Mencermati carut marut lisensi seluler 3G

Dalam deklarasi uji coba layanan seluler generasi ketiga
Telkomsel dua pekan lalu, mantan Direktur Jenderal Pos dan
Telekomunikasi Djamhari Sirat mengungkapkan alasan mengapa dua
tahun lalu lisensi frekuensi pita lebar hanya diberikan untuk
operator baru. Baginya, langkah itu justru membuat operator
seluler lama seperti Indosat, Telkomsel, dan Excelcomindo
berkonsentrasi mengembangkan pelanggan.

"Coba kalau existing operator saat itu juga diberi [lisensi
3G]. Maka belum tentu Telkomsel di ulang tahun kesepuluhnya
telah memiliki 20 juta pelanggan," kata Djamhari yang
jabatannya berakhir pekan lalu.

Pernyataan Djamhari ini mungkin merupakan salah satu cara agar
publik memaklumi berbagai kebijakan yang diambil saat dirinya
menjabat. Namun pada kenyataannya keputusan-keputusan ini
menyisakan berbagai persoalan dan pertanyaan. Salah satunya,
hingga kini belum satu pun pemegang lisensi 3G yang memberikan
layanan komersial.

Pemerintah telah memberikan izin secara gratis dengan harapan
memperoleh pendapatan secara bertahap seiring berkembangnya
operator 3G. Izin layanan 3G pertama diberikan kepada PT Cyber
Access Communication (CAC) pada 2003 setelah menyisihkan
sebelas peserta lainnya dalam sebuah beauty contest.

CAC yang pada Februari lalu 60% sahamnya diambil alih oleh
Hutchinson mendapatkan alokasi pita lebar 15 Mhz. Alokasi
frekuensi yang diterima CAC merupakan yang terbesar
dibandingkan dengan operator lain.

Berdasarkan catatan Bisnis, lisensi untuk 3G melalui beauty
contest ini bisa jadi merupakan yang pertama sekaligus yang
terakhir dalam sejarah industri telekomunikasi di Tanah Air.
Hal ini karena pemerintah segera membuat kejutan pada kuartal
pertama 2004 dengan memberikan lisensi kepada Lippo Telecom
dengan pita lebar 10 Mhz.

Izin kontroversial ini segera mendapatkan reaksi dari seluruh
pelaku industri. Umumnya mereka mempertanyakan dasar pemberian
lisensi itu. Mastel yang mencoba mencari jawab mendapatkan
keterangan dari Djamhari bahwa izin diberikan guna
menyelamatkan Lippotel dari kebangkrutan.

Ironisnya alasan menyelamatkan perusahaan dari pailit ini
dijawab oleh para pemegang saham Lippotel dengan melepas
sebagian kepemilikan kepada Maxis awal tahun ini. Timbul
dugaan, lisensi justru dimanfaatkan oleh pemilik lama Lippotel
untuk menaikkan nilai jual perusahaan sebelum dilepas kepada
pihak lain.

Sementara pada periode 1999-2003 izin untuk menyelenggarakan
layanan telekomunikasi pada spektrum frekuensi layanan generasi
ketiga (1.900 Mhz-2.100 Mhz) juga meluncur. Lisensi tersebut
diantaranya untuk PT Wireless Indonesia, Indosat Starone,
Telkom Flexi, dan Primasel masing-masing dengan pita lebar 5
Mhz.

Izin untuk layanan seluler CDMA-EVDO maupun CDMA-1X inilah yang
belakangan menimbulkan tumpang tindih dengan pita frekuensi
yang hendak digunakan untuk layanan generasi ketiga Wideband
CDMA. Hal ini karena baik 3G dengan teknologi Wideband CDMA dan
CDMA menggunakan frekuensi yang saling berkomplementer.

Layanan generasi ketiga Wideband CDMA dalam spektrum frekuensi
di Indonesia bekerja pada pita 1.920 Mhz hingga 1.980 Mhz.
Sementara CDMA1X bisa beroperasi pada pita 1.930 Mhz hingga
1.990 Mhz. Standar ITU mensyaratkan 3G hanya bisa bekerja pada
spektrum yang terbatas yakni 60 Mhz.

Operator-oprator yang beruntung dengan lisensi dikantong
tersebut belum satupun yang merilis layanan 3G komersial saat
negara di Eropa, Amerika dan bahkan di Asia memulainya sejak
beberapa tahun lalu.

Sebaliknya, operator existing seperti Telkomsel, Indosat, dan
Excelcom telah begitu bernafsu untuk menjajal layanan
komunikasi berkecapatan tinggi tersebut. Tanpa lisensi
permanen, Telkomsel malah telah melakukan uji coba karena
pemerintah tak keberatan dengan 'alokasi frekuensi uji coba'
selebar 5 Megahertz.

Alokasi frekuensi yang amburadul ini tentu saja menimbulkan
keprihatinan tersendiri. Langkah Ditjen Postel sering dianggap
diskriminatif oleh karena lisensi yang keluar tidak melalui
cara-cara yang konsisten. Beberapa operator sempat mengeluh,
lisensi bukanlah soal teknis telekomunikasi seluler operator
melainkan urusan politis dan lobi.

Menyadari situasi yang carut marut ini, pascaberalihnya Ditjen
Postel di bawah Departemen Komunikasi dan Informatika,
pemerintah berniat menata ulang alokasi frekuesni. Caranya,
segera dilakukan pembersihan frekuensi sekaligus tender ulang
frekuensi yang telah telanjur dibagi.

Namun, nuansa diskriminatif tetap saja tersirat karena izin
untuk layanan CDMA Telkom Flexi terkecuali dalam langkah
revolusioner ini. Alasannya, layanan milik BUMN tersebut sudah
telanjur memiliki banyak pelanggan.

Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil dalam diskusi
yang diselenggarakan koran ini mengatakan bakal menarik alokasi
frekuensi yang sudah diberikan kepada CAC, LippoTel, Win,
Primasel, dan Starone. Selanjutnya frekuensi tersebut akan
kembali ditender ulang.

Sofyan mengakui, izin frekuensi 3G yang ada sekarang dilakukan
secara tidak transparan dan amburadul. Pada perkembangan lebih
lanjut, Sang Menteri menyatakan tender ulang dilakukan setelah
Tim Audit Penetapan Alokasi Frekuensi 3G yang dibentuk 18 Maret
2005 menyelesaikan tugasnya.

Langkah revolusioner ini sempat dikhawatirkan bakal mendapatkan
resistensi dari operator pemegang lisensi. Bukan tidak mungkin,
para operator yang tidak puas ini bakal memejahijaukan
pemerintah karena dianggap tidak menjamin kepastian hukum iklim
investasi yang kondusif.

Tataran praktis

Ribut-ribut di level regulasi, belum tentu demikian dengan yang
terjadi di tataran praktis layanan generasi ketiga. Banyak
operator di negara di Eropa dan beberapa di Asia Tenggara yang
telah beberapa tahun merilis secara komersial layanan ini
ternyata belum juga menemukan sambutan yang berarti dari para
pelanggannya.

Sebagaimana diakui oleh Ron Garrigues, President Motorola's
Mobile Devices, dalam sebuah wawancara dengan Reuters, operator
telekomunikasi di seluruh dunia telah menginvestasikan miliaran
dolar untuk menambah layan-an telepon seperti musik dan
Internet.

"Namun hingga ponsel jadi lebih ringan dan mu-dah dipakai,
mereka [layanan 3G] tidak juga populer."

Di Asia Pasifik-kecuali Jepang- adopsi terhadap layanan 3G juga
tidak terlalu menggemberikan. Buktinya, hingga akhir 2004
pelanggannya baru mencapai 10,5 juta. Namun riset International
Data Corporation (IDC) masih sangat optimistis dengan layanan
seperti video call dan video streaming ini. Ke depan pelanggan
layanan 3G di Asia Pasifik menjadi 142,6 juta pada 2009 dengan
pertumbuhan rata-rata 68,5% per tahun.

Kalangan praktisi juga memperkirakan tingkat adopsi pelanggan
Indonesia terhadap layanan seluler generasi ketiga diperkirakan
berlangsung lambat mengingat kemajuan teknologi sebelumnya juga
mengalami hal serupa. Perlunya pembangunan jaringan baru juga
diyakini menjadi salah satu penghalang.

Telkomsel bekerja sama dengan vendor kenamaan seperti Nokia,
Ericsson, dan Siemens melakukan uji coba layanan di jalur padat
komunikasi Jakarta dari Blok M-Kuningan-Cawang-Slipi-dan
kawasan Monas.

Pada satu sisi, tender ulang frekuensi bakal menjadi pisau
bermata dua bagi pemerintah yang ketertiban dan resistensi
operator. Pada bagian lain, seberapa perlu dan tertariknya
pelanggan terhadap layanan 3G ini juga masih menjadi pertanyaan
besar dan tidak ada cara lain untuk membuktikannya kecuali
mencoba menjualnya secara komersial.

Tentu saja semua berharap, ribut-ribut di tingkat regulasi ini
akan berakhir dengan baik dan layanan 3G yang nantinya
dihasilkan bisa diterima dengan baik oleh para pelanggan. Sebab
bila sebaliknya, maka akan sia-sialah energi yang telah
dikeluarkan untuk urusan ini karena berakhir dengan pepesan
kosong.

Hery Trianto.

---
Anda perlu meeting room atau kantor sementara di Surabaya?
Tersedia ruangan dengan biaya ringan harian, lengkap meja
dan full ac. Hubungi: Office Center, Jl Pucang Anom Timur
I/19, tel. 031 5013570, fax. 031 5048504, Surabaya 60282.


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<!-- SpaceID=1705005512 loc=TM noad -->

--------------------------------------------------------------------~-> 

Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke