Bundel yang Menuai Friksi PERSOALAN larinya telepon seluler yang dijual secara bundling oleh sebuah operator ke operator lain rupanya masih menjadi masalah dalam persaingan antaroperator telepon seluler. Persaingan ini sudah masuk ke wilayah hukum, sekalipun tampaknya juga belum ada ketegasan dalam penindakannya.
Hal ini menjadi pelajaran yang sangat berarti dalam penegakan hukum di Indonesia. Terutama bagaimana melindungi hak-hak mereka dalam berbisnis. Sekalipun yang muncul sekarang baru taraf adu argumentasi hukum menyangkut "pembobolan" kunci (unlocking) sebuah perangkat yang dijual secara bundel dan pengisian (injeksi) kembali dengan identitas baru oleh operator lain. Seperti ponsel yang dijual dengan bantuan subsidi dari operator Mobile-8 dalam program FrenSip menjadi kajian yang sangat menarik, sampai di mana hukum bisa melindungi. Pihak Mobile-8 sepertinya hanya bisa menggerutu atas larinya ponsel yang didanai dan diprogram untuk nomor Fren itu. Secara hukum mungkin orang yang membongkar kunci sebuah telepon seluler yang dijual secara paket bersalah. Namun, mereka yang menginjeksi handset yang kosong dan sesuai frekuensi kerjanya masih perlu diperdebatkan. Hal inilah yang membuat layanan membuka handset masih saja ada karena tidak semua handset dijual secara bundel. Sebut saja di pusat penjualan handphone di Roxy, Jakarta, layanan seperti itu masih ada, tetapi khusus untuk ponsel FrenSip tidak terang-terangan lagi. Sekalipun setiap orang yang mendengar atau mengetahui ada ponsel 388 itu sudah diisi nomor dari operator lain, mereka menanggapi dengan tersenyum atau tertawa kecil. Memang tidak lucu, tetapi sepertinya mereka melihat ada upaya ganjil yang sebenarnya mereka juga tahu hal ini. Tentu hal seperti ini memang telah membuat geram pihak operator Mobile-8, tetapi mereka mencoba mengatasi dengan langkah pertama melakukan edukasi kepada masyarakat untuk tidak membeli produk yang ilegal. Sementara langkah hukum secara diam-diam berjalan di belakang mengikuti langkah edukasi. "Sangat disayangkan perbuatan melanggar hukum dan etika berbisnis secara sehat dan adil ini dibenarkan beberapa pihak. Apabila hal ini berlanjut tentu akan merupakan suatu preseden buruk bagi pertumbuhan teledensitas telekomunikasi dan persaingan di Indonesia," kata Zen Smith, Director & Chief Organization Development PT Mobile-8 Telecom, belum lama ini di Jakarta. Melihat kondisi masyarakat, tampaknya Zen juga tidak ingin bertindak gegabah, tetapi tetap berusaha menunjukkan aksinya. Program FrenSip akan berlanjut apabila persoalan ini sudah bisa diselesaikan. Selain itu, Zen juga meminta jaminan dari pihak vendor bahwa produknya tidak bisa dibajak atau dibuka kuncinya oleh pihak lain yang tidak berwenang. Dampak negatif dari kejadian ini dikatakan bukan hanya dari pihak Mobile-8 dan vendornya, tetapi juga pemerintah tidak menerima pajak impor handphone dari Mobile-8 dan konsumen menengah ke bawah tidak lagi mendapatkan handphone murah yang berkualitas. PIHAK Mobile-8 dalam percakapan dengan Kompas belum lama ini memang tidak menuding pihak manajemen operator tertentu sebagai pelakunya. Karena selama ini Zen merasa pihaknya dengan kalangan atas para operator sudah saling memegang etika bisnis. Hal ini kemungkinan bisa terjadi di tingkat pelaksana di bawah, di mana mereka ditargetkan untuk menarik pelanggan baru sebanyak mungkin. Dan, target-target penjualan semacam ini yang menurut Zen memungkinkan terjadinya pembongkaran dan pengisian dengan nomor operator lain. "Yang pasti kami tidak pernah melakukan unlocking pada produk handset mana pun," kata A Noorman Iljas, Corporate Communications PT Bakrie Telecom, selaku pihak yang merasa mendapat tudingan selama ini. Secara pribadi bahkan Noorman salut dengan upaya Mobile-8 yang sudah mulai merintis ke teknologi CDMA200 1xEV-DO (data only). Tentu tidak melanggar hukum apabila Esia menerapkan tarif murah, seperti yang disebutkan untuk biaya percakapan dan SMS antar-Esia rata-rata hanya Rp 50 per menit. Produk PT Bakrie Telecom bisa murah karena izinnya hanya lokal, yaitu mencakup kawasan Jawa barat, DKI Jakarta, dan Banten. Karena itu, tidak mengherankan apabila banyak ponsel bundel bajakan yang dilarikan ke operator ini. Untuk harga termurah sebuah ponsel baru saat ini adalah ponsel FrenSip, yaitu Rp 388.000 yang banyak disambut dengan sangat antusias pelanggan menengah ke bawah. Bahkan pada beberapa bulan pertama pasokan ponsel tipis ini sempat habis dan harga menjadi menguat di pasaran melebihi harga sebenarnya. Menurut Zen, pada dasarnya para pelanggan telepon seluler tidak mau tahu tentang teknologi atau kecepatannya. Yang penting mudah digunakan, harganya murah, dan sedikit membayar pulsanya, baik yang prabayar maupun pascabayar. Ponsel Samsung SCH N356 dinilai memenuhi tuntutan saat ini, selain dengan mudah diterapkan untuk SMS dan telepon biasa, juga suaranya sudah poliponik. Hanya memang untuk kebutuhan lanjut seperti warna dan kamera tidak tersedia dalam ponsel yang sangat murah itu. Maka, tidaklah heran apabila pertumbuhannya sejak Oktober lalu dikatakan Zen sangat eksponensial sekali, sampai produksi handset oleh pihak vendor tidak bisa mengejar. Sampai kemudian muncul isu pembongkaran kunci pada ponsel itu sehingga bisa diisi identitas dari operator lain. Penjualan secara bundel atau paket sebenarnya sudah bukan barang baru lagi, terutama di luar negeri. Di Indonesia mulai marak ketika operator CDMA mulai beroperasi, kebanyakan melakukan hal ini untuk merebut pelanggan sebanyak-banyaknya. Sementara, pelanggan baru juga diuntungkan dengan mendapat handset relatif bagus dengan harga yang lebih murah. Telkom dengan produk Flexy yang melakukan penetrasi CDMA dari kawasan Jawa Timur mencoba menarik perhatian calon pelanggan dengan menggandeng Sanex maupun produk handset CDMA Nokia. Cara ini merupakan hal yang sangat ampuh untuk masyarakat yang belum terjangkau, bahkan sebelumnya belum pernah memiliki telepon sama sekali. Hal ini bersaing ketat dengan handset bebas yang dijual tanpa bundel berharga murah, seperti beberapa versi yang ditawarkan Motorola, Sony Ericsson, Siemens, termasuk produk-produk lain yang tidak memiliki nama. Upaya persaingan mulai dengan memberikan tarif termurah, bahkan sampai memberi bonus pulsa bagi yang menelepon ke nomor operator CDMA (seperti Esia). Dan yang memang paling banyak dilakukan adalah menjual dengan cara membundel ponsel sekaligus injeksi nomor prabayar. (AWE) --- Ruang Kantor siap pakai di Surabaya, fasilitas lengkap, meja, ac. Hubungi: 031 5013570. Visit http://www.warnet2000.net/kantor.htm Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
