Perizinan frekuensi dapat kemudahan

Wi-Max segera dibangun di NAD

JAKARTA (Bisnis): Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam akan segera memiliki
infrastruktur berbasis teknologi Wi-Max (worldwide interoperability
microwave access) untuk sarana akses komunikasi data berkecepatan tinggi
setelah pemerintah memberikan sinyal positif mengenai izin
implementasinya.
Hal itu terungkap saat Yayasan Air Putih mengadakan pertemuan dengan
Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan A. Djalil akhir pekan lalu.

"Kemungkinan dalam satu minggu ke depan perizinan mengenai frekuensi
Wi-Max akan segera dikeluarkan pemerintah. Kami mengharapkan pemerintah
tidak mempersulit implementasi teknologi tinggi tersebut mengingat hal itu
sangat diperlukan untuk proses pemulihan Aceh," kata Edwardo Rusfi,
Koordinator Yayasan Air Putih, kepada Bisnis belum lama ini.

Pemerintah, lanjut dia, hanya akan membebaskan penggunaan Wi-Max dalam
situasi darurat di Aceh selama satu tahun. Selanjutnya proses perizinan
akan ditinjau kembali. Edwardo melanjutkan Yayasan Air Putih akan
menyerahkan infrastruktur tersebut kepada stake holder di Aceh sehingga
pengurusan perizinan akan dilakukan pihak-pihak terkait tersebut. Stake
holder yang dimaksud adalah pemda bersama masyarakat setempat atau swasta
lokal yang pemilihannya akan dilakukan lebih lanjut.

"Kami tidak memiliki tujuan bisnis dengan diterapkannya teknologi tersebut
di Aceh. Hal ini juga menjadi suatu bukti bahwa teknologi informasi bisa
dipakai untuk mempercepat proses pemulihan daerah bencana."

Selain teknologi Wi-Max, Yayasan Air Putih juga akan membangun jaringan
serat optik yang menghubungkan Meulaboh, Calang, Banda Aceh, dan
Lhokseumawe dan diterminasikan di Medan. Perizinan untuk Wi-Max hanya
melibatkan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) sementara
untuk serat optik membutuhkan perizinan dari sedikitnya 14 instansi
pemerintah seperti TNI, Departemen Lingkungan Hidup, dan Departemen
Kelautan.

Teknologi Wi-Max yang akan dibangun Yayasan Air Putih bersama Intel
Corporation dan Global Marine (GMSL) menggunakan pita frekuensi radio pada
kisaran 5,7 GHz. Baik infrstruktur Wi-Max maupun serat optik hanya akan
menyediakan akses komunikasi data berkecepatan tinggi dan tidak
menyediakan layanan suara (voice).

Infrastruktur kabel serat optik bawah laut berkapasitas delapan Gbps
(STM64) senilai US$30 juta tersebut akan terhubung ke kabel serat
internasional SEA-ME-WE 3 yang melintasi Selat Malaka. Menteri Kominfo
pernah mengatakan konsorsium perusahaan TI dan telekomunikasi dunia itu
sudah menyatakan komitmennya untuk membangun infrastruktur telematika di
Aceh secara gratis.

"Saya pikir jika cetak birunya sudah ada, dalam enam bulan berikutnya
proyek tersebut sudah berjalan sehingga nantinya infrastruktur telematika
di Aceh akan luar biasa," ujar-nya belum lama ini.

Yayasan Airputih adalah sekelompok pelaku dunia TI yang telah membuat
infrastruktur komunikasi data yang bersifat darurat, sehingga orang-orang
yang terlibat dalam penanggulangan bencana seperti pemerintah, LSM,
dokter, dan wartawan dapat menggunakan Internet di Aceh untuk memberikan
informasi yang cepat ke daerah di luar bencana.

Menurut Valens Riyadi, Wakil Koordinator Yayasan Air Putih, selama ini
rencana pembangunan teknologi infromasi tingkat tinggi di Aceh terganjal
oleh berbagai perizinan.

"Padahal teknologi tersebut sangat berguna untuk pemulihan daerah bencana
secara cepat," ujarnya.

Menurut dia, bila pemerintah telah membebaskan perizinan implementasi
Wi-Max dan serat optik maka Aceh akan menjadi satu-satunya provinsi di
Indonesia yang dikitari jaringan kabel pita lebar bawah laut berkecepatan
tinggi. (api)


Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke