Teknologi Informasi dalam Penanggulangan Bencana KETIKA bencana gempa dan tsunami terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004, tidak banyak orang tahu apa yang sebetulnya terjadi. Badan Meteorologi dan Geofisika hanya mencatat gempa dengan kekuatan 6,5 pada skala Richter (9 skala Richter menurut US Geology Service). Media massa baru tersadar betapa dahsyat musibah yang terjadi beberapa jam kemudian.
Keterlambatan ini diakibatkan putusnya hampir seluruh infrastruktur telekomunikasi karena adanya kerusakan jaringan dan banyaknya karyawan perusahaan penyedia fasilitas umum tersebut yang hilang. Listrik padam, telepon tidak dapat digunakan. Pers cepat hadir untuk melakukan peliputan, namun terkendala cara pengiriman data, baik teks, gambar, apalagi video. Gambar dan data harus dibawa melalui kurir ke kota terdekat, Medan, dan baru dikirimkan secara digital ke seluruh penjuru dunia. Perlahan, infrastruktur telekomunikasi dipulihkan. Telkom, Indosat, dan Telkomsel berupaya memperbaiki jaringan mereka. Prioritas utamanya adalah sambungan suara, terutama dengan teknologi wireless (GSM/CDMA) yang relatif lebih cepat dapat diselenggarakan dan mampu melayani wilayah yang luas. Bila akses suara bisa cepat diselenggarakan, tidak demikian dengan transmisi data. Suara saja tidaklah cukup untuk menampilkan kondisi Aceh yang sesungguhnya, dibutuhkan transmisi data, utamanya melalui internet. Akses internet melalui saluran telepon kabel (Data Over Voice/DOV) dirasakan lamban karena kapasitasnya sangat terbatas. Sementara akses broadband seperti ADSL atau HDSL jelas tidak tersedia karena hancurnya kabel primer telepon dan adanya keterbatasan jalur (trunk) ke luar Aceh. Bencana Aceh juga membawa hikmah, teknologi internet terbukti mampu menyebarkan data dan informasi secara digital ke seluruh penjuru dunia secara cepat, bahkan real time dalam bentuk multimedia. Penanganan bencana ini merupakan pekerjaan besar. Lebih dari 200 ribu korban dan ratusan ribu pengungsi serta masalah logistik, penyaluran bantuan menjadi hal yang sangat vital. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bantuan dari seluruh dunia hanya tertumpuk di sudut Bandara Halim ataupun Polonia dan juga di Iskandar Muda. Bantuan terus mengalir, namun di lapangan banyak pos pengungsian yang kekurangan. Penggunaan sistem informasi harus diterapkan dalam penanganan bencana ini. Dengan sistem informasi, dapat dilakukan penentuan dan prioritas distribusi bantuan ke daerah yang tepat serta jenisnya, tidak tertumpuk hanya di salah satu pos distribusi. Tempat pengungsian yang dihuni banyak wanita, misalnya, tentu lebih banyak membutuhkan keperluan wanita. Sementara tempat yang banyak menampung bayi tentu akan membutuhkan susu dan makanan bayi. Data yang tersaji bisa menunjukkan prioritas kebutuhan, maka dengan mudah otoritas transportasi baik udara, laut, dan darat menentukan siapa yang harus segera dimobilisasi, apa jenis dan jumlah barang yang harus dikirim menggunakan alat transportasi yang paling sesuai. Pendataan korban dan pengungsi juga harus dilakukan. Banyak orang berusaha datang ke Aceh hanya untuk mencari informasi keselamatan keluarga. Ini menghambat proses pengiriman relawan dan bantuan. Transportasi udara ataupun darat yang sangat terbatas dengan cepat tersaturasi. Ini tidak perlu terjadi apabila arus informasi dari Aceh bisa dipublikasikan luas dengan basis identifikasi yang jelas (nama, jenis kelamin, umur, alamat, status korban), yang ter-update real time. Tentu saja data ini memerlukan analisa dan verifikasi yang bisa dilakukan sejak dari pos terdepan yang terdiri dari para relawan yang langsung bersinggungan dengan masyarakat korban bencana. Data selanjutnya ditabulasi di data center daerah setiap hari untuk ditampilkan secara online di internet dan langsung bisa dikutip oleh media. Hasil tabulasi ini bisa digunakan pula oleh semua instansi terkait untuk menentukan prioritas kontigensi masing-masing sehingga seluruh kekuatan bantuan bekerja secara sinergis, tidak terjadi timpang tindih. Bencana Aceh memang sudah lewat. Namun, kepedihannya masih terus terasa. Proses penanggulangan Aceh masih akan memakan waktu lama. Saatnya komunitas IT tidak hanya duduk dan mendengar setiap berita demi berita, namun juga berbuat untuk menyiapkan sistem yang bisa digunakan. Bukan berharap, namun bencana bisa jadi terjadi lagi. Dan saat itu sebaiknya kita sudah siap. Valens Riyadi & M Salahuddien Anggota Tim Airputih, Relawan IT di Aceh Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
