir Wikidisastra
Sent: Monday, August 16, 2010 8:56 AM
To: Kusnet
Cc: [email protected]
Subject: [Urang Sunda] Re: [Baraya_Sunda] Cerita Bandung : Asal Usul Nama
Bandung

 



asa kakara ngadenge, KABUPATEN TATA UKUR

sikandar
kumincir.blogspot.com

2010/8/16 nurul wachdiyyah



Asal Usul Nama Bandung
Oleh Mahanagari

Wilayah yang sekarang kita sebut Bandung pertama kali masuk peta pada waktu
Gubernur Jendral Raffles membangun Groote Postweg (Jalan Pos) di tahun 1810.
Waktu itu Bandung bernama Kabupaten Tata Ukur.

Daendels memerintahkan Bupati Tata Ukur memindahkan ibukota Kabupatennya
dari Krapyak ke arah utara sejauh 11 km sehingga pas berada di tepi Groote
Postweg yang berpotongan dengan Sungai Cikapundung. Bupati Tata Ukur waktu
itu R. Wiranata Koesoemah II menyebut kabupaten baru ini dengan nama Bandong
dengan 'pusat pemerintahannya' yang masih sangat sederhana di daerah Dalem
Kaum sekarang. Beliau sendiri berjuluk Dalem Karanganyar.








Kirim email ke