Memahami Persaingan Industri Seluler

Joshua Arief Tanja

ALASAN utama kenaikan harga saham sektor telekomunikasi di 
Indonesia selama lima tahun terakhir adalah pertumbuhan 
yang spektakuler dari industri telekomunikasi seluler. 
Pertumbuhan dalam arti pelanggan, pendapatan, arus kas, 
dan keuntungan. Sementara disebut spektakuler karena 
secara signifikan berada di atas rata-rata pasar.

KARENA pertumbuhannya yang spektakuler, rasio harga 
terhadap laba (price earning ratio/PER) sektor ini 
memiliki premium di atas valuasi pasar. Bahkan, dalam 
beberapa kuartal terakhir ini ada kenaikan PER seiring 
dengan makin tingginya kontribusi bisnis seluler terhadap 
pendapatan PT Telkom maupun PT Indosat.

Namun, akhir-akhir ini, mulai ada investor yang 
bertanya-tanya apakah industri seluler ini telah mendekati 
masa jenuhnya. Ada yang mulai skeptis terhadap potensi 
kenaikan harga saham telekomunikasi. Apalagi bila terlihat 
semakin sengitnya persaingan dalam industri seluler 
tersebut akhir-akhir ini.

Para pelanggan telepon seluler sekarang tentu menyadari 
telah terjadi semacam "perang harga" dan layanan di antara 
operator seluler di Indonesia sepanjang tahun 2004. 
Sebagai contoh, kuartal pertama tahun ini kita mendapat 
kejutan dengan diperkenalkannya voucher perdana denominasi 
Rp 25.000 dengan masa aktif dua bulan. Sekarang, malah 
Anda dapat membeli voucher perdana Rp 13.000, termasuk 
bonus pulsa Rp 20.000.

Pada paruh pertama tahun ini juga, kita pun melihat 
keluarnya "Kartu As" dari Telkomsel, "Kartu Bebas" dari 
ProXL, maupun "IM3 Pulse Shock" dari Mentari Indosat yang 
pada intinya membuat pemakaian pulsa lebih efisien dengan 
biaya yang lebih terjangkau serta banyak fasilitas 
gratisnya. Yang paling membuat gempar pasar adalah "Kartu 
Bebas" ProXL yang membebaskan biaya percakapan dari pukul 
11 malam sampai pukul 5 pagi.

Untuk urusan isi ulang pulsa pun prosesnya semakin mudah 
dan pulsa yang tersedia ada dalam denominasi yang lebih 
rendah pula. Dahulu, untuk membeli pulsa isi ulang, 
biasanya kita pergi ke ATM terdekat. Sekarang, selain 
melalui ATM, sudah ada fasilitas pembelian "lewat udara", 
maksudnya transfer dari pelanggan lain, meskipun 
kadang-kadang transfer pulsanya gagal dan sisa pulsa masih 
tetap terpotong.

Dahulu, tidak semua operator memberlakukan free-roaming, 
sekarang semua sudah memberlakukannya, bahkan bukan cuma 
antarpelanggan satu operator. Hal ini semua tentu 
menguntungkan bagi para konsumen. Kami memperkirakan pola 
persaingan harga dan layanan semacam ini sepertinya akan 
terus berlanjut.

Meski demikian, tetap saja para investor tentu 
bertanya-tanya, apa benar persaingan harga semacam ini 
tidak merupakan suatu bagian awal dari selesainya cerita 
pertumbuhan spektakuler bisnis seluler di Indonesia? Bahwa 
dalam dua belas bulan sampai dua tahun kedepan, apakah 
pertumbuhan pendapatan seluler perusahaan yang tadinya di 
atas 20 persen per tahun akan menjadi normal (10-15 persen 
per tahun)? Apakah ketatnya persaingan ini mencerminkan 
"the beginning of the end". Sebab, kalau hal ini terjadi, 
tentu kita tidak perlu membayar PER yang premium dari 
pasar untuk sektor ini.

Apalagi setelah para investor melihat bahwa pada kuartal 
kedua tahun ini, terdapat penurunan pendapatan bisnis 
seluler Indosat kira-kira sebesar empat persen antara 
kuartal kedua dan kuartal pertama, meskipun jumlah 
pelanggan naik sekitar 10 persen per kuartal. Padahal, 
secara siklikal seharusnya kuartal pertama adalah kuartal 
yang paling lemah dari empat kuartal dalam satu tahun. 
Hanya Telkomsel yang masih mencatat penambahan pendapatan.

Apakah hal ini menunjukkan tanda-tanda awal dari 
berhentinya pertumbuhan pasar industri seluler? Atau 
apakah sebenarnya perilaku operator telah menjadi tidak 
rasional sehingga ada keuntungan yang seharusnya dapat 
dinikmati tetapi telah terbuang percuma?

Seperti halnya siklus bisnis pada industri lain, para 
investor mempertanyakan apakah industri seluler di 
Indonesia ini memang tengah memasuki masa-masa menuju 
kejenuhan yang ditandai dengan persaingan tidak rasional 
di tengah pasar yang bertumbuh lambat, atau malah 
mengerut?

Hal ini bukannya tidak disadari oleh para pelaku pasar. 
Mulai ada kalangan analis yang mengubah sinopsis investasi 
untuk sektor telekomunikasi ini. Mereka menyatakan bahwa 
motor pertumbuhan keuntungan Telkom (dan Indosat) ke depan 
ada pada bisnis "fixed wireless" mereka dan bukan lagi 
pada industri seluler pada umumnya.

Beberapa penjelasan

Meskipun dengan beberapa catatan, kami masih optimistis 
bahwa industri ini masih dalam masa-masa spektakuler 
mereka. Ada benarnya bila disebut alasan penurunan 
pendapatan seluler ini adalah akibat perubahan pangsa 
pasar (market share) di antara para operator di tengah 
pasar yang sebenarnya tumbuh. Dalam hal ini, pada kuartal 
kedua tahun ini, Telkomsel mengambil sebagian pangsa pasar 
Indosat (dan Excelcom).

Meski demikian, kami pun mendapati angka ARPU semua 
operator mengalami erosi sebesar 10-15 persen pada kuartal 
kedua. ARPU adalah angka pendapatan seluler per pelanggan 
atau (average revenue per user). Angka ini berkisar antara 
Rp 80.000 sampai Rp 110.000 di Indonesia. Hal ini adalah 
kebalikan dari tahun 2003 di mana pada setiap kuartal, 
semua operator membukukan pendapatan dan pendapatan per 
pelanggan yang terus naik.

Saya kira penurunan ARPU ini ada kaitan erat dengan 
"perang harga" di atas. Bahkan, kalau diperhatikan, 
banyaknya promosi dan ketatnya kompetisi ini makin gencar 
akhir-akhir ini. Hal ini mengisyaratkan bahwa ARPU seluler 
masih akan terus turun. Namun, "perang harga" ini lebih 
tepat disebut penyesuaian harga. Harga dapat diturunkan 
seiring dengan menurunnya biaya investasi per pelanggan 
serta dimulainya pemasaran kepada calon pelanggan baru 
dengan daya beli yang lebih rendah namun jumlahnya sangat 
banyak.

Potensi besar

Penetrasi pelanggan seluler tahun 2003 adalah sembilan 
persen. Artinya, dari seratus penduduk Indonesia, sembilan 
orang adalah pelanggan seluler. Angka ini hanyalah 
sepertiga angka penetrasi di Filipina yang sebesar 27 
persen, padahal pendapatan per kapita penduduk Indonesia 
dan Filipina hampir sama, sekitar 1.000 dollar Amerika 
Serikat (AS) per tahun.

Pada paruh pertama tahun 2004 ini diperkirakan terjadi 
penambahan penetrasi menjadi sekitar 11,6 persen yang bila 
diekstrapolasi menunjukkan indikasi kemungkinan jumlah 
pelanggan seluler di Indonesia tumbuh dua kali lipat dalam 
empat semester atau dua tahun-lebih cepat setahun 
dibandingkan dengan prediksi kami pada awal tahun ini.

Artinya, kegiatan pemasaran dan tindakan pemasaran para 
pelaku industri seluler jelas berakibat pada makin 
bertumbuhnya pasar industri seluler ini. Lagi pula, ada 
masalah ketepatan waktu (timing) di sini. Penyesuaian 
harga dan promosi berdampak kepada penjualan secara 
segera. Sebut saja sebagai "the first round effect". 
Namun, penambahan jumlah pelanggan yang makin banyak 
akibat dari penyesuaian harga tadi bersifat gradual dan 
bertahap. Sebut saja sebagai "the second round effect".

Semakin tingginya penggunaan layanan pesan singkat (SMS) 
sebagai persentasi dari pendapatan membuat ARPU menurun 
pula. Bila dua atau tiga tahun lalu porsi SMS merupakan 20 
persen dari pendapatan operator, sekarang sekitar 25 
persen. Maraknya penggunaan SMS ini ditengarai turut 
membesarkan pasar industri seluler, tetapi pada waktu yang 
sama menurunkan pendapatan per pelanggan.

Tingkat penetrasi seluler tidak sama antara di Jakarta, di 
Jawa, dan di luar Jawa. Jabotabek merupakan pasar seluler 
yang penetrasinya tertinggi di Indonesia dan boleh 
dikatakan pasar utama semua operator.

Tingkat persaingan sangat tinggi dibandingkan dengan di 
daerah lain. Jadi promosi yang jor-joran akhir-akhir ini 
lebih mencerminkan pola persaingan operator yang masih 
sangat berfokus menggarap pasar yang sebenarnya hampir 
jenuh.

Mudah-mudahan, dari diskusi kecil di atas dapat ditarik 
beberapa catatan mengenai persaingan ketat yang terjadi di 
industri seluler ini. Terlampau dini untuk mengatakan 
momentum pertumbuhan bisnis seluler ini tidak lagi tinggi 
berdasarkan hasil yang kurang menggembirakan pada satu 
kuartal.

Potensi pasar masih besar, masalah perbedaan waktu antara 
aksi menyesuaikan harga dan reaksi penambahan pelanggan, 
daya beli pelanggan baru yang memang lebih rendah dan 
migrasi gaya percakapan dari suara ke SMS.

Meski demikian, jangan pula kita terlalu berpuas diri 
karena tidak ada industri yang mengalami masa pertumbuhan 
yang tinggi terus-menerus. Suatu waktu, pasar industri 
seluler ini tidak akan bertumbuh kembali.

Para investor saham telekomunikasi perlu setiap kali 
mencermati apakah kebijaksanaan penyesuaian harga masih 
berdampak pada naiknya pendapatan operator. Bila tidak, 
berarti skenario "the beginning of the end" memang sedang 
terjadi!

Joshua Arief Tanja Analis Saham
=============================================
Netkuis Instan untuk wilayah Bandung (kode area 022) - SD,SMP,SMA
Berhadiah total puluhan juta rupiah... periode I dimulai 1 April 2004
=============================================


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IHFolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke