Mempertanyakan Arah Kebijakan Industri Elektronika Indonesia

Mudrajad Kuncoro

PEMERINTAH dinilai kurang memprioritaskan pengembangan industri
elektronik dengan tidak memasukkan sektor industri elektronik dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 sebagai cetak
biru arah pembangunan nasional. Hal itu dikhawatirkan berdampak pada
kebijakan pemerintah dalam pemberian insentif dan kemudahan untuk
menarik investasi di sektor tersebut menjadi lemah dan tidak menjadi
prioritas pemerintah.

UNIKNYA, dalam RPJM, industri elektronik dan otomotif dimasukkan
dalam pengembangan industri pertahanan. Pendapat ini dilontarkan
oleh Rachmat Gobel, Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Industri,
Teknologi, dan Kelautan, beberapa waktu lalu (Kompas, 17/3).

Kekhawatiran ini semakin beralasan setelah penulis, bersama Kadin,
anggota DPR, dan pers, mengunjungi pabrik dan berdialog langsung
dengan para pelaku bisnis elektronik. Perusahaan elektronik yang
berorientasi ekspor di negeri ini mayoritas perusahaan multinasional
(MNC) yang berlokasi terutama di kawasan-kawasan industri di
berbagai negara, seperti LG, Samsung, Toshiba, Sanyo, Panasonic, dan
Epson.

Bagi MNC, selalu ada kemungkinan prinsipal menarik seluruh kegiatan
investasi di suatu negara jika iklim usaha tidak mendukung dan
industrinya menjadi tidak kompetitif di pasar lokal maupun pasar
ekspor. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana raksasa elektronik
Jepang, Sony Corp, memutuskan untuk menutup pabrik audionya di
Indonesia, PT Sony Electronics Indonesia (PT SEI). Dampaknya,
terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih kurang 1.100
pekerja. Pertanyaannya, apakah langkah Sony akan diikuti oleh MNC
lain yang memiliki production base di Indonesia?

LG Electronics Indonesia, misalnya, raksasa elektronik Korea Selatan
ini tetap melihat Indonesia sebagai basis produksi yang utama
setelah China. LG mencanangkan visi mencapai tiga besar dunia dalam
industri elektronik/telekomunikasi pada tahun 2010. Alasannya,
selain tenaga kerja Indonesia dinilai relatif kompetitif, juga
potensi pasarnya dominan masih luas. Buktinya, produsen TV (LCD dan
plasma), monitor, pemutar video (VCR), pemutar video digital (DVD),
audio, dan kulkas ini menyerap lebih dari 4.500 pekerja. Dengan
berorientasi ekspor, LG tetap tumbuh rata-rata 30 persen per tahun
dan tahan gempuran krisis ekonomi. Manajemen LG pusat di Korea
Selatan telah menentukan Indonesia menjadi basis untuk produksi
kulkas di bawah 300 liter satu pintu maupun dua pintu. Bahkan tahun
lalu perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) asal Korea Selatan ini
mencatat rekor penjualan 1 miliar dollar AS.

Hal senada diungkapkan oleh Epson, produsen berbagai macam printer
kelas dunia. Dengan bendera PT Indonesia Epson Industri, perusahaan
Jepang yang berlokasi di kawasan industri East Jakarta Industrial
Park (EJIP) ini mencatat omzet sebesar 924 juta dollar AS. Hebatnya,
Epson menyumbang 12 persen ekspor industri elektronika Indonesia,
menyerap tenaga kerja lebih dari 8.400 orang, dan mengirim
setidaknya 1.500 peti kemas per bulan.

Toshiba, produsen TV baik CTV maupun LCDTV dengan ukuran 14 hingga
34 inci, tetap memilih berlokasi di EJIP. Bahkan, perusahaan
patungan Jepang dan Singapura ini diam-diam memindahkan pabriknya
dari Thailand dan Malaysia ke Indonesia, yaitu pada tahun 2001 dan
2004. Alasan utama relokasi industri dari dua negara tetangga ini
adalah pertimbangan efisiensi biaya, tipisnya return on sales (ROS),
dan obsesi ingin menjadi produsen TV terbesar di Asia Tenggara.
Dengan menyerap 1.713 pekerja, sumber bahan baku lokal pun meningkat
dari 34,5 persen tahun 2003 menjadi 40,5 persen tahun 2004.

Panasonic, yang bergandengan dengan Gobel, memfokuskan pada industri
komponen elektronik. Perusahaan patungan Jepang-Indonesia ini
memproduksi beragam komponen dari speaker, komponen keramik, produk
induktif (transformers, choke coil, line filter).

Selain itu juga paper cone, piezoelectric ceramic element, litz
wire, block core, dan berbagai suku cadang elektronik untuk telepon
genggam, audio, dan TV. Tidak heran Panasonic dikenal sebagai
industri pendukung yang penting bagi industri elektronik rumah
tangga dan personal digital.

PANASONIC, Toshiba, Epson, dan LG adalah contoh gambaran perusahaan
elektronik yang berlokasi di Jabotabek. Selain Jabotabek, Tabel 1
memperlihatkan Batam merupakan kluster industri elektronik terkemuka
di Indonesia. Kedua daerah ini menyumbang lebih dari 50 persen
tenaga kerja, output, ekspor, dan jumlah perusahaan industri
elektronik Indonesia.

Batam memiliki keunggulan tersendiri, seperti lengkapnya
infrastruktur yang tersedia di pulau tersebut dan memiliki
locational advantage karena kedekatan secara geografis dengan
Singapura. Pada tahun 2001 Batam menyerap tenaga kerja sebesar
61,839 pekerja atau 30,9 persen dari total pekerja industri
elektronik di Indonesia. Output yang dihasilkan sebesar Rp 20
triliun dengan ekspor senilai hampir Rp 3 triliun atau 30 persen
dari total ekspor elektronik Indonesia. Di samping itu, hampir 20
persen perusahaan industri elektronik terdapat di Batam.

Peta 1 memperlihatkan bahwa industri elektronika yang berada di
kabupaten/kota di Jawa dan Sumatera berada atau berdekatan dengan
empat kota besar, yaitu: (1) Jakarta dan daerah sekitarnya (Bogor di
selatan, Tangerang-Serang di barat, dan Bekasi di timur), (2)
Surabaya dan daerah sekitar (Sidoarjo), (3) Bandung, (4) Medan
(Kabupaten Medan dan Deli Serdang).

Oleh sebab itu, industri elektronika Indonesia sebenarnya merupakan
salah satu industri strategis meski tidak disinggung dalam RPJMN.
Ini terlihat dari pertumbuhan ekspor rata-rata industri, meskipun
industri elektronika berada dalam posisi ketiga dari nilai ekspor di
sektor industri, tetapi pertumbuhannya jauh melampaui semua sektor
lainnya.

Dalam peta nilai ekspor nonmigas menurut kelompok barang, industri
elektronika selalu berada pada posisi ketiga dalam enam besar ekspor
hasil industri, setelah tekstil dan kayu. Kendati demikian,
pertumbuhannya jauh melampaui pertumbuhan sektor industri lainnya.
Selain itu industri ini juga mempunyai potensi yang besar untuk
terus berkembang di masa mendatang karena adanya tiga alasan.

Pertama, merupakan sarana bagi terlaksananya pengembangan
telekomunikasi dan digital. Kedua, teknologi elektronika sangat
vital dan strategis bagi kelangsungan hidup bangsa di masa depan.
Ketiga, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Beberapa negara-negara di Asia yang telah memfokuskan pengembangan
industri elektronikanya pada sektor industri yang pertumbuhannya
tinggi sejak tahun 1996, Filipina 80 persen ekspor elektronikanya
didominasi oleh semikonduktor. Taiwan dan Hongkong sangat kuat pada
industri komponen dengan persentase 35 persen dan 33 persen.

Thailand dan Malaysia kuat pada industri IT dan mesin peralatan
kantor dengan persentase 36 persen dan 23 persen. Dari total ekspor
elektronika Indonesia, 5 persen merupakan ekspor semikonduktor,
industri komponen sebesar 24,5 persen, dan yang terbesar adalah
ekspor elektronik konsumsi sebesar 53 persen.

BERBAGAI survei dan hasil wawancara menunjukkan, setidaknya ada
beberapa permasalahan mendasar dalam industri elektronik Indonesia.
Pertama, industri elektronika Indonesia sangat bertumpu pada
industri elektronika konsumtif rumah tangga. Peran serta industri
elektronik Indonesia banyak mengarah kepada industri elektronika
konsumsi. Sektor industri ini nilai pasar ekspornya kecil dan
tingkat pertumbuhannya rendah.

Pangsa pasar terbesar dari ekspor elektronika Indonesia adalah
produk sound system, TV, recorder, kipas angin, setrika, pompa air,
serta radio, yang semuanya adalah elektronika rumah tangga yang
dikonsumsi masyarakat sederhana, yang 33 juta keluarga. Untuk segmen
elektronika rumah tangga berpenghasilan menengah tinggi, dengan 23
juta keluarga, penggunaan produk elektronik seperti kulkas, mesin
cuci, AC, LCD TV, kamera digital, komputer mulai naik.

Kedua, tingginya ketergantungan terhadap barang impor. Kendati
bervariasi, kebanyakan perusahaan elektronik Indonesia memiliki
kandungan impor di atas 60 persen. Tingginya kandungan impor ini
menunjukkan bahwa keterkaitan industri ini dengan industri
pendukungnya masih lemah.

Ketiga, memburuknya infrastruktur jalan. Jalan tol dan jalan raya
menuju dan ke kawasan industri selalu macet, apalagi di puncak jam
sibuk. Para pelaku bisnis di kawasan industri Jabotabek mengusulkan
adanya jalur khusus bagi peti kemas agar arus dan distribusi barang
semakin cepat ke pelabuhan.

Keempat, pelayanan pelabuhan ditambah dengan pungutan resmi maupun
tidak resmi dari berbagai instansi pemerintah yang dirasakan kian
mencekik leher. Tingginya tarif biaya bongkar muat di pelabuhan
(THC-Terminal Handling Charge) dan Penerimaan Negara Bukan Pajak
(PNBP) per dokumen yang dikeluhkan oleh semua pelaku bisnis industri
yang berorientasi ekspor.

Kelima, praktik penyelundupan dan underinvoicing (manipulasi harga
pada dokumen impor) untuk komponen atau bahan baku itu diakui masih
terjadi. Sebagai contoh, komponen elektronik (semi knock down/SKD),
seperti monitor, sasis (bagian mesin) dan kabinet diimpor secara
terpisah dengan memanipulasi harga barang. Dengan demikian,
pembayaran Bea Masuk (BM), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak
Penghasilan (PPh 22) menjadi lebih murah.

Keenam, tersendat-sendatnya proses alih teknologi. Di sisi
prinsipal, mereka mengeluh kekurangan insinyur Indonesia, desainer
molding, serta tenaga terampil yang menguasai manajemen manufaktur.
Di pihak Indonesia yang dirasakan adalah lambatnya proses alih
teknologi karena tiadanya insentif dari pemerintah.

Dalam konteks inilah perlu diperhatikan mendesaknya dilakukan
reorientasi strategi sebagaimana usulan Kadin dan Gabel tentang Visi
2010 bagi industri ini. Industri komponen dan pendukung elektronik
merupakan titik lemah dalam industri ini dan perlu ditingkatkan di
masa mendatang. Inilah yang disarankan oleh Kadin dan Gabel dalam
Visi 2010-nya dalam strategi yang harusnya dimasukkan oleh
pemerintah dalam RPJM (lihat skema).

Menurut saya, strategi ini perlu dikombinasikan dengan strategi
berbasis kluster yang berteknologi tinggi (high tech cluster). Kasus
industri chip komputer di Silicon Valley, AS, menunjukkan terjadinya
diseminasi ide-ide baru dan inovasi secara cepat di antara
perusahaan yang berdekatan melalui tiruan, pengamatan, dan gerakan
tenaga kerja yang amat terampil antarperusahaan.

Michael Porter, mahaguru dari Harvard University, membuat argumen
yang serupa, pertumbuhan industri terutama didorong oleh transfer
pengetahuan pada industri yang berspesialisasi pada produk tertentu
dan terkonsentrasi secara spesial.

Kalau AS punya kompleks ruang angkasa di Los Angeles dan Silicon
Valley untuk kluster modern berteknologi tinggi, St Etienne memiliki
industri pita mesin tik dan baja, Jerman memiliki peralatan
pertukangan, gunting, dan baja khusus di Solingen, Remscheid, dan
Sheffield, mengapa kita tidak?

Mudrajad Kuncoro Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada

---
If you need an office in Surabaya you don't have to invest on
furnitures, ac etc. Contact: Office Center, Jl Pucang Anom Timur
I/19, Surabaya 60282, Tel. 031 5013570, email: [EMAIL PROTECTED]


Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke