"Hotspot" Asyik untuk Teman "Nongkrong" 

HOTSPOT! Kata ini kini meniupkan gairah baru bagi pengguna internet,
terutama petualang alam maya yang juga doyan kongko. Sejumlah area
publik yang terlingkupi hotspot pun diburu, mulai sekadar untuk
merasakannya hingga memang benar-benar untuk kebutuhan pekerjaan.
Berlama-lama di kafe dengan hanya menyeruput secangkir hot lemon tea
jadi mengenyangkan jika ditemani seperangkat notebook berteknologi
wireless fidelity (Wi-Fi).

APAKAH tersedianya hotspot sejauh ini berhasil mengakomodasi kebutuhan
orang, khususnya para pengguna internet di kota besar seperti Jakarta?
Ternyata jawabannya masih tergantung dari kepentingan si pengguna
internet. Wi-Fi dengan hotspot-nya memang hanya salah satu pilihan
teknologi untuk beraktivitas secara nirkabel.

Rabu malam lalu, di salah satu sudut kafe di Plaza Senayan, Jakarta,
Amin Tamin (36) tampak serius menatap notebook-nya ditemani seorang
rekan kerjanya. Dia sempat mengeluh mengenai set-up awal untuk koneksi
yang agak sulit. Malam itu tampaknya pancaran gelombang radio dari
penyedia jasa internet (internet service provider/ISP) agak bermasalah.
Amin sengaja memilih kafe tersebut karena disitulah hotspot dari
provider langganannya.

"Yang paling bisa dinikmati dari hotspot di Indonesia mungkin sejauh ini
baru kecepatannya. Untuk download data berkapasitas besar, misalnya,
bisa cukup cepat. Sayang, jangkauannya masih terbatas, belum ada yang
outdoor atau seluas seperti di luar negeri," ujar Amin, konsultan media
interaktif.

Sejauh ini, di Jakarta, sebagian besar hotspot memang baru dapat diakses
di area publik dalam ruang, seperti kafe-kafe di sejumlah mal besar dan
hotel-hotel berbintang saja. Hal ini bagi para penggunanya dirasakan
belum begitu mendukung aspek mobilitas yang diharapkan. Belum lagi
terkadang muncul masalah seperti yang dijumpai Amin dan tidak adanya
petugas kafe yang paham.

Plaza Senayan memang belum seluruhnya tercakup hotspot, walau di
Cilandak Town Square atau Universitas Pelita Harapan (UPH) Anda bisa
berinternet ria di mana saja. Hanya saja, jika kafe yang ditandangi
menyediakan hotspot dari provider berbeda dengan provider yang
dilanggan, maka Anda harus membeli voucher, semacam kartu prabayar
telepon seluler. Paketnya bisa seharga Rp 25.000-Rp 100.000 untuk
pemakaian beberapa jam.

Namun, di Bali ternyata area hotspot sudah jauh berkembang. Mungkin
karena banyak turis yang tetap ingin berkabar dengan keluarga dan
koleganya. Lizzy, misalnya, adalah pelancong asal Melbourne, Australia,
yang ketika ditemui tengah mengakses e-mail-nya di Bali Deli. Ini adalah
salah satu pusat boga di kawasan Seminyak-Kuta, Bali.

Saat pramusaji menghantar makanan ke mejanya, matanya nyaris tak
berpindah dari layar monitor laptop Sony Vaio-nya. Seraya berkata thank
you, jemari kanannya terus menggerak-gerakkan mouse ke kiri dan ke
kanan.

"Komputer ini sudah dilengkapi dengan fasilitas wireless, baik mouse
maupun fasilitas koneksinya. Jadi, saya tinggal klik, semuanya
tersambung," kata Lizzy.

Di monitornya tertera tampilan deretan surat elektronik yang belum
dibukanya. "Memang banyak layanan internet di toko-toko, tetapi saya
merasa lebih nyaman dengan laptop saya. Apalagi, akses di sini lebih
cepat dibandingkan dengan di toko-toko internet walau tidak secepat di
negara saya," ujarnya.

Dengan membeli voucher prabayar seharga Rp 50.000, Lizzy mengaku dapat
menghabiskan waktu santainya di depan laptop hanya untuk membaca dan
membalas e-mail.


MENJELAJAH internet dengan fasilitas nirkabel sambil menikmati hidangan
dan minuman memang bukan hal asing bagi sejumlah pelancong maupun
ekspatriat di Bali yang berdiam di kawasan Seminyak, Kuta, Nusa Dua, dan
Sanur.

Hotspot sederhananya dapat diterjemahkan sebagai suatu area di mana
internet dapat diakses dengan perangkat (gadget) yang telah berteknologi
Wi-Fi. Dengan demikian, akses internet nirkabel dapat dinikmati. Disebut
nirkabel karena koneksi antara penyedia jasa internet dan pemakainya
tidak tersambung dengan kabel melainkan melalui gelombang radio.

Perangkat seperti notebook atau personal digital assistance (PDA)
berteknologi Wi-Fi pun kini sudah banyak di pasaran. Notebook dengan
prosesor Centrino yang punya baterai berdaya tahan lama akan mendukung
kenikmatan nirkabel ini.

Carlo Kawilarang (34), yang bekerja pada perusahaan pelayaran,
mengatakan, fasilitas hotspot di sejumlah area cukup membantunya dalam
pekerjaan. Dalam satu jam dia selalu menerima banyak e-mail dari
kliennya yang harus segera dibalas. Membuka e-mail satu per satu,
terlebih yang berkapasitas besar, melalui ponselnya masih terasa terlalu
lama. Sebab itulah dia akan mencari tempat- tempat ber-hotspot untuk
menyelesaikannya dengan notebook.

"Apalagi keberadaan saya paling banyak di luar kantor untuk ketemu
banyak klien, sementara e-mail juga harus dibalas. Mesti ke kantor dulu,
enggak praktis. Jadi, saya biasanya mengajak ketemu klien di tempat yang
ada hotspot- nya," ungkap Carlo menambahkan.

Meski demikian, Carlo yang mengaku pencandu teknologi ini tidak segan
mengakui bahwa dirinya mencari hotspot juga untuk sekadar nongkrong dan
menyalurkan hobinya surfing internet.

"Kumpul-kumpul sama teman-teman sesama pencandu teknologi di tempat
ber-hotspot rasanya asyik aja. Jadinya butuh hotspot ya kadang
dibutuh-butuhkan saja," ujarnya terkekeh.

Sementara itu, Kazuo Pontoh (43), reporter televisi publik di Jepang,
mengakui, selain getol mengikuti perkembangan teknologi, dia kadang
membutuhkan hotspot untuk pekerjaannya. Dia mencontohkan saat harus
memantau dua peristiwa sekaligus: perkembangan perolehan suara para
calon presiden di Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan kedatangan Hitomi
Soga.

"Kami buka function room di Hotel Intercontinental yang sudah
ber-hotspot. Saya kan harus buka banyak situs berita untuk pantau Soga,
juga situs KPU. Dengan hotspot lebih nyaman dan cepat. Download data 30
megabyte juga cuma satu jam lima belas menit," kata Pontoh.

Ia menambahkan, fasilitas hotspot akan lebih membantu jika cakupannya
sudah luas di penjuru kota. Setidaknya, menurut dia, perlu ada di
gedung- gedung perkantoran. "Untuk sekarang, menikmati hotspot sembari
sekadar kongko di kafe memang asyik. Kalau untuk mendukung pekerjaan,
cakupan hotspot harus luas," kata Pontoh.

DI UPH dan Bina Nusantara (Binus) juga telah terlingkupi hotspot.
Praktis, pemandangan mahasiswa berkutat dengan notebook-nya bertebaran
di mana-mana, kelas, koridor, perpustakaan, juga kantin. Mulai dari
sekadar ber-friendster ria, buka-buka e-mail, surfing, hingga download
data untuk tugas-tugas kuliah.

"Enak juga ada hotspot gratis begini. Kami bisa koneksi internet kapan
saja di mana saja selama di area kampus. Saya dan teman-teman sering
pakai buat sekadar fun sembari menunggu dosen atau mengisi waktu luang,"
ujar William (19), mahasiswa Fakultas Ekonomi Manajemen UPH.

Once Kurniawan, Direktur Akademik Binus, mengatakan, fasilitas hotspot
di sekolahnya diharapkan dapat mendukung kegiatan belajar mahasiswa.
"Akses internet di kampus jadi fleksibel, jadi bisa mendukung konsep
e-learning di kampus ini," tandasnya.

Bagi Sentot Adiprasena (41), konsultan air yang pekerjaannya menuntut
mobilitas, mencari hotspot di Jakarta sebenarnya tidak berbeda dengan
mencari warnet. Wujudnya saja yang beda. Jika sedang dalam perjalanan di
kendaraan dan membutuhkan akses internet, dia akan memanfaatkan
fasilitas General Packet Radio Service (GPRS) atau Code Division
Multiple Access (CDMA) melalui telepon selulernya.

"Sejauh ini, teknologi GPRS atau CDMA lebih mendukung mobilitas. Saya
pikir kecepatannya lama-kelamaan pasti akan menyaingi kecepatan hotspot
dengan teknologi Wi-Fi," ujarnya.

Menurut dia, fenomena hotspot di area publik mungkin sejauh ini baru
sekadar untuk mendukung gaya hidup sebagian orang. Pasalnya, lokasi
hotspot di area publik pun memang baru di sejumlah wilayah tertentu yang
kental dengan suasana leasure.

Dari hotspot yang seperti saat ini, yang muncul adalah
komunitas-komunitas yang mengedepankan gaya hidup serba high-tech.
Sementara itu, kalau memang untuk kebutuhan pekerjaan, teknologi
nirkabel dengan GPRS atau CDMA masih lebih menjadi pilihan karena aspek
mobilitas yang lebih mendukung.

"Bedanya kalau kita ngerjain pekerjaan dalam perjalanan di mobil dengan
GPRS atau CDMA kan lebih private, enggak ada kumpul-kumpulnya, enggak
dilihat orang lain juga, he-he-he," ujar Sentot.

Jika para provider ingin memantapkan produk hotspot- nya, cakupan
hotspot seharusnya diperluas dan tentu saja dengan tarif cukup murah.
"Kalau mahal, orang bisa malas juga, toh hotspot hanya salah satu
pilihan bernirkabel ria," ujarnya. (SF/COK)


-- 
We need books donation for our ICT center, new or used books, magazines 
on information, communication and recent technologies are to be sent to 
Datacom Telecentre, Jl Pucang Anom Timur I/19, Surabaya 60282, INDONE
SIA. All donation accepted will be listed in our website, starting with 
our own collection. CDs are also acceptable mailto:[EMAIL PROTECTED]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IHFolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke