Saluran Distribusi Industri Jasa Telekomunikasi

DALAM ilmu ekonomi modern penjualan bukan hanya adanya
transaksi antara penjual dan pembeli, tetapi ada yang namanya
produk, promosi, price (harga), dan placement (distribusi),
seperti teori ekonomi yang dikembangkan oleh Philip Kotler,
ekonom dari AS, yang lebih dikenal dengan 4P. Saat ini yang
coba kami bahas adalah distribusi produk di bisnis jasa
telekomunikasi, khususnya di Indonesia.

Pada awalnya industri telekomunikasi di Indonesia didominasi
oleh perusahaan jasa telekomunikasi milik negara (BUMN), yakni
PT Telekomunikasi Indonesia-lebih dikenal dengan nama PT
Telkom, bergerak di bisnis jasa telepon tetap atau PSTN-dan PT
Indosat yang bergerak dalam jasa sambungan internasional atau
SLI (lebih dikenal dengan kode akses 001). Dengan penjualan
produknya yang masih bersifat tradisional, di mana konsumen
datang dan mendaftar ke kantor-kantor cabang atau kantor
pelayanan PT Telkom, bahkan calon konsumen rela berlama- lama
bahkan hingga tahunan menunggu mendapatkan giliran sambungan
telekomunikasi di rumah atau di kantor dan ini berlangsung
hingga di akhir tahun 1980-an. Adapun Indosat memberikan
pelayanan sambungan langsung internasional menggunakan terminal
telepon PSTN Telkom.

Pada akhir tahun 1980-an industri telekomunikasi seluler sudah
masuk di negeri kita, yaitu telepon seluler analog, yang lebih
dikenal dengan AMPS, di mana penjualan masih terbatas di
beberapa kota besar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, dan
Sulawesi. Di pertengahan tahun 1990-an industri jasa
telekomunikasi seluler berbasis GSM memulai kiprahnya. Berawal
di kota Jakarta oleh perusahaan swasta, yakni PT Satelindo,
beroperasi secara komersial melayani jasa telepon seluler
berbasis GSM 900.

Akan tetapi, perusahaan ini belum melakukan saluran distribusi
dengan sebenarnya, justru melakukan penjualan di kantor
penjualan dan pelayanannya dengan metode pengadaan terminal
atau telepon selulernya sendiri (impor) dan dipaketkan dengan
kartu SIM GSM-nya.

Pertengahan tahun 1995 dua perusahaan jasa telekomunikasi pelat
merah atau BUMN PT Telkom dan PT Indosat beroperasi
bersama-sama di industri telekomunikasi mengembangkan
telekomunikasi seluler berbasis GSM secara komersial di Pulau
Batam dengan bendera PT Telkomsel. Perusahaan inilah yang
memulai mengembangkan saluran distribusi dengan open market
atau disebut dengan penjualan melalui saluran distribusi para
pedagang- pedagang seluler, di mana perusahaan ini hanya
mengeluarkan kartu SIM sebagai sarana telekomunikasi dan pihak
pedagang ponsel yang melakukan pengadaan terminalnya atau
ponselnya dapat mengimpor secara langsung (black market) atau
ponsel dari para agen tunggal pemegang merek (ATPM) yang
bergaransi, seperti Ericsson, Motorola, Siemens, dan Nokia.

Perusahaan Telkomsel mengembangkan industri seluler ini
merambah dari Pulau Batam ke Medan terus ke Bali, Surabaya,
Semarang, Bandung, dan kemudian masuk Jakarta pada pertengahan
tahun 1996. Sementara itu, pemain bisnis yang sama telah
beroperasi terlebih dulu masih mengembangkan network-nya di
Jakarta kemudian baru ke luar Jakarta.


>small 2small 0< di pertengahan tahun 1996 bisnis di industri
jasa telekomunikasi seluler mulai marak. Kalau kita lihat saat
Telkomsel masuk Jakarta dengan iklannya di stasiun TV swasta
dengan produk kartu HALO-nya bertebaran mulai dari Batam,
Medan, Bali, Surabaya, Bandung, dan kemudian Jakarta, yang
memenuhi jalan- jalan yang ada di seputaran Jembatan Semanggi
sebagai trademark-nya kota Jakarta serta gedung-gedung yang
ada di sekitar Jalan Sudirman.

Tahun 1997 datang pendatang baru di GSM, yakni perusahaan
swasta PT Exelcomindo atau lebih dikenal dengan XL, dengan
adanya tiga pemain seluler di GSM dan tujuh operator regional
untuk AMPS serta dengan meningkatnya aktivitas promosi yang
dilakukan oleh para operator yang gencar di stasiun-stasiun
televisi. Hal ini menyebabkan semakin bergairahnya bisnis di
industri telekomunikasi Indonesia dengan adanya open market
dalam penjualan produk kartu SIM GSM, maka dimulailah saluran
distribusi di bisnis jasa telekomunikasi seluler yang
berkembang hingga saat ini.

Berkembangnya saluran distribusi di industri telekomunikasi
seluler juga didukung oleh diluncurkannya produk kartu SIM GSM
perdana prabayar oleh salah satu operator pada akhir tahun 1997
kemudian diikuti oleh operator lainnya. Produk ini semakin
memudahkan para pengguna telepon seluler untuk dapat
menggunakan alat telekomunikasi ini karena tidak diperlukan
lagi pendaftaran ke operator untuk pengaktifan kartu SIM
GSM-nya.

Adapun untuk pengisian pulsa, dapat dilakukan secara langsung
oleh pengguna seluler dengan cara membeli voucher isi ulang
dari para pedagang seluler. Coba bandingkan dengan produk
pascabayar, di mana pelanggan disibukkan dengan harus melakukan
pengisian formulir berlangganan serta dalam pengaktifan
dibutuhkan waktu berhari-hari.

Dengan adanya produk prabayar telekomunikasi seluler ini, tidak
pernah kita bayangkan sebelumnya soal bisnis di industri
telekomunikasi yang terjadi sekarang ini, di mana banyak
bermunculan pedagang atau penjual alat telekomunikasi seluler,
baik itu di mal-mal mewah, pusat pertokoan, di pasar hingga di
pinggir jalan, di terminal, di stasiun, bahkan sampai di
kawasan perkampungan di pelosok negeri ini.

Bisa dibilang dalam satu dasawarsa atau dalam sepuluh tahun ini
bisnis jasa telekomunikasi seluler berkembang sangat pesat
walaupun negeri ini sempat mengalami krisis ekonomi yang
berkelanjutan serta pertumbuhan ekonomi yang belum sesuai
dengan yang diharapkan, tetapi bisnis di industri ini terus
berkembang hingga sekarang. Bisa kita perkirakan bahwa saat ini
sudah tercapai lebih dari 35 juta pelanggan jasa telekomunikasi
seluler, baik berbasis GSM maupun CDMA yang berkembang dalam
beberapa tahun terakhir ini.


>small 2small 0< distribusi di industri jasa telekomunikasi
seluler dalam satu dasawarsa mungkin sudah lebih dari 300.000
para pedagang yang terlibat di dalam industri ini, mulai dari
para distributor resmi dari operator, para grosir atau agen
sampai dengan pemain ritel di pusat-pusat handphone, di
mal-mal sampai dengan yang ada di pinggir-pinggir jalan.

Dan angka ini sudah hampir mendekati saluran distribusi yang
ada di industri minuman ringan, seperti teh botol Sosro dan
Coca Cola, dan di industri rokok. Saluran distribusi minuman
ringan dan rokok mereka sudah bergerak di bidangnya lebih dari
30 tahun, sedangkan di industri telekomunikasi seluler ini baru
satu dasawarsa. Hal lain yang cukup mengagumkan dalam industri
telekomunikasi seluler ini adalah tumbuhnya pusat-pusat
perdagangan handphone di kota-kota besar di Indonesia,
misalnya, Deli Plaza di Medan, Lucky Plaza Nagoya di Batam,
Minang Plaza di Padang, Supermall di Cilegon, ITC Roxy Mas dan
Cempaka Mas, Mal Ambasador di Jakarta, BEC di Bandung, Hartono
Plaza di Yogyakarta, dan WTC di Surabaya, serta mal-mal yang
ada di kota besar lainnya di Indonesia.

Penjualan SIM Card perdana pre-paid hanya berlangsung satu kali
selanjutnya, pelanggan harus membeli pulsa untuk melanjutkan
komunikasi mereka. Ada hal yang menarik perlu kita ketahui di
dalam bisnis ini adalah para operator mengeluarkan berbagai
macam jenis pulsa isi ulang, di mana untuk pulsa yang nilainya
rendah pelanggan atau konsumen rela membeli lebih mahal dari
nilai pulsanya, begitu sebaliknya dengan nilai pulsa yang
tinggi pelanggan atau konsumen dapat membeli lebih murah dari
nilai pulsanya.

Bahkan untuk paket perdana pre-paid operator mengeluarkan
paket, misalnya, senilai Rp 25.000 dengan pulsa senilai Rp
15.000 pelanggan dapat membeli lebih murah daripada nilai
pulsanya. Coba bayangkan apa yang terjadi pada awal tahun
2000-an, di mana konsumen atau pelanggan dapat membeli dengan
harga perdana pre-paid yang berlipat-lipat dari harga paket
yang dikeluarkan oleh operator. Adapun sekarang perdana dapat
diperoleh konsumen atau pelanggan dengan harga lebih murah dari
paket yang dikeluarkan oleh operator seluler ini.

Inilah yang terjadi di bisnis industri telekomunikasi seluler
yang berkembang saat ini bahwa faktor produk dan price akan
sangat berpengaruh terhadap saluran distribusi serta promosi
yang dilakukan oleh operator yang dapat meningkatkan penjualan
mereka. Tinggal para operatorlah yang pandai-pandai bermain
dalam industri ini. Teori pemasaran yang dikembangkan oleh
ekonom AS mengenai saluran distribusi (placement-nya) dapat
diterapkan di industri telekomunikasi seluler. Faktor
distribusi dan kebutuhan pelanggan (supply & demand) juga perlu
diperhatikan oleh para pelaku di industri ini agar para pelaku
di saluran distribusi yang berkembang begitu cepat ini dapat
terselamatkan karena menyangkut ratusan ribu, bahkan jutaan
manusia yang tergantung dalam industri ini. Bahkan pemerintah
atau regulator harus dapat membuat kebijakan yang tepat kepada
para pelaku di industri ini agar tetap terus tumbuh.

Lamsiir Eses Pelaku Telekomunikasi Seluler, Tinggal di Jakarta

---
Anda perlu meeting room atau kantor sementara di Surabaya?
Tersedia ruangan dengan biaya ringan harian, lengkap meja
dan full ac. Hubungi: Office Center, Jl Pucang Anom Timur
I/19, tel. 031 5013570, fax. 031 5048504, Surabaya 60282.


Visit our website at http://www.warnet2000.net 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke