Investor Asing Ubah Peta Industri Seluler

PETA industri seluler di Tanah Air tampaknya akan bergeser dan berubah.
Selain karena konsolidasi di antara para operator, masuknya Telekom
Malaysia Berhad ke PT Excelcomindo Pratama dan Maxis ke Lippo Telecom juga
akan berpengaruh. Paling tidak, investasi di industri ini akan meningkat
dibandingkan dengan tahun lalu yang 1 miliar dollar AS menjadi 1,3 miliar
dollar AS lebih, atau lebih dari Rp 10 triliun.

INDONESIA memang "rawan diserang" investor luar karena tiga hal penting
dalam pengembangan industri seluler, yaitu dana, teknologi, dan regulasi,
tidak kita miliki. Regulasi yang seharusnya merupakan komponen yang
terkuat di industri domestik tidak kita miliki secara sempurna karena
regulasi yang ada cenderung mengadopsi kepentingan yang kuat.

Telekom Malaysia Berhad (TM) lewat sebuah anak perusahaannya yang khusus
mengurusi investasi internasional menggantikan posisi Verizon dari Amerika
yang punya 23, 1 persen dan Mitsui dari Jepang yang punya 4,2 persen.
Dengan masuknya TM maka PT Excelcomindo Pratama (XL) tinggal dimiliki oleh
Telekomindo (60 persen) dan AIF 12,7 persen selain TM (27,3 persen).

TM membeli 27,3 persen saham XL senilai 314 juta dollar AS. Tengah bulan
lalu, mereka sudah melunasi pembelian sebesar 265,7 juta dollar AS yang
setara dengan 23,1 persen saham.

Masuknya Telekom Malaysia Berhad akan memberi warna baru dalam industri
seluler di Indonesia karena sejak awal mereka menyatakan ingin tampil
sebagai pemegang saham mayoritas di XL. Warna akan lebih menarik, jika
disimak pula bahwa tidak hanya TM yang masuk ke industri seluler kita,
tetapi juga Maxis, operator GSM seluler dengan pangsa pasar terbesar di
Malaysia. Maxis mengambil 51 persen saham Lippo Telecom senilai 100 juta
dollar AS ditambah komitmen investasi sebesar 150 juta dollar AS lagi.

Di Malaysia yang kepadatan telepon selulernya sudah mencapai 63 persen
(Indonesia baru 12 persen), pangsa pasar Maxis mencapai 44 persen, TM 33
persen, dan DiGicom 23 persen. Jika dilihat dari jumlah penduduk,
pelanggan seluler Malaysia baru sekitar 15 juta dan Indonesia akhir tahun
2004 sudah sekitar 30 juta dari 215 juta penduduk.

Dalam percaturan dagang dan industri, Lippo Telecom yang selama ini hanya
mampu berkutat di Jawa Timur (baca: Surabaya dan sekitarnya) sering
dianggap anak bawang. Lippo Telecom merupakan salah satu anggota kelompok
personal communication system (PCS) yang beroperasi di pita frekuensi 1800
MHz dengan alokasi 20 MHz.

Kelompok ini terdiri dari tujuh perusahaan di tujuh regional PT Telkom.
Namun, hanya Lippo di Jatim yang sudah aktif, lainnya belum yang kemudian
sisanya diakuisisi oleh Lippo. Hingga akhir tahun lalu, pelanggan yang
tercatat sekitar 98.000, tetapi yang aktif hanya 12.000-an.

Menarik, bahwa sejak lama Telekom Malaysia ingin masuk ke Indonesia.
Ketika pola KSO (kerja sama operasi) diperkenalkan PT Telkom untuk lima
divisi regionalnya, TM pernah nyaris masuk ke Divisi Regional VI
Kalimantan tetapi mundur. Ketika PT Indosat ditawarkan ke investor, TM
juga ikut, namun kalah oleh STT dari Singapura.

Padahal, STT dan TM pernah melakukan joint forces ketika mereka ingin
mengakuisisi Idea Cellular dari India yang pangsa pasarnya 10 persen. Di
Indonesia, TM akhirnya masuk ke XL yang pangsa pasarnya 15 persen,
sementara STT masuk ke Indosat yang pangsa pasarnya 33 persen.

Persaingan akan makin ketat sebab agresivitas operator akan makin tampak
mulai tahun 2005. Utamanya karena pasar yang memang masih terbuka luas,
dana yang dikucurkan investor dari luar yang seolah "tidak terbatas". Dan,
siapa yang lengah dalam mengantisipasi pasar, dia akan hancur.

Ada hal menarik dengan masuknya Telekom Malaysia ini. Hal pertama adalah,
operator sekaligus investor tetangga masuk, menggantikan investor atau
pemegang saham lain yang dari luar Asia Tenggara. Dengan masuknya TM dan
Maxis, semua operator GSM kini sudah "dikuasai" Malaysia dan Singapura.
Seperti sudah menjadi rahasia umum, sekitar 42 persen saham PT Indosat
kini dimiliki oleh STT Singapura, PT Telkomsel dimiliki 35 persen oleh
Singapore Telecom (SingTel), dan kini PT Excelcomindo Pratama serta Lippo
Telecom.

SingTel sudah cukup berbahagia mendapat 35 persen saham, naik 10 persen
dari ketika mereka membeli saham KPN Belanda sebelumnya. Sementara STT mau
masuk asal sahamnya banyak-mengalahkan saham Pemerintah Indonesia yang
tinggal 13 persen-sehingga membuat PT Indosat berubah menjadi perusahaan
penanaman modal asing (PMA).

TM, dalam berbagai kesempatan, mengungkapkan keinginan mereka untuk
menjadi pemegang saham mayoritas PT Excelcomindo Pratama. Ini berarti 27,3
persen "belum berarti apa-apa" bagi mereka. Walaupun dengan menguasai 27,3
persen mereka sudah memegang posisi direktur utama.

Telekom Malaysia melihat pasar Indonesia masih terbuka lebar karena untuk
215 juta penduduk baru ada pelanggan (nomor) seluler sekitar 30 juta, 4,5
juta di antaranya pelanggan PT Excelcomindo. Ini berarti, jika penetrasi
seluler diharapkan sampai 30 persen saja, atau sekitar 70 juta sampai dua
tahun ke depan, kesempatan bagi mereka untuk menguasai pasar sangat
terbuka.

Excelcomindo Pratama sejak awal dikenal sebagai operator seluler yang
sangat konservatif, sangat tidak terpengaruh oleh jorjoran, tidak juga
masuk ke pasar kelas bawah. Pelanggan operator itu merupakan "orang-orang
terpilih" yang sangat mengutamakan layanan dan kebanyakan merupakan
pelanggan korporasi.

Jangkauannya ke "kelas bawah" hanya tampak ketika mereka membuka fasilitas
bebas jelajah/roaming untuk kartu prabayarnya, yang kemudian ternyata
diikuti oleh semua operator GSM. Di luar itu, layanan kepada pelanggannya
memang boleh disebut prima.

Dengan dukungan Ericsson, mereka menggelar serat optik di kawasan segi
tiga emas di Jakarta sehingga mutu layanan XL hingga kini boleh dikata
yang terbaik. Selain menggelar jaringan serat optik di seluruh Jawa,
Excelcomindo juga menghubungkan pulau-pulau dengan kabel laut selain
prasarana gelombang mikro (microwave). Ini juga yang jadi salah satu
pertimbangan Telekom Malaysia untuk mengakuisisi PT Excelcomindo Pratama
karena operator ini juga potensial menjadi perusahaan penyedia jaringan
(network provider).

Masyarakat banyak tidak terlalu memedulikan mutu layanan sehingga
pertumbuhan pelanggan XL pun tidak secepat operator GSM lain, baik PT
Telkomsel maupun PT Indosat. Apalagi mereka merupakan perusahaan paling
bungsu di GSM seluler yang berpusat di Jakarta karena baru mulai
beroperasi bulan-bulan terakhir tahun 1996.

Namun, setahun terakhir terjadi perubahan pola pemasarannya dan mereka
pun, sama dengan yang dilakukan operator lain, mulai "menggaruk" pasar
kelas bawah. Caranya dengan Kartu Jempol dan Kartu Bebas, kemudian Explor,
yang strateginya jitu, sehingga jumlah pelanggan mereka pun melejit.

Kini, pada awal tahun 2005, pelanggan ProXL, nama dagang mereka, sudah
mencapai 4,5 juta dan pangsa pasarnya sekitar 15 persen. Dengan cara biasa
saja, tanpa TM masuk, tampaknya kalau jumlah pelanggan menjadi 7 juta atau
8 juta pada akhir tahun 2005, bisa saja tercapai.

Tekad TM untuk masuk sebagai pemilik mayoritas akan membuat Excelcomindo
makin agresif. Bisa jadi, mereka malah menargetkan pertumbuhan pelanggan
sampai 15 juta dalam dua tahun ke depan atau pangsa pasarnya naik menjadi
sekitar 20 persen.

Hal yang tidak mustahil. Sebab, dengan perkembangan teknologi dan
banyaknya pilihan vendor, investasi di seluler semakin lama semakin murah.
Juga ke arah GSM generasi ketiga (3G) yang akan diawali di Indonesia tahun
ini meski bukan oleh mereka, melainkan akan diawali PT Telkomsel.

Sementara Lippo Telecom boleh bernapas lega. Sebab, selama ini, meski
mengerahkan dana sampai belasan juta dollar AS, mereka tidak berhasil
tumbuh dengan wajar. Keinginan mereka untuk menasional dalam kadar
pelanggannya dapat masuk ke jaringan GSM lain sama sekali tidak ditanggapi
oleh tiga operator GSM lainnya.

Kini selain mereka sudah memiliki lisensi nasional setelah mengakuisisi
enam lisensi lain, masuknya Maxis membawa pengaruh strategis. Selain
komitmen 150 juta dollar AS untuk investasi, Maxis membuat Lippo menjadi
"bersaudara" dengan Telkomsel, operator GSM dengan pangsa pasar terbesar,
52 persen.

Mau tak mau bagi Telkomsel, sebab keduanya, Telkomsel dan Maxis, tergabung
dalam aliansi strategis regional, Brigde yang dikomandoi oleh Singapore
Telekom (SingTel Mobile). Anggota Bridge haruslah operator dengan pangsa
pasar pertama atau setidaknya kedua di negerinya dan dikomandoi oleh
SingTel Mobile yang menguasai 40 persen pangsa pasar.

Selain SingTel, Telkomsel dan Maxis, bergabung dalam Bridge juga AIS (56
persen pangsa pasar) Thailand, Bharti dari India (19 persen), Globe
Telecom dari Filipina (39 persen), Optus dari Australia (35 persen), TCC
dari Taiwan (31 persen).

Bukan tidak mungkin, masuknya Telekom Malaysia Berhad dan Maxis ke
Indonesia akan meningkatkan pertumbuhan pelanggan seluler yang memang
sudah sangat baik. Di Indonesia, pertumbuhan pelanggan sejak tahun 2000
rata-rata 60 persen, dan tahun ini mungkin tidak sebesar itu, sekitar atau
di bawah 50 persen. Namun, angka absolutnya meningkat tajam dibandingkan
dengan tahun 2004. Jika tumbuh dengan 50 persen saja, berarti akan ada 15
juta pelanggan baru sehingga akhir tahun akan mencapai 45 juta pelanggan.

INVESTOR asing masuk ke Indonesia bisa jadi karena beberapa hal. Paling
tidak, pasar di negeri mereka sudah jenuh, sementara potensi mereka masih
sangat tinggi. Selain itu, ada kecenderungan lain, investor lebih suka
masuk ke operator yang, misalnya, adat istiadatnya sama, bahasanya sama
atau mirip, dan masih cakupan regional. "Setidaknya mereka merasa di rumah
sendiri, hommy," ujar Direktur PT Excelcomindo Pratama Rudiantara belum
lama ini.

Selain itu, menurut catatan Kompas, performansi operator seluler di
Indonesia sangat baik jika dibandingkan dengan operator dunia lainnya.
Pendapatan sebelum dipotong bunga, pajak, penghapusan dan amortisasi (earn
before interest, tax, depreciation and amortization/Ebitda) rata-rata
industri di Indonesia lebih dari 50 persen, sementara dunia sekitar 30
persen.

Tahun ini masih akan menjadi pertanyaan apakah para operator masih akan
aktif dalam meraih pelanggan sebanyak-banyaknya seperti tahun lalu. Jumlah
pelanggan menjadi segalanya walau acapkali jumlah yang dipublikasikan
operator adalah semu sebab sebagian dari mereka sudah tidak aktif sejak
lama.

Ini akibat sistem dalam operasional seluler sendiri yang tetap mencatat
nomor sebagai pelanggan aktif walau pemilik kartu perdana membuangnya
begitu pulsanya habis. Sistem di sentral operator masih mencatat nomor itu
sebagai pelanggan selama tiga bulan, yaitu sebulan masa aktif, sebulan
masa tenggang dan sebulan masa tunggu sebelum dihapus.

Jumlah pelanggan yang banyak otomatis akan menurunkan ARPU atau rata-rata
pendapatan dari tiap pelanggan, yang saat ini berkisar pada angka Rp
90.000-an. Namun, bagi operator, ARPU bukan segalanya, dan yang kini
dihitung adalah rata-rata margin dari tiap pelanggan (average margin per
user/AMPU).

AMPU dihitung dari berapa selisih pendapatan dengan biaya operasi. Makin
besar AMPU yang berarti makin ditekannya biaya operasi, makin baik bagi
operator.

Kini operator harus siap menerima penurunan ARPU yang sebetulnya dapat
diimbangi oleh turunnya biaya modal (capital expenditure/capex) karena
biaya investasi juga menurun. Selain itu, tak ada pilihan bagi operator
selain melakukan efisiensi sehingga AMPU mereka masih bagus.

Kemungkinan operator terjun ke segmen paling bawah masih akan terjadi,
apalagi dengan Ebitda yang bagus, yang masih bisa "diturunkan" lagi hingga
40 persen atau 30 persen dengan risiko pendapatan menurun. Secara
industri, pendapatan operator seluler tahun 2004 sangat bagus, mencapai Rp
25 triliun.

Jika jorjoran terjun ke segmen paling bawah tetap dilakukan sehingga
jumlah pelanggan naik, misalnya, dengan 50 persen, pendapatan tidak akan
naik secara linier. Kualitas pelanggan yang menurun membuat ARPU juga
menurun meski AMPU belum tentu turut menukik karena biaya modal ikut
turun.

Misalnya, harga kartu dari 2,5 dollar AS beberapa waktu lalu kini turun
menjadi di bawah 1 dollar AS. Dibandingkan dengan operator, pemasok kartu
sebenarnya yang dapat untung walau harganya dipaksa turunkan operator.
Dari penambahan pelanggan 12 juta tahun 2004, kartu yang diterbitkan
operator tak kurang dari 23 juta lembar.

Selain itu, makin berkembangnya dan makin disejajarkannya penyedia konten
dan operator, membuat kontribusi bukan suara (nonvoice) operator juga
meningkat. Tahun lalu, kontribusi terhadap pendapatan seluler 30 persen
dari nonvoice, di antaranya 5 persen dari jasa nilai tambah SMS. Tahun ini
akan kontribusi jasa nilai tambah SMS yang banyak diisi oleh penyedia
konten naik dengan 10 persen, juga dari SMS aplikasi, misalnya m-banking,
akses informasi, dan sebagainya.

Bagi masyarakat pelanggan, tak penting berapa Ebitda, berapa nilai
investasi, berapa peningkatan jumlah pelanggan yang dicapai satu operator.
Paling penting adalah naiknya mutu layanan, syukur-syukur jika diimbangi
oleh makin murahnya jasa seluler.

Dan, kesetiaan pelanggan akan terbangun jika mereka juga diberi kemudahan
serta perhatian sehingga tidak dengan enteng pindah ke operator lain,
bahkan ke operator fixed wireless. Hampir semua operator kini lebih suka
memberi iming-iming kepada calon pelanggan dibandingkan dengan memanjakan
pelanggan yang sudah ada. (HW)

-- 
Selamat tahun baru Imlek 2556. Gong Xi Fat Choy!.


Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke