Pengelola Warnet Khawatirkan Razia - Tak Ada Perintah Mabes Polri
Jakarta, Kompas - Menyusul adanya razia polisi terhadap warung internet (warnet) di Semarang dan Solo, para pengelola warnet di Jakarta dan Tangerang kini waswas. Sebagian dari mereka memang masih menggunakan peranti lunak bajakan, namun yang lebih mereka khawatirkan adalah munculnya oknum-oknum yang memanfaatkan situasi ini untuk keuntungan pribadi. Apalagi, ternyata tidak ada perintah dari Markas Besar Kepolisian Negara RI (Polri) untuk merazia warnet. Sampai sekarang belum ada perintah khusus untuk itu, tegas Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Soenarko D Ardanto, Rabu (22/6) di Jakarta. Jika di beberapa daerah ada razia, hal tersebut sepenuhnya merupakan inisiatif satuan wilayah setempat, apakah itu Kepolisian Resor (Polres), Kepolisian Wilayah (Polwil) atau satuan wilayah lain. Ia juga telah mengecek apakah benar ada razia itu di Semarang dan Solo. Namun, pejabat Kepala Polwil Kota Besar Semarang menyatakan tidak pernah ada razia. Karena ada informasi penyegelan, maka hal itu akan dicek ke jajaran di lapangan, ujar Soenarko. Ditegaskannya, langkah polisi harus selalu berdasarkan kaidah hukum. Jika ada polisi yang mengarah pada pelanggaran hukum, maka yang bersangkutan akan dijatuhi sanksi setelah ada bukti. Informasi dari milis Beberapa pengelola warnet yang ditemui mengatakan, mereka memperoleh informasi razia itu dari milis Asosiasi Warnet Indonesia (Awari). Terus terang kami khawatir, kata salah satu pengelola warnet, Roy Andes, yang membuka usahanya di sekitar Universitas Budi Luhur di Ciledug, Tangerang. Warnetnya yang mulai beroperasi tahun 2002 itu menggunakan peranti lunak bajakan yang ia perbanyak sendiri. Kalau setiap komputer harus menggunakan program-program yang asli, kapan balik modalnya, kata dia. Langkah serupa ditempuh pengelola warnet lainnya. Namun, ada juga pengelola yang rela mengeluarkan modal Rp 14 juta hanya untuk membeli sistem operasi Windows XP. Jumlah itu belum termasuk membeli produk Adobe, Symantec, jaringan, hingga sewa gedung. Kami khawatir dirazia polisi, sehingga membeli software yang asli, kata Syahrul Jamil, pengelola warnet di kawasan Jakarta Barat. Bila setiap hari warnetnya bisa dikunjungi 300-an pengunjung, modal usahanya diperkirakan akan tertutup setelah beroperasi lebih dari dua tahun. Itu kalau semuanya lancar. Usahanya yang dimulai dua bulan lalu, bermodal sebelas unit komputer dengan tarif sewa Rp 4.000 per jam. Pengelola lain di sepanjang Jalan Ciledug Raya yang tidak bersedia disebut namanya, mengungkapkan bahwa demi rasa aman ia mencoba menggunakan aplikasi open source Linux. Akan tetapi, pelanggannya ternyata jadi berkurang. Ia pun menyerah pada permintaan pasar yang lebih akrab dengan aplikasi Microsoft. Saya sempat bolak-balik migrasi Microsoft-Linux, tetapi berat juga. Dua komputer saya menggunakan software legal, empat lainnya terpaksa saya copy, karena mahal sekali, kata mantan karyawan perusahaan teknologi informasi itu. Usul solusi Para pengelola warnet mengusulkan ada paket khusus warnet agar usaha mereka tetap berlangsung dan perusahaan peranti lunak tidak merugi. Perusahaan peranti lunak jangan mematok harga per aplikasi per komputer, tetapi harga aplikasi per warnet. Itu lebih masuk akal, kata Roy. Harga jual aplikasi Microsoft Office sekitar 350 dollar AS, sedangkan sistem operasi XP Pro 140 dollar AS.(ADP/GSA) --- Anda perlu meeting room atau kantor sementara di Surabaya? Tersedia ruangan dengan biaya ringan harian, lengkap meja dan full ac. Hubungi: Office Center, Jl Pucang Anom Timur I/19, tel. 031 5013570, fax. 031 5048504, Surabaya 60282. Visit our website at http://www.warnet2000.net Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/warnet2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
