Relawan IT di Aceh

Valens Riyadi (30) merupakan tipe relawan "bersih" yang turut membangun
jaringan telekomunikasi di Aceh. Sudah lebih dari dua pekan Valens dan
teman-temannya berusaha membantu berbagai pihak yang memerlukan jaringan
telekomunikasi.

"Waktu bencana terjadi, banyak teman yang tanya tentang informasi seputar
Aceh karena mereka punya keluarga di sana. Sementara informasi dari
televisi pada hari pertama bencana sangat minim, di internet juga sedikit
sekali. Saya langsung menduga, pasti jaringan telekomunikasi di Aceh
lumpuh," kata pria yang bekerja di salah satu internet service provider di
Yogyakarta.

Dia dan beberapa teman mengusulkan kepada Asosiasi Penyelenggara Jasa
Internet Indonesia (APJII) untuk membangun jaringan internet yang rusak di
Aceh. Bukan hanya persetujuan, tetapi bantuan perangkat pun mengalir untuk
tim teknisi yang akan pergi ke Aceh. Mereka menyebutnya Tim IT
(information technology) AirPutih.

Valens sendiri belum pernah ke Aceh, tetapi dia tak gentar. Begitu tiba,
mereka segera mendapat banyak kenalan, sesama relawan dari berbagai
bidang. Tim AirPutih bersama relawan Palang Merah Indonesia (PMI) mendapat
tempat di bekas ruang pamer dan bengkel Toyota di Leungbata, Banda Aceh.
Mereka menempati pojok berukuran 3 x 5 meter untuk tidur dan bekerja.

"Pekerjaan kami di sini mirip dengan di kantor. Kadang kala kami menerima
panggilan dari berbagai pihak yang butuh bantuan untuk men-set-up komputer
mereka," ujar Valens yang sering diminta bantuan pejabat pemerintah yang
bermarkas sementara di Aceh dan membawa sejumlah perangkat komputer atau
laptop.

Menjadi relawan di Aceh bagi Valens adalah pengalaman pertama. Di Aceh,
mereka membangun sejumlah titik akses internet di berbagai tempat,
misalnya di area kantor gubernur-yang biasa disebut pendopo-tempat itu
kini juga menjadi wilayah hotspot (area akses internet nirkabel yang
menggunakan gelombang radio). Siapa pun yang membawa perangkat notebook Wi
Fi (wireless fidelity) dapat segera mengakses internet secara gratis tanpa
harus menjadi pelanggan salah satu provider atau membeli voucher terlebih
dahulu.

Valens dan timnya membangun 10 titik akses internet, termasuk di antaranya
empat area yang ber-hotspot. Tempat-tempat itu kini biasa disebut sebagai
media center. Mereka juga membuat situs bernama www.acehmediacenter.com
yang berisi informasi mengenai kondisi Aceh, dan relatif lengkap.

"Dengan bantuan berbagai pihak, semua informasi di situ kami up date
setiap hari," ucap Valens mewakili rekan-rekannya yang berusia sekitar
20-30 tahun itu. Pada situs tersebut juga ada fitur khusus untuk orang
hilang, lengkap dengan foto-foto mereka. Anggota keluarga yang mencari
kerabatnya yang hilang juga bisa menyampaikan identitas keluarganya yang
hilang lengkap dengan fotonya.

Informasi wilayah-wilayah di Aceh hingga tingkat kecamatan juga tersedia,
begitu pula peta yang lengkap hingga ke tingkat desa. Situs ini juga
menyediakan nomor-nomor kontak berbagai pihak, mulai dari
militer/kepolisian hingga relawan yang mengurusi berbagai hal di Aceh.

Bagaimana Valens bertahan di Aceh selama berminggu-minggu? "Yah, keluarga
memang tadinya merasa berat, tetapi bisa mengerti. Hidup kami di sini
serba cukup kok. Hidup kami dari posko ke posko. Kami enggak khawatir
kekurangan makan, apa pun menunya, kami makan," tutur Valens yang belum
tahu kapan meninggalkan Aceh karena sekarang pun mereka tengah melihat
kemungkinan membangun jaringan di luar Banda Aceh, seperti Meulaboh.




Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke