Operator CDMA Bisa Menyalip di Tanjakan? SEPERTINYA sudah sangat tidak mungkin untuk bisa menyaingi kiprah para operator telepon seluler GSM (Global System for Mobile Communication). Apalagi didukung dengan penguasaan operator GSM di dunia yang masih menguasai pangsa telepon seluler dunia.
BAHKAN iming-iming keunggulan teknologi dan lebih efisien tidak lalu secara otomatis mendongkrak pelanggan operator CDMA (Code Division Multiple Access), sehingga para operator pun berkesimpulan, bahwa para pemakai ponsel tidak lagi peduli dengan teknologinya, tetapi bagaimana mereka bisa memakai dengan mudah dan murah. Juga ketersediaan handset menjadi salah satu sebab mengapa GSM tetap dominan. Selain ketersediaan lebih luas, banyak variasi dan bergengsi, juga selalu muncul yang baru membuat orang tidak sempat lagi berpikir untuk beralih ke CDMA. Dengan kondisi seperti ini secara normal akan sangat sulit untuk bisa melampaui jumlah pelanggan GSM. Hanya keadaan yang tidak umum yang bisa memunculkan peluang, seperti seorang pembalap bisa mengambil kesempatan untuk mendahului di tikungan ataupun tanjakan. "Saat ini, di mana orang sedang ribut-ribut soal lisensi 3G (generasi ketiga telekomunikasi seluler-Red) bisa dimanfaatkan untuk mendorong CDMA masuk ke 3G," kata Harry K Nugraha, Director & Country Manager Qualcomm Indonesia di Jakarta. Qualcomm adalah perusahaan yang menggeluti produk-produk teknologi CDMA, selain juga WCDMA (wideband CDMA). Teknologi CDMA memungkinkan sebuah operator CDMA meningkatkan kemampuannya untuk bisa mencapai kecepatan sampai 3G dengan mengandalkan lisensi frekuensi yang dimiliki saat ini. Hal ini berbeda dengan jaringan GSM yang membutuhkan alokasi frekuensi lebih besar untuk bisa menyelenggarakan komunikasi 3G. "Dengan memiliki satu kanal dengan bandwidth 5 Mega Hertz dalam sistem CDMA bisa memiliki tiga carrier yang berbeda," tambah Harry. Dengan demikian, operator CDMA tidak perlu lagi meributkan soal penambahan pita frekuensi, tetapi dengan mengoptimalkan frekuensi yang ada. Saat ini para operator CDMA sudah menggunakan teknologi CDMA2000 1x yang secara teoretis bisa mencapai kecepatan sampai 150 kbps (kilobit per detik). Mereka itu selain Mobile-8, juga Esia, StarOne dari Indosat dan Flexi dari PT Telkom. DARI para operator CDMA ini sebagian sudah mencoba layanan 3G dengan teknologi yang disebut CDMA2000 1xEV-DO (Evolution Data Optimized). Selain Telkom melalui jaringan Flexi-nya, juga Mobile-8 sudah meluncurkan jaringan 3G. Hanya tampaknya sosialisasi layanan 3G ini kurang disosialisasikan sehingga kurang mendapat sambutan dari masyarakat. Apalagi jaringan CDMA yang lebih banyak diandalkan para pengguna internet sebagai pengganti saluran telepon tetap (fixed-line) pelanggannya masih sekitar seperempat pelanggan GSM. Peluang di tanjakan ini seperti juga kurang dimanfaatkan, bahkan operator GSM terbesar di Indonesia, yaitu Telkomsel mengklaim sudah berhasil mencoba jaringan 3G tepat pada saat berusia 10 tahun pada bulan Mei lalu. Dengan pelanggan sekitar 19 juta orang merupakan pangsa pasar lebih dari 50 persen di negeri ini hanya semakin mengokohkan kedudukannya di Indonesia. Untuk menanamkan citra penyelenggara telepon genggam nirkabel GSM ini sebelumnya juga menguji jaringan 23/4 G atau EDGE (Enhanced Data rate GSM) Evolution) dan layanan WiFi. Layanan yang sudah berjalan sebelumnya adalah GPRS (Global Packet Radio Service) yang dalam hal kecepatan sebenarnya masih lebih baik CDMA2000 1x. Operator GSM menjadi semakin kuat dengan hadirnya ponsel GSM yang memiliki fasilitas 3G WCDMA. Sehingga sekalipun kecepatan GSM tidak sampai 3G, namun tersedianya fasilitas akses WCDMA membuat pemilik ponsel GSM bisa mengakses 3G. Keuntungan lain dari ponsel GSM/WCDMA membuat pelanggan GSM bisa langsung menggunakan ponselnya ketika berada di Jepang. Sampai saat ini Jepang adalah negara yang selama ini tidak memiliki jaringan GSM, sehingga telepon GSM yang menguasai sampai tiga seperempat ponsel dunia tidak bisa digunakan. Persoalan ini sekarang sudah bisa diselesaikan dengan fasilitas roaming GSM melalui jaringan WCDMA. Seperti yang dicobakan Kompas pekan lalu ketika berada di Jepang, ponsel Motorola E1000 ataupun yang lebih murah C975 tanpa perlu setting baru bisa langsung digunakan, sama seperti ketika pertama kali menghidupkan ponsel seperti biasa. Dalam hal ini perusahaan pembuat ponsel berperanan besar dalam menyelamatkan operator GSM pada saat berada di sebuah tanjakan yang terjal. Dengan mencangkokkan kemampuan akses WCDMA pengguna ponsel GSM dalam waktu dekat juga akan bisa menikmati kecepatan 3G di negeri ini. Maka tidaklah mengherankan apabila operator CDMA tidak semuanya berhasrat untuk meningkatkan kemampuan sampai kecepatan 3G. Seperti PT Bakrie Telecom dengan produknya Esia, secara jelas-jelas tidak berminat untuk meningkatkan kemampuannya sampai 3G, tetapi lebih menyediakan akses murah. SOLUSI yang ditawarkan Esia tampaknya tidak terlalu muluk-muluk dan lebih menyediakan fasilitas telekomunikasi secara dasar. Tarif Rp 50 per menit untuk hubungan percakapan sesama pemakai kartu Esia merupakan andalan yang kurang diyakini pengguna ponsel. "Esia tampaknya memang bermain di kelas menengah ke bawah dan mereka konsisten untuk memberikan layanan murah," kata Harry melihat kecenderungan Esia. Sehingga untuk kelas menengah ke bawah paling tidak saat ini belum membutuhkan akses berkecepatan tinggi. Kelemahan yang selama ini ada pada Esia adalah kemampuan akses yang hanya bisa dilakukan dari beberapa kota saja, yaitu Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bandung saja. Selain itu ketersediaan voucer isi ulang juga lebih terbatas dibandingkan kartu lain selama ini sudah cukup menyulitkan. Bagi masyarakat dari kota-kota di atas memang menguntungkan, tetapi untuk mereka yang memiliki mobilitas tinggi akan sangat mengganggu. Namun, dengan penambahan jangkauan sampai 15 kota/kabupaten yang diresmikan Selasa kemarin di Balaikota Bogor, semakin memperluas jangkauan yang berarti meningkatkan mobilitas di tiga provinsi itu. Terutama dengan sudah berfungsinya fasilitas yang ada di Bogor merupakan kunci bagi Esia untuk meneguhkan kemampuan aksesnya dari kawasan Jabotabek. Maka tidaklah mengherankan apabila peresmian tambahan jangkauan dilakukan di Kota Hujan Bogor. Daerah lain yang bisa dilayani antara lain Cirebon, Serang, Cilegon, Purwakarta, Subang, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Kuningan, Indramayu, Majalengka, dan Sumedang. Di luar daerah Jabar, Banten, dan DKI Jakarta memang kartu Esia tidak bisa digunakan lagi, karena tidak tersedia jaringan. Inilah sebabnya, mengapa Esia bisa menerapkan tarif yang paling murah dari operator lain karena lisensi yang diberikan pemerintah hanya tingkat lokal. Namun, dengan tiga wilayah provinsi ini Presiden Direktur Bakrie Telecom, Anindya N Bakrie, yang mengelola Esia itu optimistis bisa memenuhi tiga juta pelanggan sampai tahun 2008 yang dibebankan pemerintah. Untuk layanan yang lebih luas di daerah lisensinya ini Bakrie berencana menambah belanja modal sampai Rp 1 triliun. "Mudah-mudahan Bakrie tidak hanya mengembangkan jaringan di daerah tumbuh saja, tetapi juga sampai ke pelosok-pelosok," kata Basuki Yusuf Iskandar, Direktur jenderal Pos dan Telekomunikasi dalam peresmian itu. Solusi murah ini tampaknya sulit disaingi operator lain, apalagi operator GSM. Hanya memang ketersediaan handset CDMA murah untuk pesawat yang bekerja pada frekuensi kerja Esia tidak banyak dan bahkan hal ini malah menimbulkan benturan dengan sesama operator CDMA. (aw subarkah) --- Anda perlu meeting room atau kantor sementara di Surabaya? Tersedia ruangan dengan biaya ringan harian, lengkap meja dan full ac. Hubungi: Office Center, Jl Pucang Anom Timur I/19, tel. 031 5013570, fax. 031 5048504, Surabaya 60282. Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
