Belajar Berubah dari Tjokorda dan Cacuk DI tengah carut-marutnya bangsa ini, kita sebenarnya tengah menanti orang yang membawa perubahan. Rakyat di mana-mana menginginkan perubahan, tapi selalu buntu! Kapan kita bisa berubah?
Mengharap perubahan yang besar dan tiba-tiba sepertinya sulit karena perubahan itu berawal dari langkah kecil. Tjokorda dan Cacuk memberi contoh. Orang kini mudah mengenal daerah yang semula hanya desa kecil dan berhutan lebat, telah menjadi jendela wisata dunia. Desa Ubud kini menjadi "desa seni" dunia. Demikian juga di Perumtel. Dulu mendengar nama Perumtel yang terbayang adalah sebuah keruwetan dan pekerja yang tidak bersahabat. Namun, karena sentuhan si pembuat perubahan, PT Telkom menjadi perusahaan yang lebih efisien. PERUBAHAN di Ubud tidak lepas dari nama almarhum Raja Ubud Tjokorda Gde Agung Sukawati (1910-1978). Perubahan di PT Telkom tidak lepas dari nama almarhum Cacuk Sudarijanto, mantan Direktur Utama PT Telkom (1988-1992). Semasa hidupnya Tjokorda memberikan perhatian kepada kesenian. Di benaknya, rakyat tidak bisa hidup kalau hanya berpikir apa adanya. Dia pun mencari akal agar warganya mengenal karya seni yang lebih indah dan bernilai tinggi. Caranya tidak muluk-muluk! Setiap kali ada pelukis hebat dunia yang datang ke Indonesia, Tjokorda selalu mengajaknya ke Ubud. Ia memburu pelukis-pelukis terkenal, dan salah satunya Walter Spies. Walter dijemput di pelabuhan, bahkan diberi rumah di Ubud. Imbal baliknya, Walter diminta mengajarkan melukis kepada anak-anak Ubud. Sejak saat itu yang datang bukan hanya Walter, tapi juga Rudolf Bonnet, Arie Schimdt, dan Hanz Snell yang memengaruhi cara melukis anak- anak di desa itu. Satu nama pelukis yang tak boleh dilupakan adalah Antonio Blanco yang akhirnya jatuh cinta dengan gadis Bali dan menetap hingga meninggal di sana. NAMA almarhum Cacuk Sudarijanto dikenang karena sukses mengubah kondisi Perumtel yang kemudian berubah nama menjadi PT Telkom. Saat masuk ke Perumtel pada tahun 1988, Cacuk menghadapi klaim dari konsumen yang selalu muncul di media massa. Pada masa itu jumlah satuan sambungan hanya 900.000, sedangkan jumlah karyawan 46.000 orang. Jadi satu orang karyawan hanya melayani 20 satuan sambungan. Di situ Cacuk menemukan sejumlah masalah fundamental, yakni masalah finansial. Selama 22 tahun berjalan laporan keuangan Perumtel tidak pernah mendapat status "berkualifikasi". Kedua, di dalam laporan keuangan banyak ditemukan keanehan dan selalu dilaporkan terlambat. Saat Cacuk masuk, dirinya baru menerima laporan keuangan tahun 1985. Ketiga, masalah sumber daya manusia di perusahaan itu, yakni dari ribuan karyawan tidak ada satu pun yang berpendidikan strata dua, hanya satu orang berstrata tiga. Strata satu sebanyak 750 orang, dan selebihnya hanya tamatan SLTA ke bawah. Strukturnya bukan piramidal, tetapi gendut di tengah mirip bawang bombai. Apa yang dilakukan Cacuk? Pertama, memperbaiki sistem akuntansi yang lebih otonom di masing-masing wilayah. Ia juga menginvestasikan teknologi informasi untuk mendukung basis data. Dalam tempo tiga tahun, sebanyak 40 wilayah telah memiliki sistem akuntansi sendiri dan PT Telkom meraih predikat wajar tanpa syarat dari auditor pemerintah. Perubahan sumber daya manusia dilakukan dengan memberi kesempatan kepada karyawan terbaik melanjutkan pendidikan di dalam maupun di luar negeri. Hasilnya, struktur pendidikan karyawan berubah dari bawang bombai menjadi piramidal. Untuk memotivasi karyawan, Cacuk menaikkan gaji hingga 300 persen. Suatu jumlah yang tidak mungkin terjadi pada masa sebelumnya. Bonus diberikan kepada karyawan yang telah memberikan pelayanan terbaik. Untuk memberi kesan yang lebih dinamis, logo perusahaan diubah. Dalam tempo kepemimpinannya dari 1998-1992, PT Telkom telah memiliki 3,5 juta satuan sambungan dengan kualitas pelayanan yang lebih baik. Cacuk telah meletakkan tonggak perubahan di perusahaan itu. Sulit membicarakan perubahan di PT Telkom tanpa menyebut nama Cacuk. ALMARHUM Tjokorda dan Cacuk menjadi teladan "kecil" di tengah keinginan bangsa ini untuk berubah. Kedua orang ini layak mendapat Anugerah Pembuat Perubahan (APP) dari komunitas yang bernama Change Makers Society dan Program Studi Ilmu Manajemen Pascasarjana Universitas Indonesia, Kamis (21/4). Pakar manajemen yang juga Ketua Tim Evaluasi APP Rhenald Kasali mengatakan, di tengah keinginan bangsa ini untuk berubah, sebenarnya banyak teladan-teladan kecil di berbagai tempat di Tanah Air yang telah membuat perubahan. Mereka itu mungkin masih tersembunyi, tidak terkenal, diabaikan, dan lain-lain. Suatu saat mereka sangat mungkin membuat perubahan besar bagi bangsa ini. Bukankah perubahan besar selalu berawal dari perubahan kecil, seperti tetes air yang bisa memecah batu? (ANDREAS MARYOTO) --- If you need an office in Surabaya you don't have to invest on furnitures, ac etc. Contact: Office Center, Jl Pucang Anom Timur I/19, Surabaya 60282, Tel. 031 5013570, email: [EMAIL PROTECTED] Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
